Header Ads Widget

Hebat !! Model Kemitraan Dalam Agrobisnis Jahe Oleh Kelompok Tani Napung Gula Lembor


UMPUNGJAYASIAR.COM

Aksi penanaman Jahe secara simbolis di Lingko Ambe/Foto RR


Bank BRI Unit Tangge dan KSP CU Florette bantu modal usaha Agribisnis Jahe di Desa Wae Mowol

umpungjayasiar.com, RUTENG. Petani Jahe yang bergabung dalam Kelompok Tani Agribisnis Jahe Napung Gula menyelenggarakan acara penanaman Jahe secara simbolis, Rabu (8/9/2021) di lokasi kebun Lingko Ambe, Desa Wae Mowol, Kecamatan Lembor.


Sebelum kegiatan penananam dilaksanakan, bertempat di Kantor Desa Wae Mowol, para Peserta diundang untuk mengikuti acara pembukaan penanaman simbolis yang diisi dengan acara, antara lain penerimaan peserta secara adat, perkenalan peserta dan sambutan-sambutan dari utusan lembaga-lembaga Keuangan, Direktur Caritas Keuskupan Ruteng, Wakil dari Kelompok Tani, Penggerak utama kelompok-kelompok tani agribisnis, Wakil dari 6 Kelompok tani di Desa Wae Mowol, Penyuluh Pertanian, utusan dari Kepolisian Sektor Lembor dan Pemerintah Desa Wae Mowol.


Alfonsius Suhardi Rudi, selaku pemandu acara dan juga sebagai salah satu penggerak masyarakat kepada peserta menyampaikan bahwa sambutan-sambutan yang disampaikan nanti bersifat motivatif dan juga peryataaan komitmen dari beberapa pihak untuk meneguhkan atau memperkuat semangat para petani tentang pilihan usaha bertani jahe secara organik dan bagaimana membangun kemitraan dengan lembaga keuangan, koperasi produsen serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk mendukung usaha pertanian sebagai sumber penghidupan yang menjanjikan di masa sekarang dan di masa depan.


Dia juga menyampaikan bahwa acara hari ini mau mempromosikan suatu model pendekatan kemitraan untuk memajukan usaha bertani jahe organik, dimana para petani harus bekerjasama saling menguntungkan dengan lembaga-lembaga keuangan dan Koperasi Produsen Karya Tani Mandiri Manggarai (KKM). Berharap lembaga-lembaga keuangan hadir untuk mengatasi “bombang”(tantangan) terkait tidak adanya akses kepada lembaga keuangan untuk modal usaha yang dialami oleh petani-petani selama ini. Sedangkan Koperasi Produsen Karya Mandiri Manggarai (KKM) diminta untuk menjadi pembeli utama dari jahe-jahe produksi petani.
Rinus, orang muda penggerak masyarakat


Apa yang kita lakukan hari ini tentu, tegas Alfons untuk mengatasi persoalan utama yang sedang kita hadapi, yaitu pendapatan dari sebagian besar keluarga petani di Desa Wae Mowol adalah rendah, padahal kita memiliki kekuatan yang luar biasa berupa sumberdaya alam tanah yang luas, air untuk pengairan tersedia sepanjang tahun, keterampilan pembuatan pupuk organik cair dan padat yang dilatih oleh Caritas Keuskupan Ruteng, semangat kerja sama dan kerja keras. Kita harus memanfaatkan kekuatan-kekuatan ini untuk mengisi peluang ekonomi sebagai dampak positip dari kemajuan pembagunan di bidang Pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat.


Sedangkan pada kesempatan yang sama, saat menyampaikan sambutan, Saverinus Akuila Ratu, seorang Penggerak masyarakat dan dikenal juga sebagai sukarelawan pemberdayaan social ekonomi di Desa Wae Mowol mengakui bahwa model kemitraan dalam pemberdayaan social ekonomi petani jahe merupakan satu strategi untuk mengatasi soal di tingkat rumah tangga petani, antara lain pengetahuan melek keuangan masih rendah, tidak ada akses permodalan kepada lembaga-lembaga keuangan, tidak memiliki keterampilan budidaya pertanian yang baik, jiwa petani yang tangguh belum ada, mental bantuan masih cukup kuat, terjadinya longsor, terjadi perubahan iklim dan mereka tidak mengetahui peluang atau permintaan pasar (pemasaran).


