Header Ads Widget

Perubahan Iklim, Jadi Penyebab Kehilangan Penghasilan Dialami Oleh Petani Dan Pedagang


Menjelaskan literasi keuangan



Perjalanan dari Ruteng menuju Kampung Nelo, Desa Golo Ngawan, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur cukup melelahkan, hampir 4 jam kami harus duduk dalam mobil Ford Double Cabin keluaran Tahun 2002 untuk mencapai kampung itu. Lamanya perjalanan bukan lantaran mobil Ford telah berusia tua yang kami tumpangi, tetapi kondisi jalan menuju ke sana terlihat jelas dalam keadaan rusak berat, sehingga sopir memilih kecepatan maksimum 20 km per jam untuk kenyamanan dia dan para penumpang.

Baca juga :  Perubahan Iklim dan Kehilangan penghasilan dari para petani kecil di Perdesaan




Kondisi jalan di Kecamatan Lamba Leda


Ketika melewati pertigaan Bangga Rangga, Jalan berlubang menganga dan got yang tak terawat menjadi pemandangan selama perjalanan itu. Kondisi jalan seperti ini, hampir tidak berbeda dengan situasi sekitar tahun 1990-an, sehingga tidak mengherankan jika oto kol sebutan truk kayu masih saja bermuatan karung sekam padi di atas atapnya, untuk bisa lolos dari jebakan lumpur licin yang menghalangi roda untuk bergerak maju di jalan yang rusak berat tadi.


Got yang terawat dengan baik, di bagian sisi kiri dan kanan jalan sangatlah penting dan mutlak agar air tidak mengalir ke badan jalan untuk memperpanjang usia jalan, ingat!musuh dari jalan adalah air. Kalau kondisi jalan bagus, diaspal hotmix ataupun aspal biasa lama perjalanan cuma memakan waktu 1 jam ke kampung Ntaram.

Duduk selama 4 jam dalam mobil dengan kondisi jalan yang demikian tentu melelahkan secara fisik dan mental, beruntung lagu-lagu dari nyong ambon yang diperdengarkan selama perjalanan mampu membunuh rasa lelah itu. Namun dalam benak muncul pertanyaan Kapan jalan ini akan diperbaiki? Mengapa kondisi jalan rusak belum berubah?

Ketika masuk kampung colol, rasa letih ditambah suasana hati yang tidak menyenangkan akibat menyaksikan dan melewati jalan yang berlubang cukup dalam berangsur-angsur pulih meski tetap terasa, pandangan mata saya tertuju kepada buah kopi kolumbia kuning yang tampak ranum siap panen, buahnya bernas, berwarna kuning terang laksana emas yang menggantung dengan kuatnya pada tangkai buah. Dengan harga jual per liter di atas Rp 20-an ribu tahun ini menjadi berkah bagi pemilik kopi, tinggal kalkulasi, seberapa banyak rupiah yang pasti masuk ke kantong para pemilik kopi dan juga buruh petik.

Di sepanjang jalan, kami melihat bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak muda berbaju kaos oblong dengan menggunakan alat petik kopi sederhana terbuat dari kayu sedang berusaha menarik pohon kopi setinggi kurang lebih 2.5 m ke arah bawah agar si pemetik dapat dengan mudah mengambil buah kopi merah dan kuning pada tangkai buah, membiarkan buah yang masih hijau tetap menyatu dengan tangkai kemudian dimasukkan ke dalam keranjang yang digantung tepat dibagian perut dari para pemetik.



Kopi arabika

Baca juga : 
Kita diingatkan akan bahaya dari Perubahan Iklim..

