Header Ads Widget

Satu Permenungan tentang SALIB; Masih Mungkinkah Pintu-Mu Kubuka?

Masih Mungkinkah Pintu-Mu Kubuka?
-satu permenungan-



Baca juga yang ini; Pojok KITAB SUCI; Selera ‘Bikin Diri Sendiri Penting’ Sungguh Merepotkan

Ebiet G Ade pasti tak merenung tentang Salib. Tapi, tidak kah ada sedikit celah dalam Aku Ingin Pulang miliknya demi renungkan Salib derita Tuhan? Itulah kunci emas jalan hidup di kesementaraan ini. Dan kelak ketika kita kembali pulang ke keabadian

Saat terlahir, Tuhan sematkan di jatung-hati kita kunci 
kehidupan itu. Itulah Salib. Dan kita susuri segala kisah dan peristiwa hidup dalam gelora Salib. Kunci kehidupan, Salib itu, membuka semua jendela dan pintu alam kehidupan ini. Sebab, kita mesti memandang dan susuri hidup ini penuh nyata seperti apa adanya. Tanpa polesan. Tiada racikan penuh rekayasa ornamentik. Tanpa kamuflase. Tanpa kepalsuan dan banyak pura-puranya.

Salib, kunci itu, menuntun kita untuk masuk dalam segala 'ketidakindahan' yang kita akrabi. Di balik Salib, jadi tampak segala cemas dan gusar hati kita. Terbentang pula segala keterbatasan dan kerapuhan kita. Di balik kunci emas, salib itu, kita menjadi tahu segala aura galau di hati ini. Di balik Salib, kita sebenarnya telah serahkan Tuhan dalam cinta berbayar pengkhianatan. Dan kita lalu membiarkan Dia sendirian. Di jalan penuh derita itu.
Jin kafir ada pada salib itu. Tak ada yang mesti tersangkalkan. Sebab, Tuhan yang tersalib adalah muara dari segala sisi yang suram. Di salib, pengkhianatan telah berdansa romantis dengan putusan yang tak adil. Dimeterai oleh tangan-tangan bersenjata penuh kekerasan. Dan semuanya jadi akhir sempurna dalam episode tragis di Kalvari.

Baca juga yang ini; 
Renungan HARIAN KATOLIK; HIDUP ini sungguh adalah ziarah 'kehilangan diri kita sendiri' dalam Tuhan

Namun, di salib, nyatanya, sengat maut kematian itu bukanlah raja diraja. Pengkhianatan, ketidakdilan, serta tindak kekerasan bukanlah imperium sakti. Ternyata jin kafir sedikitpun tak berdaya di salib Tuhan. Kasih dan Setia Tuhan memenangkan segalanya. Salib, kunci emas itu, tak pernah dapat dikaratkan oleh segala rongsokan jalan hidup manusia. Itulah harapan di balik Salib.
Dalam Salib, terbentang Jalan Harapan Hidup yang sesungguhnya. Kata si bijak, "Kita harus berani percaya bahwa penderitaan ini harus dihadapi dengan jernih dan penuh harapan" Tidakkah Yesus, berani merangkul Iskariot? Menyapanya sebagai 'teman?' 

Salib, kunci emas itu, tak membuat kita pasrah dan menyerah dari segala kepahitan hidup. "Andaikan kita menyerah dan berlari, tidak kah kisah hidup ini bakal terhenti dan menjadi mandul?" Ia tak pernah berbuah dalam nilai penuh harapan.

Baca juga yang ini; Renungan HARIAN KATOLIK; SEBAB itu hadapi hidup ini dengan penuh harapan dan semangat

Di Salib, sungguh terbentang segala kisah kita yang tak indah! Namun Tuhan membuat semuanya 'tertebus dan jadi baru.' Salib tetap jadi tujuan perjalanan Kasih Tuhan untuk menyirami jiwa kita yang kerontang. Untuk membasahi hati kita yang kecut dan kering. Di Salib, Tuhan yang lemah tak berdaya justru jadi inspirasi bagi kita untuk berziarah dalam iman.

Mari kita kembali pada Bang Ebiet G Ade. Aku Ingin Pulang siratkan satu tanya sarat makna:

"Masih mungkinkah pintuMu kubuka, dengan kunci yang pernah kupatahkan?"

Masih banyak kisah yang tak dapat kita pahami. Banyak rangkaian peristiwa yang tak sanggup kita tenun dalam satu lembaran iman kokoh. Ada banyak cerita yang tercecer berserakan. Dan tak pernah sanggup untuk kita timbang dalam makna. Ada suara jeritan dunia yang menggelegar menyentak. Dan kita tak pernah sanggup menangkapnya dalam telinga penuh peduli.
Dunia telah jadi 'surga penuh lampu redupnya.' Sebab, kebenaran masih dibelenggu. Keadilan masih disekap. Kekerasan masih punya ruang bebas. Kejujuran masih terasa pahit dan sesak di dada.

Mari buka mata lebar-lebar. Soroti semuanya dengan rasa hati penuh peduli yang paling dalam. Seorang murid Tuhan tak pernah boleh berlari menjauh dari kenyataan pilu. Dunia telah jadi 'rangkaian Golgota' teramat panjang. Sebab telah tersaliblah sekian banyak saudara-saudari kita. Tersalib oleh kemiskinan, kelaparan, ketakpastian nasib, perang dan aneka teror, ketidakbebasan, tekanan, dan berbagai tindak intimidatif.

Salib, kunci emas suci itu, mesti jadi tanda 'gaudium et spes' sukacita dan pengharapan! Mesti jadi simbol keberanian untuk bersuara dan berteriak minta tolong.

Kita tak pernah boleh biarkan Salib Tuhan, kunci emas itu, jadi karatan dan patah. Oleh segala apapun yang hanya berkiblat demi ego sendiri. Sebab yang menjadi musuh terbesar dari Salib adalah 'kerisauan yang terlalu mementingkan diri sendiri.' Yang meracuni rasa penuh peduli dan solider. Satu dengan yang lain. Mari menatap sesama dan menggapai dunia nan luas dalam kekuatan Salib Tuhan.

P. Kons Beo, SVD

Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro,Pada Pesta Salib Suci, 14 September 2022

Posting Komentar

0 Komentar