Selama ini, lanjut Rinus, saya dan beberapa teman penggerak mengembangkan suatu model diskusi khas manggarai, yaitu lejong mbaru dari keluarga-keluarga petani untuk bersama-sama mengidentifikasi persoalan-persoalan atau kelemahan, potensi dan merumuskan aksi nyata yang bisa menciptakan perubahan secara social ekonomi. Dari lejong-lejong (diskusi partisipatif) tersebut, selain menemukan beberapa kelemahan atau persoalan tadi, yang menarik adalah mereka, para petani sadar hal itu dan secara lisan mereka menyampaikan untuk memberi perhatian penuh pada pertanian, menjiwai pertanian sebagai cara untuk meningkatkan ekonomi dan menyelamatkan bumi melalui penerapan pertanian organik. Petani adalah pekerjaan mulia.
Foto Petani Jahe lembor
Aksi penanaman jahe bersama Komunitas Jahe


“Mengacu kepada persoalan-persoalan tadi, kami sebagai penggerak kemudian tidak tinggal diam, kami membangun kerja sama dengan Caritas Keuskupan Ruteng untuk meminta pelatihan terkait pertanian organik kepada petani-petani di Desa Wae Mowol. Lembaga ini melatih para petani tentang cara membuat pupuk organik cair (POC) dan padat (POP) menggunakan bahan baku lokal. Untuk mikroorganisme caritas memperkenalkan MOL (mikrooorganisme lokal) dari akar bambu untuk menggantikan EM4 yang banyak dijual di toko-toko Pertanian. Pertanian yang dikembangkan adalah pertanian ramah lingkungan, tidak merusak bumi. Kita semua bertanggungjawan merawat bumi ini demi masa depan anak cucu kita,”ungkap Rinus, yang saat ini masih menjabat Kepala Sekolah Dasar Katholik Wae Mowol.


Dia menambahkan setiap lejong dengan petani, kami membicarakan isu penting lain, yang harus diketahui oleh para petani, seperti tentang dampak perubahan iklim dan konservasi lahan dengan mempromosikan tehnologi Koservasi Tanah dan Air (KTA), sebab di desa Wae Mowol sering mengalami curah hujan yang tinggi dan terjadi longsor pada lahan dengan topografi miring.


Kerjasama dengan lembaga keuangan sangat peting, tegas Rinus sebab kita semua punya kesempatan yang sama untuk hidup baik namun kita kalah dengan orang yang memilik modal. Sehingga dengan bermitra dengan lembaga keuangan kita bisa mengisi peluang karena modal tersedia, tentu kita harus mandiri, punya tekad yang kuat untuk sukses, kerja keras dan tidak bergantung kepada bantuan-bantuan social dari Pemerintah, kita harus ikut memajukan kesejahteraan bersama, terus bekerja produktif tanpa bergantung terus menerus kepada bantuan-bantuan social.


Sedangkan, Fabianus Jumat, wakil dari kelompok tani Agrobisnis, mengatakan beralihnya usaha tani petani-petani di 6 kelompok tani di masa pandemic covid-19 dari sawah ke usaha sayur-sayuran dan jahe organik untuk menyikapi kebijakan Pemerintah yang sedang membangun irigasi di areal persawahan lembor.


Selama pembangunan irigasi tentu, kata Fabi petani-petani pasti mengalami kehilangan pendapatan atau penghasilan sehigga ketika Rinus selaku penggerak social, Pembina kelompok tani, mengajak kami bergabung ke dalam komunitas bisnis untuk berusaha sayur-sayuran dan jahe secara organik, kami setuju. Selain itu, keputusan membentuk komunitas bisnis merupakan langkah konkrit untuk mengatasi persoalan saat ini dimana tidak sedikit orang muda tamatan Universitas di Desa Wae Mowol menganggur atau tidak punya pekerjaan tetap. Diharapkan dengan gerakan bersama ini sumber daya alam berupa lahan-lahan yang luas bisa dimanfaatkan, ditanami komoditi sayur--sayuran, jahe sebagai sumber pendapatan utama orang-orang muda ke depan.

Foto petani jahe lembor
Pertemuan komunitas jahe di Kantor Desa



“Selain bicara tentang bisnis kami juga dalam setiap kesempatan lejong mbaru (diskusi) membicarakan tentang spiritulitas dalam pertanian dimana kami sebagai petani harus menjaga ciptaan Tuhan berupa tanah dan segala isinya dengan menerapkan pertanian organik. Berorganik merupakan cara kita menjawab perintah Tuhan untuk merawat Bumi, sehingga ada komitmen dari kami dalam komunitas untuk tidak boleh lagi menggunakan bahan-bahan kimia di lahan pertanian sehigga brand desa kami nanti adalah Desa Organik,”ungkap Fabianus, ayah dari 3 orang anak ini.


