Header Ads Widget

Renungan Harian KATOLIK : Marilah kita menjadi orang yang terbuka kepada siapa saja.


KHOTBAH HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS, RASUL
Rabu, 29 Juni 2022
Kis 2: 1-11; Tim 4: 6-8.17-18; Yoh 16: 13-19

Rasul Petrus dan Paulus dirayakan bersama-sama, sejak tahun 258 Masehi. Mengapa keduanya dirayakan bersama-sama? Keduanya memiliki jasa besar terhadap Gereja. Mereka adalah batu fondasi Gereja yang kokoh yang dipilih oleh Yesus sendiri. Di atas mereka Gereja terus bertumbuh dan berkembang sampai sekarang. Keduanya sama-sama menjadi martir di Roma. Mereka dikuburkan di tempat mereka menjadi martir. Petrus di Vatikan, kuburnya berada persis di bawah altar Basilika Santo Petrus. Sedangkan Paulus mati di jalan Ostiensis, kuburnya berada di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok batas kota Roma dan kota-kota sekitarnya.

Intinya, mereka berdua adalah sosok penting yang saling melengkapi dalam tugas mewartakan Kerajaan Allah. Salah satu buah perjuangan mereka yang paling berarti adalah Gereja menjadi amat terbuka dan membuka diri bagi segala bangsa di seluruh dunia.

Karena itu, salah satu nilai penting yang mereka letakkan bersama-sama sebagai fondasi Gereja adalah nilai unitas dan nilai universalitas, yaitu nilai kesatuan dan nilai keterbukaan Gereja terhadap segala bangsa. Dalam bahasa Santo Yohanes Paulus II, nilai utama yang mereka temukan dan hasilkan adalah communio dan missio, persekutuan dan perutusan. Tidak ada perutusan atau misi ke luar kalau tidak persekutuan. Sebaliknya juga tidak persekutuan tanpa perutusan. Persekutuan menjadi tertutup dan tidak berkembang kalau tidak ada perutusan.

Dalam dua dimensi ini, Petrus menjadi pemegang otorita tertinggi untuk membangun dan mempertahankan unitas atau persekutuan dan persatuan Gereja. Dia adalah Tiang utama atau batu penjuru yang mengikat satu semua elemen atau komponen Gereja, sehingga Gereja tidak terpecah belah dan tercerai berai. Mandat ini dia terima dari Kristus sendiri sebagaimana kita dengar dalam Injil hari ini: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Jemaat-Ku, dan alamat maut tidak akan menguasainya. “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga” (Mat 16: 18-19).

Petrus adalah wadas atau batu karang yang kokoh kuat, tahan angin dan badai. Dia wadas yang tahan guncangan dan tahan banting. Inilah kedudukan Paus sepanjang zaman di Roma yang berjalan mantap dari zaman ke zaman sampai sekarang. Posisi atau jabatan ini sekarang berada dalam diri Paus Fransikus.

Sedangkan Paulus adalah penggerak atau pelopor misi ad extra atau misa keluar. Dialah adalah seorang misionaris ulung yang berjalan tanpa kenal lelah untuk mewartakan Injil dan untuk memperluas Kerajaan Allah kepada segala bangsa di seluruh dunia, mulai dari wilayah-wilayah berbahasa Yunani. Misi ini lahir dari perintah Kristus sendiri: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28: 19). Ia melakukan misi ini dengan mencurahkan darahnya “sampai garis akhir” (2Tim 4: 7).

Dari perayaan dua Rasul besar ini, ada dua pesan bagi kita

Pertama, hendaklah kita sebagai orang katolik memelihara dan mempertahankan persatuan dan kesatuan di dalam Gereja, mulai dari lingkungan paling bawah keluarga, wilayah, paroki dan keuskupan sampai tingkat paling atas, yaitu dengan Paus pengganti Petrus di Roma. Ikatan persatuan dan kesatuan ini tidak boleh putus melalui loyalitas atau kepatuhan iman, harap dan kasih kepada Tuhan dan kepada Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Kedua, hendaklah kita menjadi orang yang terbuka bagi semua orang untuk menjadi saksi Kristus dan Injil-Nya kepada siapa saja dalam hidup dan karya kita.

Nasrudin berdiskusi dengan hakim kota. Hakim memulai: “Seandainya setiap orang mematuhi hukum, pasti aman ”. Terus Nasrudin berkata: “Bukan manusia yang mematuhi hukum, tetapi hukum harus disesuaikan dengan kemanusiaan. Hukum harus mematuhi kemanusiaan.” Kata hakim: “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Tuan. Kalau Anda, memilih harta kekayaan atau kebijaksanaan.” “Tentu, saya memilih harta kekayaan.” “Memalukan, Anda seorang cendikiawan memilih kekayaan daripada kebijksanaan.” “Kalau pilihan Tuan sendiri, apa?” Tanya Nasrudin. “Tentu saya memilih kebijaksanaan.” Nasrudin menutup: “Terbukti semua orang memilih untuk memperoleh apa saja yang belum dimilikinya” .

Keterbukaan dalam pergaulan dengan orang baru adalah suatu kebijaksanaan untuk mendapat hal-hal baru dalam hidup. Itulah sumber kekayaan rohani hidup kita. Kita belajar banyak hal baru, apabila kita terbuka kepada orang lain dalam hidup ini. Marilah kita menjadi orang yang terbuka kepada siapa saja.

Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng






Posting Komentar

1 Komentar