Header Ads Widget

Pojok KITAB SUCI; Hidup Bersama Terang dan di Dalam Terang

Hidup Bersama Terang dan di Dalam Terang
-pada hari raya Penampakan Tuhan-

P. Kons Beo, SVD



“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dunia” (Yoh 1:9). Lukisan Injil Yohanes ini isyaratkan kepada dunia bahwa Tuhan telah dan tengah hadir sebagai cahaya dan terang. Hidup yang benar adalah “hidup yang dicahayai oleh Terang Ilahi.” Itulah Terang yang datang dari surga demi melawati bumi.


Yesus, Tuhan, adalah “Terang Dunia.” TerangNya tak dapat dikalahkan kuasa kegelapan manapun (cf Yoh 1:5). Kehadiran Yesus sebagai Terang kita rayakan meriah pada Upacara Malam Paskah. Saat itu, mata hati dan gema iman Gereja diarahkan pada “Terang Kristus” yang sungguh mengalahkan dunia. Dalam semangat itulah, Gereja, kita semua siap beralih bersama Kristus, Cahaya Dunia.


Sebagai Gereja, murid-murid Tuhan, setiap jemaat beriman dipanggil untuk menjadi ‘saksi terang itu.’ Yesus ingatkan para muridnya, “Kamu adalah terang dunia...” (Mat 5:14). Dan syarat dasar dari menjadi ‘terang dunia adalah bersatu dengan Sang Terang Ilahi, yakni Yesus sendiri.


Pada Hari Raya Penampakan Tuhan, kita renungkan jalan para Majus dari Timur. Mereka sungguh ingin mencapai Tuhan, Terang Dunia lalu hendak menyembahNya. Kisah dari Injil Matius, tentang perjalanan dari Timur menuju Betlehem adalah inspirasi jalan hidup kita sebagai murid dan misionaris Terang:

Mari kita merenungkannya: 


Pertama, “Mereka bertanya-tanya....” Ada sesuatu yang terjadi, yang menggetarkan hati. Yang mendesak para majus itu bertanya-tanya. Alam di Langit Timur dengan Bintang Bercahaya menceritakan kepada mereka bahwa satu Kisah Istimewa tengah menyapa bumi.


Kisah istimewa itu mendesak mereka untuk tinggalkan segalanya untuk mencari: “Di mana kah raja Orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” Di balik pertanyaan itu tersirat: rasa ingin tahu penuh kerinduan, yang disusul dengan perjuangan dan pengorbanan untuk mencariNya. Pertanyaan bagi kita: Ada kah sesuatu yang istimewa yang dapat kita tangkap dalam keseharian? Yang mendesak setiap kita untuk merenungkannya dan mencari artinya yang lebih dalam? Dalam keseharian kita yang samar, kabur dan redup-redup, tidak ada kah kesanggupan untuk kembali menyadari dan melihat “BintangNya di Timur?” Untuk kemudian mencari dan menemukanNya?


Kedua, “Datanglah orang-orang Majus itu ke Yerusalem…” Yerusalem adalah ‘kota segalanya,’ katakanlah demikian. Yerusalem adalah pusat kewibawaan hidup bangsa Israel. Segala ‘sibuk rohani dan jasmani’ dengan segala kemegahannya terjadi di situ.


Tetapi, di Yerusalem ‘BintangNya di Timur tak tampak.’ Yerusalem tetap hidup dalam keredupan. Tiada cahaya dari BintangNya di Timur yang dapat dilihat dari Yerusalem dan serentak menerangi Yerusalem.


Bagaimana pun, tidak kah kita dapat katakan bahwa ‘perjalanan para majus hingga ke Yerusalem itu adalah perjalanan misioner kepada dunia yang tak sadar akan sesuatu yang istimewa yang tengah terjadi? Bukan kah Herodes beserta seisi Yerusalem menjadi terkejut setelah mendengar kisah tentang “BintangNya di Timur, dan tanda apa kah yang tengah terjadi?’


Sungguh pun itu misi persinggahan di Yerusalem, akhirnya berisiko maut pada kanak-kanak di Yerusalem dan di sekitarnya dibantai Herodes, toh Yerusalem mesti digemparkan oleh kehadiran Terang yang tengah datang!


