Header Ads Widget

Renungan Harian Katolik; JALAN Hidup Sering Terbentang Duri., Itulah Yang Kita Alami Pula.

Selasa, 27 September 2022

(Pekan Biasa XXVI, St Vinsensius a Paolo, St Elzèarius, Beata Delphina)
Bacaan I Ayub 3:1-3.11-17.20-23
Mazmur Tanggapan Mzm 88:2-3.4-5.6.7-8
Injil Lukas 9:51-56.


"Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku...." Ayub 3:3
(Pereat dies in qua natus sum...)


Baca juga yang ini; Renungan Harian Katolik; TERKADANG kita jadi cemas bukan saja karena apa yang kita telah raih dan punyai

DIDERA rasa putus asa mencekam. Itulah krisis berat yang dihadapi Ayub. Segalanya hilang begitu saja. Apapun yang diandalkannya telah berlalu. Tinggalkan duka nan mencekam.

AYUB membombardir segala kisah kelahiran dan jalan hidupnya dalam litania kutukan. Tak ada apapun yang dapat ia banggakan dan harapkan. Semuanya hampa! Sia-sia di segala lini.


AYUB, sungguh, adalah tumpukan kisah teramat pahit. Menyakitkan. Penuh ujian yang tak tertanggungkan. Rintihnya, "Mengapa aku tak mati waktu aku lahir? Atau binasa ketika aku keluar dari kandungan?" (Ayb 3:11). Hidup, bagi Ayub, adalah tangisan hati menjerit. Sampai kapan semuanya mesti terhenti? Entahlah!

SEPERTINYA, Allah malah memperpanjang situasi penuh rumit ini. Dan Ayub pun tetap berontak akan semuanya. "Mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?" (Ayb 3:16). Hidup adalah rentetan kisah kemalangan yang sungguh tak kunjung berakhir.


JALAN hidup sering terbentang duri. Itulah yang kita alami pula. Kegagalan demi kegagalan datang beruntun. Jeritan hati terungkap getir. Tak tertahankan. Cobaan demi cobaan tetap menghadang. Dan sepertinya kita tak pernah berhasil untuk sudahi semuanya dengan indah.


MUNGKIN saja kita berlari pada doa dan pada keheningan batin. Kita berjuang untuk sebisanya menangkap suara pembebasan dari Tuhan. Namun, nyatanya? Kita tetap gagal dan terus tak berhasil. Kepahitan demi kepahitan adalah keharusan yang mesti kita hadapi dan alami.

KITA akhirnya jadi sadar dan terbuka batin. Doa justru membawa kita kenyataan hidup yang sesungguhnya. Doa bukan pembebasan murahan seperti yang kita bayangkan. Bukan pula solusi mudah dan cepat saji. Agar badai-badai kehidupan segera berlalu pergi dan sirna. Bukan!
DALAM doa, Tuhan hanya berbisik ''Inilah kenyataan hidup yang sesungguhnya. Hadapilah semuanya dengan kebesaran hati dan kesetiaan iman.'' Dalam jatuh dan bangun! Iman teruji dalam badai. Dalam kebertahanan menyusuri dan merenungi semua yang tak pasti Dalam pertarungan untuk tetap berharap pada cahaya walau di tengah kepekatan kabut kehidupan.

HIDUP ini 'bukan milik kita.' Ia jauh melampaui apa yang kita ingini dan yang kita pastikan. Duka lara di hari-hari ini bisa berubah jadi ceriah di hari dan kisah mendatang. Tawa ria di saat kini, bisa berubah jadi mendung penuh hujan air mata di kisah berikutnya.

NAMUN, entah apapun yang kita alami, selalu ada jalan dan penyelenggaraan Tuhan yang jadi kepastian. Hidup kita tetap terhubung dan terpintal pada misteri Tuhan sendiri. Entah sampai di mana kita berjalan, dan entah situasi apa yang tengah kita hadapi, toh pada akhirnya hanya kepadaNya kita kembali. Dan kita memang hanya runduk sujud padaNya.

Baca juga yang ini; Cerita Perjalanan Richard Urut, Koordinator Program Pemberdayaan di Yayasan Ayo Indonesia dengan tamu dari Swiss dan Kalimantan

Tidak kah demikian?
Verbo Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati. Amin.

Posting Komentar

0 Komentar