Header Ads Widget

Renungan HARIAN KATOLIK; HIDUP ini sungguh adalah ziarah 'kehilangan diri kita sendiri' dalam Tuhan

Rabu, 14 September 2022 (Pekan Biasa XXIV, Salib Suci)
Bacaan I Bilangan 21:4-9
Mazmur Tanggapan Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38)
Bacaan II Filipi 2:6-11
Injil Yohanes 3:13-17

"Sebaliknya IA telah mengosongkan Diri-Nya.." Flp 2:7

(Sed semetipsum exinanivit....)


Baca juga yang ini; Renungan HARIAN KATOLIK; SEBAB itu hadapi hidup ini dengan penuh harapan dan semangat

SEGALANYA telah IA miliki. IA mengatasi apapun di surga dan di bumi. Sempurna! DIA-lah yang sulung dari semuanya. Putera Tunggal Allah. Namun, apakah Ia mempertahankan semuanya demi DiriNya sendiri?

SEGALANYA IA tinggalkan. IA rela turun jadi manusia. Menyusuri hidup dalam kisah-kisah yang dialami manusia. IA malah telah jadi miskin. Lahir dan hidup dalam kesederhanaan. Agar manusia sungguh menjadi 'kaya di hadapan Allah.' Itulah yang direnungkan Rasul Paulus.


Baca juga yang ini; Renungan HARIAN KATOLIK ; KITA semua, Umat Allah, Gereja, adalah kaum beriman yang dipanggil Tuhan untuk berziarah bersama.

NAMUN di saat harus kembali ke rumah Bapa, satu bentangan jalan sulit mesti IA lewati. Itulah JALAN Derita dan Kematian. Salib mesti Dia panggul. Di salib itulah Dia tergantung. Dan harus berakhir pada "selesailah sudah" (Yoh 19:30). IA menyelesaikan semuanya dalam kesetiaan dan pengorbanan!




DI SALIB, saat ditinggikan, Tuhan cuma memandang setiap kita. Dan Ia hanya bertanya penuh makna: 'Apakah yang kita cari? Apakah yang kita perjuangkan di perjalanan hidup ini?' Kita telah miliki nyaris segalanya. Kekayaan rahmat dan hormat telah kita raih.


NAMUN, Tuhan Yang Tersalib, di suatu ketika, pernah ingatkan para muridNya, "Barangsiapa ingin menjadi muridKu, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku" (Luk 9:23).




HIDUP ini sungguh adalah ziarah 'kehilangan diri kita sendiri' dalam Tuhan. Namun, ia sungguh bermakna dalam memberikan harapan hidup bagi dunia. Iya, memberikan harapan hidup bagi siapapun. Dalam sikap penuh peduli.


Renungan HARIAN KATOLIK; YUSUF dan MARIA telah jadi inspirasi mulia bahwa 'Sang Sabda sepatutnya tinggal dalam diri setiap kita


MERAYAKAN "penemuan Salib Suci" adalah perayaan "menemukan kembali karakter dasar kehidupan iman kita sebagai murid Yesus, Tuhan." Melaluinya, kita sungguh dipertebal dalam harapan yang benar dan yang sesungguhnya. Harapan itu adalah "menyerahkan nyawa untuk menyelamatkannya" (cf Mat 10:39).
SETIAP kita miliki ketikanya untuk kembali pada Yang Mahakuasa. Saat kita mesti 'pulang untuk kediaman selamanya dalam Kasih Abadi.' Ada satu syarat untuk kembali pulang penuh damai, sukacita serta demi menyongsong kemenangan!




SEPERTI TUHAN, kita terpanggil untuk "mengosongkan diri." Itulah panggilan kristiani dalam sukacita pemberian diri, perjuangan serta pengorbanan. Jalan Salib membuat kita agar ''terentang tangan untuk melepaskan segalanya; agar terpakulah kaki kita untuk belajar bertahan dalam kesetiaan dan pengorbanan."




SEBAB, sudah begitu banyak apapun 'yang digenggam tangan ini; sudah begitu banyak langkah kaki yang terayun tanpa kompas mengikutiNya. Semuanya, kini, mesti disalibkan dalam kerelaan dan kepasrahan demi kemuliaan Salib.


SALIB SUCI, sejatinya, adalah prasasti iman yang agung. Salib Suci adalah "kunci tak pernah karat" untuk membuka pintu rumah kerahiman Allah. Dan di situlah, kita semua akan beristirahat dalam kedamaian abadi.




"Kami menyembah sujud Dikau, ya Yesus dan bersyukur kepadaMu, sebab dengan Salib SuciMu, Engkau telah menebus dunia...."



Verbo Dei Amorem Spiranti

Tuhan memberkati. Amin.

Posting Komentar

0 Komentar