Kekuatan iman untuk merayakan Natal dan terutama meneruskan Pesan Natal tentu miliki risiko. Kenyataan hidup dunia selalu ada dalam perjumpaan tak akrab antara ‘terang dan gelap, teduh dan kalap, damai dan kekerasan, keluasan hati dan kesempitan cara berpikir…’ Bagaimana pun, seperti yang dialami oleh Para Majus, pesan kelahiran Raja baru itu mesti didengar dari ‘Herodes dan Yerusalem serta seluruh isinya.’


Ketiga, “Lalu sujud menyembah Dia…” Yang disembah oleh para Majus itu adalah Raja Damai. Sembah sujud ungkapan pengakuan penuh tulus dan rendah hati akan Sang Bayi yang sungguh merajai dunia dalam keadilan dan belaskasih.


Tindakan ‘menyembah’ para Majus itu dapat direnung pula sebagai tindakan yang menjunjung dan berpihak pada “Jalan – Kebenaran dan Hidup” (cf Yoh 14:6). Tindakan seperti ini pasti berseberangan dengan ‘aura Herodes dan segala kelalimannya.’

Tindakan menyembah para Majus adalah tindakan iman yang tulus dan sungguh sepenuh hati. Ini pasti bertolak belakang dengan ‘rencana sembah sujudnya Herodes yang penuh intrik dan tipu daya.’


Tidak kah Herodes berkata pada para majus, “Pergilah, dan selidiki dengan saksama hal ikhwal Anak itu! Dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku, supaya aku pun datang menyembah Dia..” (Mat 2:8). Ini yang namanya “rencana sembah yang tipu-tipu, yang sekedar teknik mengakali…” yang sesungguhnya mengandung maut dan kematian.


Keempat, Datang dari Timur dan akhirnya, kembali “pulang ke negerinya lewat jalan lain…” Jalan datang ke Betlehem dicahayai dengan BintangNya di Timur. Saat para Majus kembali, mereka telah diteguhkan dengan ‘mengalami BINTANG YANG SESUNGGUHNYA’ yakni Yesus sendiri.


Para majus kembali dalam ‘keadaan baru’ dan karenanya ‘mereka pun mengambil jalan lain.’ Itulah jalan yang telah ‘mengubah mereka untuk tak ikuti lagi jalan lama.’ Jalan lain itu adalah buah dari perjumpaan dan sembah sujud mereka pada Terang Sesungguhnya.


Di hari Natal, ada sekian banyak hal baru yang kita jumpai. Dan semuanya membuat kita jadi baru secara fisik atau lahiriah. Namun, sembah sujud kita yang benar pada Terang Sejati, Yesus itu, membuat kita sungguh menjadi baru dalam segalanya.


Natal membuat kita ‘kembali ke keseharian kita dengan jalan lain ‘semangat atau spirit baru itu.’ Kita kembali pulang dalam keseharian kita, iya dalam perjumpaan kita dengan diri kita sendiri, dengan sesama dan dengan dunia yang lebih luas. Itulah perjumpaan kita dalam TerangNya.

Akhirnya…


Cahaya dan Terang Tuhan selalu tetap bersinar bagi jalan hidup setiap kita. Di dalam kegelapan hidup kita, Tuhan tetap hadir dalam FirmanNya. Demi ‘membetulkan setiap langkah kaki kita.’

Tidak kah kita senantiasa berseru dalam keyakinan, “FIRMAN-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalan-ku…” (Mz 119:105)?

Di hari Penampakan Tuhan ini, kita semua bersama para majus dari Timur, berziarah dalam iman untuk mencari Raja Yang Baru Dilahirkan, untuk mencari Terang yang sesungguhnya. Dan di dalam DIA kita pun menjadi murid-muridNya yang bercahaya.


Maka mari kita ingat kata-kata Sang Terang, Yesus, Sang Guru:

“Demikian hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan pun yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”
(Mat 5:16).

Tetapi, apakah “manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang?” (cf Yoh 3:19).

Perayaan Natal, Perjalanan kita bersama para majus membuat kita menjadi ‘anak-anak terang.’ Rasul ingatkan jemaat Efesus dan juga kepada kita sekalian:

“Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, sebab terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan pada Tuhan”
(Ef 5:8b-10)



Verbo Dei Amorem Spiranti

Selamat Hari Minggu
Tuhan memberkati.
Amin

Posting Komentar

0 Komentar