Ketika berpapasan dengan kami dalam mobil yang sedang berjalan agak pelan, kecepatan 20 km per jam, mereka melemparkan senyuman khas, ekspresi keramahtamahan ala orang manggarai, ini dibaca sebagai ungkapan rasa hormat dan juga menunjukkan rasa bahagia sebab kopi arabika yang sudah mulai ditanam di colol tahun 1923 itu saatnya dipanen, hari itu, adalah waktu yang tepat kopi ranum merah dan kuning dipisahkan dengan tangkainya demi menghasilkan produk kopi berkualitas, disukai para peminum kopi (pasar) baik di pasar dalam Negeri maupun di Manca Negara yang sudah terlanjur jatuh hati pada kopi arabika dan robustu colol. Konsumen memang beralasan untuk mulai fanatik minum kopi arabika dari kampung colol, sebab cita rasa kopi arabika itu setelah diuji selalu mendapat nilai excellent (baik sekali). Buah kopi berwarna merah dan kuning itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi akan menghasilkan lembaran rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup dari para pemetik dan pemiliknya.
Kemudian kami bergerak meninggalkan colol masih dengan kecepatan yang sama dan tibalah di kawasan hutan Watu Nggong yang termasuk ke dalam wilayah perlindungan dari Balai KSDA, seperti biasa, secara spontan bola mata bergerak bebas untuk melihat-lihat kawasan di sekitarnya, sekali lagi keheranan akan situasi yang berbeda muncul, membandingkan antara kondisi dulu dan sekarang, kemana perginya pohon-pohon besar endemik di kawasan itu, mati kekeringan kah? Apakah sudah dibabat orang? Tetapi semakin mendekat, kami melihat ada beberapa pondok beratap seng di sana, terlihat ada onggokan papan dan balok di dekat pondok-pondok itu? Hutan itu telah berubah wajahnya, dulu tampak indah bentangan alamnya (landscape), ada pohon-pohon besar sebagai habitat beberapa jenis burung dan biasanya, suara kicauan burung- burung endemic tersebut terdengar hingga di jalan. Sekarang pohon-pohon besar hilang, burung-burungpun terpaksa bermigrasi entah ke mana, habitat mereka telah rusak. Kenapa orang-orang menebangnya? Kenapa mereka masuk ke dalam hutan itu, bukankah kawasan itu sebagai sumber air minum dan irigasi untuk Wilayah Manggarai dan Manggarai Timur? Persoalan di masa depan yang mungkin akan terjadi adalah berkurangnya keanekaragaman hayati dan kelangkaan air, baik untuk minum maupun guna mengairi sawah dan lahan budidaya sayur-sayuran. Sebagai masyarakat hanya bisa bertanya kenapa orang-orang itu dibiarkan masuk ke dalam kawasan hutan? Lalu berpikir, apa tidak sebaiknya masyarakat diberi kesadaran tentang menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan cara merawat hutan, jika alasan masuk hutan karena ingin mendapatkan tanah yang banyak humus maka mereka harus didorong untuk menyuburkan lahan tidur yang banyak terdapat di sekitar wilayah Watu Nggong. Tehnologi-tehnologi untuk menyuburkan lahan kritis tersedia di media online.


Lejong (diskusi) dengan 10 orang warga kampung Nelo di Kantor Desa Golo Ngawan.


Tim dari Yayasan Ayo Indonesia beranggota 4 orang melakukan wawancara kepada 10 orang warga desa Golo Ngawan,Senin (31/5/2022) bertempat di kantor desa untuk menyelisik lebih mendalam tentang apa dampak dari perubahan iklim di tingkat komunitas khusus di Desa Golo Ngawan, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur dan apakah masyarakat mempunyai kapasitas untuk bisa beradaptasi dan bertahan dalam situasi perubahan iklim? Untuk meningatkan kita kembali bahwa berdasarkan hasil kajian dari PPN/BAPPENAS, Kabupaten Manggarai Timur menjadi kabupaten super prioritas untuk melaksanakan aksi pembangunan berketahanan iklim, sebab perubahan iklim yang sedang terjadi di daerah ini akan berdampak kepada penurunan hasil padi. Fakta tentang telah terjadinya penurunan hasil padi di Kabupaten Manggarai Timur menegaskan kepada kita bahwa perubahan iklim telah berdampak pada sektor pertanian pangan. Pada pertemuan sebelumnya, Benyamin Dansis, Kepala Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Bencana Pertanian dan Perizinan Pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, berdasarkan data produksi padi pada periode tahun 2019-2021, menyatakan bahwa produksi padi telah menunjukkan kecenderungan menurun, sebesar 18,24 % (23‘981 ton), dari 131‘492,40 ton turun ke angka 107‘510,45 ton. Penurunan produksi padi disebabkan oleh persoalan kekeringan, tidak terairinya puluhan hektar sawah akibat dari saluran irigasi yang jebol pada saat hujan dengan intensitas tinggi dan serangan hama.



