Header Ads Widget

Adventus: Tangan Kita Mesti Terentang

Adventus: Tangan Kita Mesti Terentang Bacalah Matius 24:37-44



Seringkali Tuhan datang dengan menyamar dan tidak tampak, dengan sangat menghormati irama hidup manusia”

(T. Radcliffe, OP)





P. Kons Beo, SVD



Kristus, Tuhan yang terjanji adalah karunia. Danp, kita semua, kini, siap memasuki dan mengisi hari-hari masa Adventus. Saat seluruh diri kita dididik dalam spirit penantian. Demi menyongsong karunia surgawi yang segera datang menyapa. Sikap hati penuh penantian mesti jadi ungkapan kualitas iman. Dalam iman, kita berharap penuh pada surga yang segera ‘bukakan pintu. Demi turunkan Yang Adil.’



Kita menanti tak dalam diam semu. Pun tidak dalam diam pasif. Menanti selalu berarti attendere. Kata latin ini selalu berarti “merentangkan diri ke depan.” Sikap batin penuh atentif adalah biasan-biasan pasti dari ‘memperhatikan ke depan, membuka diri kita pada apa yang akan datang.”


Masa Adventus memeluk kita sekalian dalam kesahajaan hati untuk satu persiapan penuh kesadaran itu. Liturgi Gereja ingatkan kita: Masa Adventus siapkan seluruh diri kita demi perayaan Natal. Dan, cahaya Adventus itu senantiasa memancar jelas. Kita diingatkan pula bahwa “Tuhan akan datang kembali untuk menyapa kita untuk kedua kalinya.” Sebab itu, renungkanlah: “Tidak kah seluruh hari-hari hidup kita ditandai dengan aura dan gema penantian?


Hari-hari kita dalam rahim ibu adalah penantian agar ‘kelak kita sungguh dapat berziarah dalam keindahan bumi dan semesta.’ Tetapi, tidak kah bahwa pada saatnya nanti, di ziarah bumi ini, semuanya adalah momentum penantian untuk akhirnya ‘kembali ke rahim bumi serentak pulang ke keabadian langit?’



Hidup jadi indah, terukur dan tertata, saat kita tahu bahwa ‘di depan, di saat berikutnya, di hari mendatang itu, terdapat kisah-kisah yang sungguh membangkitkan harapan.’ Dan karena itulah kita, selayaknya, rentangkan tangan, penuh atentif demi menyongsong semuanya.


Tetapi, Tuhan tak datang begitu saja. Ia tak hadir dalam ‘kehuru-haraan. Tak dalam serba kepanikan.’ Irama langit dan alur keilahian itu selalu melampaui semuanya. Namun semuanya mengalir dalam kepastian.’ Dan, bagi bumi dan kemanusiaan, kesabaran hati itu sungguh jadi harapan dan serentak ujian penuh tantangan!



Alam mendidik hati kita, misalnya, dalam kesabaran penuh aktif. Demi menyambut pagi baru nan ceriah, membuang sepinya malam. Di dini hari yang masih sunyi itu, orang-orang sudah pada aktif penuh persiapan. Demi mendaki satu ketinggian. Meraih puncak gunung pada waktunya. Semuanya untuk ‘rentangkan tangan. Menyambut dan menyongsong mentari baru. Cahaya kosmik penuh harapan. Itulah kelahiran satu hari baru.’


Tuhan pasti datang! Sebab Ia setia pada janjiNya. Kita sepatutnya, sekali lagi, membentuk hati penuh sabar. Tetapi, sebuah pejumpaan jadi indah dan sarat makna, saat kedatangan dan kerinduan sungguh jadi momentum lonjakan hati. Saat Yang Datang itu sungguh membawa Harapan, Kasih, Keadilan dan Sukacita yang kita rindukan.



Namun, momentum perjumpaan yang dinantikan penuh aktif itu, dalam tatatan praktis zaman now, tak lagi membiaskan aura kesabaran dalam penantian. Ada komentar menggelitik. Namun sebenarnya serius. “Baru sehari dua di masa liturgi Adventus, gelora Natal sudah digemakan. Sejadi-jadinya. Christmas rush sepertinya jadi taufan garang yang mendera keteduhan adventus batiniah.”


Komentar menggelitik terus berlanjut, “Di mana-mana orang tak sabar hati buka kado natal di masa adventus. Seperti orang yang tak sabaran membuka kado hadiah HUT Kelahiran sebelum waktunya…” Jika Natal adalah ‘pemberian Kado Ilahi Surgawi bagi bumi, iya kita mesti menyambut penuh kesabaran dan harapan. Dalam diri persiapan diri sepatutnya.



Dalam satu kotbah Adventus, seorang pastor penuh jenaka ingatkan umat: “Nanti ada Novena Natal. Doa sembilan hari sebelum Hari Raya Natal. Umat yang tak datang, saya yakin mereka telah rayakan Natal duluan. Tanpa Novena. Mereka ini mengira bayi Yesus itu lahir prematur.”


Dibutuhkan bertahun-tahun dan berabad-abad Allah dirindukan untuk kedatanganNya. Dan Israel menantikan dalam kerinduan. Di dalam pengharapan teramat panjang. Di hari Natal, Tuhan pasti datang! Maka, siapkan hati kita dalam nafas penuh kerinduan.



Dan Ia, pasti datang untuk kali berikutnya. Sebab itulah, hari-hari hidup kita tetaplah menjadi sebuah penantian. Mari kita renungkan kata-kata Yesus bagi para muridNya, pun tentu bagi kita pula:



“Oleh karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (Mat 24:42)

Di titik inilah, sikap berjaga penuh kesigapan mesti jadi kisah penuh atentif. Di situ, kita mengangkat kepala, memandang langit, dan mengulurkan tangan. Untuk menanti kapan kah Tuhan datang kembali. Dan untuk setiap kita, di saat Tuhan “datang kembali, jawaban apa yang kan ku beri?” Hati penuh harapan semoga terus bersinar sampai nanti. Saat Tuhan datang kembali. Datang bagi diri kita sendiri dalam pengalaman pribadi. Yang bakal tak dapat kita hindari....



Verbo Dei Amorem Spiranti
Selamat hari Minggu dan Selamat Memasuki Masa Adventus..

Tuhan memberkati.

Amin




Posting Komentar

0 Komentar