Lebih lanjut, dia berharap pada bulan Juni 2022 kami memanen jahe pada lahan seluas 5 hektar di lingko Ambe dengan taksasi produksi dari setiap 7 kg benih yang ditanam menghasilkan 70 kg jahe berkualitas organik sehingga utang kami kepada lembaga keuangan KSP CU FLorette, BRI unit Tangge,dan KSP CU Kopkardis langsung dibayar semua pokok pinjaman sedangkan bunganya dibayar regular setiap bulan selama 1 tahun ke depan. Kami bersyukur dan sangat berterima kasih kepada ketiga lembaga keuangan ini yang memberi pinjaman murah atau rendah dan menguntungkan kami petani pemula dalam mengembangkan agribisnis.


Untuk mencapai hal ini, kata Fabi dosis pupuk organik diberi ke dalam tanah dengan dosis standar sedangkan secara kelembagaan setiap bulan komunitas lejong kami ini, bertemu untuk berdiskusi membahas kendala-kendala tehnis di lapangan dan jika ditemukan maka kami akan berkoordinasi dengan Yayasan Ayo Indonesia, Caritas Keuskupan Ruteng serta browsing di internet untuk mengatasinya. Mengatasi hal-hal tehnis pertanian di era digital saat ini sangat gampang dan murah, yang paling sulit adalah menyakinkan petani bahwa pertanian itu sendiri bisa menjadi penopang ekonomi keluarga. Menjaga kekompakan juga tidak mudah, namun kami optimis atas kesungguhan dari Pak Rinus selaku Pembina yang sabar, tekun untuk mengajak masyarakat berdiskusi dan memiliki jiwa kepemimpinan.


Richard Roden, Pengurus KSP CU FLorette dan Elias Gudi, Kepala BRI Unit Tangge senada bahwa peran lembaga keuangan, baik BRI maupun Koperasi Kredit adalah untuk pemberdayaan dan penyediaan modal.
 
Foto petani Jahe
Petani Jahe di Kampung Beci Lembor


Untuk diketahui peran KSP CU FLorette selama ini dalam mendukung petani agribisnis Jahe organik dalam kelompok Napung Gula adalah membantu penyediaan 2 ton benih jahe yang dibeli di anggota KSP CU Florette di Kampung Mbohang, Kecamatan Lelak, kemudian bersama Yayasan Ayo Indonesia memfasilitasi kunjungan belajar petani dari kelompok Napung Gula ke Petani Jahe di Kampung Werong, Kecamatan Lelak dan mengajarkan anggota kelompok tentang melek keuangan.


Pada akhir sambutannya Richard meminta para petani untuk memanfaatkan setiap jengkal tanah ditanami komoditi pertanian untuk menghasikan uang, meningkatkan ketahanan ekonomi dan mencegah penjualan tanah kepada Para Pemodal seperti yang sedang marak terjadi saat ini.


Sedangkan Romo Beben Gaguk, Pr, Direktur Caritas Keuskupan Ruteng mengungkapan bahwa selama ini, lembaganya melatih petani-petani di Desa Wae Mowol tentang petanian organik, cara membuat pupuk organik padat dan Cair serta Mikroorganisme Lokal (MOL), tujuannya untuk menciptakan kemandirian petani dalam menyediakan saran produksi, merawat bumi, sebab bahan baku berasal dari sumber daya di sekitar mereka. Hampir semua anggota kelompok telah terampil membuat Pupuk organik padat dan cair dan mereka menggunakannya di lahan tanam sayur-sayuran. Peran Caritas, tegas Romo Beben dalam pemberdayaan social ekonomi adalah membangun kapasitas petani (capacity building) terkait pertanian organik.

Divisi Publikasi : Rikhardus Roden Urut






Model Kemitraan dalam pengembangan Agribisnis Jahe : Bank, Koperasi Kredit, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Kelompok-kelompok Tani

Lejong Mbaru adalah cara mengubah pola pikir

Bersama-sama melihat soal dan bersama-sama pula mengatasinya




Lingko Ambe, Desa Wae Mowol/Foto RR









Kopi Widang Ciar



Mesin cetak batoko cepat



Mesin kupas kemiri









Posting Komentar

0 Komentar