Kopi Robusta


Musim kemarau semakin panjang (8 bulan), sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan air untuk lahan sawah tadah hujan. Menurut pengakuan peserta wawancara, yang menggantungkan sumber pangan beras mereka dari sawah tadah hujan, bahwa musim hujan tidak teratur lagi waktunya, 10 tahun lalu mereka bisa memastikan waktu tanam padi di lahan sawah tadah hujan, biasanya bulan November karena hujan sudah turun setiap minggu, namun sejak 5 tahun lalu berubah waktu tanamnya, kadang-kadang dilakukan pada akhir nopember, pertengahan Desember bahkan bisa undur tanam ke bulan januari. Keputusan terkait waktu tanam memang tergantung pada musim hujan. 

Namun mereka tidak tahu lagi kapan sebaiknya menanam dimana air cukup tersedia, yang terjadi selama ini mereka menaman padi di sawah tadah hujan dengan mereka-reka saja bahwa hujan akan turun pada bulan nopember.


Adapun Hujan tipuan dan jeda musim sering terjadi pada bulan nopember dimana untuk beberapa hari hujan turun dengan derasnya, air cukup tersedia untuk pertumbuhan padi, akan tetapi setelah itu hujan tidak turun untuk jangka waktu yang cukup lama bahkan hingga januari, pertumbuhan vegetatif padi tidak normal, sehingga tidak heran jika hasil padi yang dipanen pada bulan April, biasanya berkisar 5 – 6 karung turun menjadi 3 karung, sawah tadah hujan hanya ditanam 1 kali dalam setahun. Hujan tipuan didefinisikan hujan yang hanya terjadi satu atau dua hari ada awal musim hujan dan kemudian diikuti oleh hari tidak hujan selama beberapa hari sehingga menggagalkan kembali yang sudah ditanam (Moron et al.,2009). Sedangkan jeda musim mengambarkan suatu kondisi dimana pada musim hujan terjadi hari tidak hujan selama musim hujan selama beberapa hari berturut-turut (deret hari kering yang panjang) sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman tanaman atau bahkan bisa menggagalkan panen.

Kemudian pertanyaannya, apakah hasil padi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Jumlah anggota KK berkisar 4-5 orang dalam 1 KK. Padi dari sawah tadah hujan ternyata hanya dapat memenuhi kebutuhan beras hingga bulan Juni, sedangkan mulai bulan July hingga April mereka membeli beras di Watu Nggong, rata-rata 1 karung tiap KK per bulan dengan harga beli Rp 550.000.

Husni Sandur, Petani dari Kampung Melo, Desa Golo Ngawan


Pendapatan mereka bersumber dari hasil kopi robusta, cengkeh, kakao, bekerja sebagai buruh tani dan bangunan. Hasil wawancara menemukan fakta bahwa 5 tahun terakhir ini hasil kopi cenderung menurun sebesar 40 persen, sedangkan Cengkeh sudah 2 tahun tidak berbuah. Husni Handur, 65 tahun, salah satu petani yang diwawancara menceritakan kurang lebih 5 tahun terakhir musim hujan tidak tentu atau tidak teratur lagi dari biasanya, pengalaman selama ini, jika ada hari hujan pada bulan Agustus dan September maka kopi robustas berbunga dengan lebatnya sebab hujan dapat merangsang pembentukkan bunga kopi. Tidak turunnya hujan pada bulan Agustus dan September diduga sebagai salah satu penyebab menurunnya hasil kopi. Para Petani telah mengalami kehilangan penghasilan dari tanaman perdagangan terutama kopi dan cengkeh sebagai dampak dari perubahan iklim sehingga daya beli mereka juga menurun.

Tika Muansa, 22 tahun pedagang pakaian keliling adalah salah satu yang terkena imbas dari situasi ini, omsetnya menurun sehingga dia memutuskan untuk tidak melanjutkan usahanya ini. Padahal selama ini, hasil dagangannya lumayan, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.



Tika Muansa


Meski mengalami situasi yang demikian, mereka tetap bertahan dan terus berjuang meningkatkan penghasilan dengan cara bekerja sebagai buruh tani dan bangunan. Selain itu, mereka beruntung karena masih menerima bantuan sembako dan uang tunai dari Pemerintah melalui Program PKH, serta Bantuan Langsung Tunai dari Pemerintah Desa.

Penulis : Rikhardus Roden Urut



Segelas Kopi Arabika produksi KOPSEN KKM, Karya Mandiri Manggarai.

Posting Komentar

0 Komentar