Header Ads Widget

Pojok KITAB SUCI : Antara Sibuk dan Duduk di bawah Kaki Tuhan: Di Manakah Posisi Kita?

Antara Sibuk dan Duduk di bawah Kaki Tuhan: Di Manakah Posisi Kita?

(Bacalah Lukas 10:38-42)

“Tuhan memberi saya ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat saya ubah; keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa saya ubah; serta kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya”
(Doa Ketenangan)


P. Kons Beo, SVD

Sibuk versus Hening

Sibuk dan banyak aktif. Itulah gaya hidup masa kini. Gerak dan berpindah, misalnya, adalah ungkapan nyata betapa manusia merasa masih berarti dalam hidup. Sebab hidup yang aktif itu dihubungkan dengan pencapaian hasil-hasil yang nyata. Itulah hidup yang berbuah. Amat mudah memperlihatkan hasil kerja nyata kepada sesama dan dunia sebagai hasil dari kesibukan.

Dunia yang sibuk ini tentu mempersoalkan alam hening yang ternilai ‘pasif.’ Alam sunyi dihakimi sebagai ketakberdayaan tanpa harapan. Satu alam dan sikap hidup yang ‘jauhkan diri’ dari tanggungjawab untuk menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya. Saat manusia masuk dalam alam sunyi dan kontemplatif, ia dinilai sebagai pengkhianat dari seluruh kenyataan dunia yang sebenarnya.

Ora et Labora (St Benediktus) terkadang terasa janggal untuk dilihat sebagai perpaduan gerak hidup aktif dan kontemplatif yang asrih. Sebab itu jika hendak fokus pada pekerjaan, maka tetaplah beratensi pada kerja itu. Apalagi saat masih merasa segar bugar. Masih terhitung di usia produktif.

Diam, sunyi, doa, meditasi atau kontemplasi adalah ekosistem hidup usia pensiun, dan dianggap punya banyak waktu untuk berdiam diri di hadapan ‘kaki Tuhan dan mendengarkan Dia.’ Tetapi, apakah sungguh demikian dalam keyakinan dan spirit hidup kristiani?

Saling Melengkapi

Kenyataan batinia manusia memperlihatkan satu kenyataan hidup. “Hidup mistik dan aktivis adalah satu ziarah nyata hidup manusia yang saling melengkapi.” Itu berarti alur kesibukan mesti itu bertolak dari satu keheningan batin yang teduh.

Keteduhan batin mesti menjadi ajang yang sehat untuk menerawang secara sehat pula kenyataan hidup dari setiap pengalaman yang dihadapi. Jika tidak, alam hening nan sunyi bisa menjadi ‘kosong oleh segala mimpi dan halusinasi tak bertumpuh pada dunia nyata.’

Dapat dibayangkan pula andaikan kesibukan itu telah jadi satu kegaduan hidup tanpa jedah. Dunia yang sibuk, tanpa jedah serta senantiasa ‘melaju’ itulah irama dan gaya hidup masa kini. Tidakkah situasi seperti ini berimbas pada apa yang disebut sebagai ‘tabrakan dua alam batin dalam diri manusia.’ Artinya, ‘manusia bisa nampak sibuk, tetapi sebenarnya ia kehilangan satu orientasi hidup yang sebenarnya dan seharusnya; kesibukan tak berarah telah jadi alam yang mencekam.

Di sisi lain, sekali lagi, alam sunyi sungguh menjadi asing, meletihkan dan membosankan. Sebab, ia sama sekali tak terhubung pada situasi dan kondisi nyata yang dihadapi. Hal ini semakin menjadi-jadi saat meditasi atau kontemplasi direduksi sebagai ‘gairah membuka pintu tabernakel untuk memandang Tuhan lebih jelas, namun pada saat yang sama menutup rapat-rapat semua jendela dan pintu gereja.’

Berkontemplasi pada ‘Marta dan Maria.’

Marta dan Maria adalah bersaudara dalam satu rumah! Segala alam hidup mereka berdua sepantasnya ditanggap sebagai satu ‘kesatuan dalam persaudaraan.’ Sebab itulah “sibuk melayani” dan “duduk di dekat kaki Tuhan dan mendengarNya” (cf Luk 10:39-40) bukanlah dua alam dunia yang saling mengasingkan! ‘Sibuk melayani dan duduk di kaki Tuhan’ adalah ‘bersaudara’ dalam rumah dunia ini.

Sebab itulah, marilah kita berbuah dalam kehidupan nyata, sambil terus berakar pada ‘kaki Tuhan.’ Sejenak menciptakan jarak dari dunia tidaklah sekedar ditangkap sebagai ‘fuga mundi nan ekstrim.’ Kita memang mesti jedah sejenak demi menampung kekuatan dan semangat baru. Dan dari situ, kita lanjutkan perjalanan dan segala kesibukan dunia dalam semangat baru pula.

Di titik lain pula, dunia tidak hanya berubah hanya karena segala giat, potensi serta modal yang dimiliki. Tak hanya itu. Tidakkah dunia yang berkembang dan berubah secara benar, bertolak dari ‘forum internum’ alam batin yang kreatif? Apa yang berubah dalam kebaikan, kebenaran dan keindahan, yakinlah, pasti berakar dari ‘alam kesenyapan serta keheningan’ dalam mendengarkan Tuhan. Iya, yang bisa diungkapkan sebagai alam ‘kesetiaan duduk di bawah kaki Tuhan.’


Menemukan Makna

Dengan itu, apa yang menjadi kesibukan menemukan maknanya yang benar. Apa arti kesibukan yang berujung kemajuan dan perkembangan fisik, namun ia kehilangan nilai kemanusiaan? Dalam rana praktis, orang bisa saja sibuk, tetapi syukurlah ia bisa kembali pada alam kekeluargaan. Saat duduk bersama dengan cerita seadanya menjadi kekuatan dan inspirasi untuk kembali sibuk.

Tetapi dalam dunia yang sekian modern ini, akibat sebuah gerak kerja keras, manusia bisa saja merasa kehilangan akan dirinya sendiri. Menjadi manusia tanpa sandaran batin, tiada kekuatan hidup yang sebenarnya. Kita memang harus menjadi manusia sibuk. Tetapi, semuanya sepatutnya bertolak dari alam batin kita dalam Tuhan.

Dari situlah, kita dapat menangkap suara yang lemah dan bahkan yang tak bersuara sekali pun; kita pun sanggup menangkap ratapan dari hati penuh kecemasan. Dan pada titik inilah, kita segera tahu bahwa sesungguhnya itulah suara diri kita sendiri, yang terungkap dari dalam diri sesama.

Akhirnya…

Dan pada akhirnya kita sadari bahwa kesibukan tanpa ‘bersimpuh pada kaki Yesus’ itu ibarat sebuah ‘perjalanan asal ramai dan sumpek. Tanpa pernah tahu, ke arah mana kaki ini melangkah, dan di manakah sebenarnya titik yang hendak dituju itu.’

Sebab itulah, mari pulang dan setialah selalu untuk ‘duduk di bawah Kaki Yesus, Tuhan dan Guru semua kita.’ Setidaknya ‘janganlah terlalu sibuk sekian sampai, misalnya, tak pernah tahu lagi: Hari Ini Adalah Hari Minggu….



Tuhan memberkati



Verbo Dei Amorem Spiranti

Posting Komentar

0 Komentar