Header Ads Widget

Renungan Harian Katolik: MARI PULANG KE RUMAH DIRI KITA SENDIRI

Senin, 30 Januari 2023
(Pekan Biasa IV, St Bathildis, St Hyacintha Mariscotti, St Marina, Beato Sebastianus Valfrè)
Bacaan I Ibrani 11:32-40
Mazmur Tanggapan Mzm 31:20-24
Injil Markus 5:1-20

"Pulanglah ke rumahmu...." Mrk 5:19
(Vade in domum tuam)

MARI PULANG KE RUMAH DIRI KITA SENDIRI


APAKAH arti sebuah rumah? Kampung halaman? Sebatas sesama manusia yang 'terbilang ka?' Atau kah itu mesti merujuk pada kualitas relasi, suasana atau alam di mana hati kita sungguh merasa berada dan feeling at home?

ORANG yang semula kerasukan roh jahat, mantan manusia pekuburan, yang telah disembuhkan Yesus itu, kini punya satu hasrat dan kerinduan. Ia ingin mengikuti Yesus . Ia ingin bersama Tuhan sebagai manusia baru dan kini telah merdeka.

NAMUN, Yesus tak memperkenan orang itu untuk mengikutiNya. "Kembali ke rumah, ke orang-orang sekampung," menjadi perintah Yesus bagi yang tersembuhkan itu (Mrk 5:19).
Bagaimana pun, ini tak berarti bahwa orang itu tidak menjadi pengikut Yesus. Bukan!

IA tetap ada di dalam Kasih dan Kuasa Yesus. Ia tetap mengikuti Yesus di dalam nilai. Dalam pemberitaan Kasih dan Kebaikan Tuhan yang telah ia alami. Dan ia mesti teruskan kisah kasih itu di tengah keluarga dan kerabat sekampungnya.

TETAPI, di titik selanjutnya: Apakah tak berarti bahwa 'rumah' itu dapat ditafsir lain sebagai 'bangunan diri kita sendiri?' Ada banyak sisi tak cantik dalam diri kita sendiri. Yang menjadikan jalan hidup kita suram dan redup. Yang buram tak 'bergaram dan berterang dunia.'

BAGAIMANA PUN, Tuhan itu sungguh berkuasa untuk membebaskan seluruh diri kita dari 'suasana pekuburan, iya, dari alam kematian itu.' Pun dari suasana keterbelengguan.

KINI, tiada apa pun yang terindah selain "pulang ke rumah diri sendiri." Pulang ke alam yang selayaknya kita akrabi sendiri. Entah di mana dan sampai kapan saatnya nanti. Itulah sebabnya kita akhirnya mesti lebih mengakrabi diri sendiri dengan penuh kasih dan sukacita.

SEBAB, hanya dengan cara seperti itulah, kita akhirnya sanggup pula untuk melihat orang lain dan siapapun sesama dalam Kasih dan sukacita. Tak lagi sebagai orang yang tetap saja terbelenggu dan membelenggu.

Bukan kah demikian?
Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati
Amin

Posting Komentar

0 Komentar