Header Ads Widget

Pojok KITAB SUCI; Tuhan, Kami Lemah dan Rapuh. Teguhkanlah Kami Dalam Kekuatan KasihMU!

“Tuhan, Kami Lemah dan Rapuh. Teguhkanlah Kami Dalam Kekuatan KasihMU!”
-renungan Minggu, 26 Februari 2023-

(bacalah Injill Matius 4:1-11)

P. Kons Beo, SVD



Baca juga yang ini Penting; Yusuf ke Mesir: Skenario Perdagangan Manusia? (merenung kisah Yusuf-Kitab Kejadian 37:12-36)


Berbagai keluhan sering terdengar. Terucapkan saat orang hadapi tantangan, cobaan dan godaan. Terhadap semua yang menantang itu, ada yang berjuang untuk bisa menghadapinya. Ada kiat-kiat tertentu yang diambil demi mengatasinya. Atau setidaknya dapat menghadapinya dengan hati nan tegar.



Tetapi, manusia tak selamanya berteguh hati untuk hadapi rintangan cobaan dan godaan. Dalam situasi serba terbatas dan penuh kekurangan, manusia bisa dibantai oleh rasa putus asa. Atau pun manusia bisa tergiur untuk satu dua tawaran lain. Dan pilihan lain itu bisa saja sungguh menarik minat, tetapi serentak membelenggu.


Sering terdengar bahwa manusia adalah pribadi yang istimewa. Setiap kita adalah pribadi atau subyek yang bebas untuk ‘bertindak, bersikap, atau bersuara’ demi dan dalam diri sendiri. Bagaimana pun di hadapan cobaan atau godaan kita yang insani ini pasti teruji dalam kekuatan diri pribadi dan terutama dalam iman.



Hidup, tentu, miliki nuansa dan iramanya yang khusus. Di dalamnya terhamparlah segala keindahan pun ketakindahannya. Keduanya menarik dan istimewa yang membawa hati manusia kepada rasa sukacita, tetapi sekaligus pula membawa manusia kepada alam penuh tantangan.



Godaan atau cobaan yang dibentang si iblis terhadap Yesus bisa menjadi gambaran nyata godaan yang kita hadapi dalam keseharian hidup. Dan godaan-godaan itu sungguh menantang citra atau jati diri kita sebagai manusia yang rentan, tetapi serentak ‘istimewa di hadapan Tuhan sendiri.’


Mari kita renungkan seadanya:



Pertama, ‘mengubah batu menjadi roti’ adalah tawaran langsung untuk menjadi primadona serentak pelaku utama (protagonista) dalam situasi serba sulit. Kita tergoda untuk menjadikan diri sendiri sebagai ‘satu jawaban pasti bagi sesama dalam situasi penuh kerumitan dan yang menantang.’



Jika memang hidup terasa bagai di alam ‘bebatuan yang kering dan tandus maka biarlah alam itu dirasakan bersama. Dan kemudian ditatalah satu dua jalan keluar bersama.’ Kita tentu sadari: manusia bukanlah sebatas ‘insan ragawi, fisik, atau segalanya yang hanya berunsur roti.’



Tetapi, manusia itu butuhkan pula cinta, perhatian, kasih sayang, penerimaan, hati sesama yang mendengar, keterlibatan (dilibatkan), rangkulan dan sapaan, atau penghargaan sewajarnya dari sesama.



Kita tentu tak pernah boleh menyajikan sekian banyak ‘jenis roti demi merawat dan membesarkan nama diri dan kepentingan pribadi (kelompok) sambil sedikit pun tak tahu segala kenyataan hidup dukacita ‘penuh batu yang dialami orang lain.’



Yesus tak pernah langsung mempergandakan roti. Ia tak ‘tiba-tiba saja memberi makan kepada sekian banyak orang.’ Tidak! Tetapi, Yesus memulai semuanya dengan alam rasa hati compassion, berawal dari dari satu citra hati turut berbelah rasa dan bertindak dalam kasih.



Dan, tidak kah Yesus melibatkan para murid ketika IA bertanya, “Berapa roti ada pada kalian?” (Mrk 6:38). Atau dengan perintah, “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mat 14:16).



Kedua, ‘Bikin heboh atau gerak-gerik penuh sensasi’ bisa jadi tantangan yang tak kecil. Tetapi, apa itu sebenarnya hal-hal yang sensasional, yang penuh dengan segala kehebohan itu? Siapa pun rindukan satu pencitraan diri dengan pengakuan dari sesama penuh heboh!


Kita sepertinya butuh rasa diri ternilai penuh istimewa atau diistimewakan! Kita ingin ‘ditinggikan di level bubungan Bait Allah.’ Itulah privilese atau hak istimewa yang kita perjuangkan. Kita tak ingin bahwa hal-hal yang penuh risiko dan tantangan akan membendur diri jalan dan jalan hidup kita. Iya, itu tadi, sebab kita ingin terhitung sebagai ‘manusia elitis dan istimewa.’



Baca juga yang ini Penting; Kolekte sebagai Bentuk Tanda Syukur kepada Tuhan


Kita adalah insan yang pasti ‘dilayani para malaekat, aman, terjamin, serba mudah, sesuai selera, serba tersedia.’ Godaan ‘di ketinggian Bait Allah dan pelayanan dari malekat’ yang dialami oleh Yesus adalah pembongkaran segala usaha diri dan perjuangan yang hanya membangun ‘kehebohan citra diri penuh istimewa.’



Yesus menantang setiap kita untuk tidak membangun kultus individu. Murid-murid Yesus hanya diijinkan untuk miliki ‘keisimewaan terbalik.’ Dan karenanya, ‘yang pertama mesti jadi yang terakhir, yang terbesar mesti jadi yang terkecil dan pelayan’ (cf Mat 19:30; Mrk 9:35).


Ketiga, Siapa kah yang tak mengimpikan alam ‘semua kerajaan dunia dan kemegahannya?’ (Mat 4:11). Popularitas telah jadi tantangan, jadi manusia istimewa pun adalah godaan, dan kini? Adalah godaan keterlekatan hati pada kuasa dunia dan harta yang sungguh menantang.



Setiap kita ingin nyamankan diri sendiri dengan sesuatu yang harus kita punyai. Kuasa, jabatan, pangkat, kedudukan, pengaruh, punya nama, duit atau barang ini itu kita rindukan dan bahkan kita memburunya sejadi-jadinya.



Tak ada yang salah dari kuasa, jabatan dan kedudukan atau dari segala kepunyaan yang diusahakan selagi semuanya dipergunakan atau diisi secara wajar, dan demi kebaikan bersama dan demi peradapan harkat serta martabat manusia.



Namun, kemunduran citra kedudukan, pangkat dan jabatan dan segala yang dipunyai terjadi ketika hati telah jadi terlekat dan terbelit karenanya. Dan hal itu akhirnya menjajah kemerdekaan batin manusia untuk harus menyembah semuanya. Sedih memang!



Tetapi, ada hal lain yang tak boleh kita abaikan begitu saja! Terkadang pikiran sendiri, hasrat, ambisi dan kehendak sendiri yang bernuansa egosentrik pun menjadi godaan yang bisa melumpuhkan dan mengaburkan nurani kita untuk harus menyembah semuanya.



Godaan di padang gurun, puncak Bait Allah, dan puncak gunung yang amat tinggi berakhir dengan satu tegasan dari Yesus:


‘Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: ‘Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat 4:10)



Selama kita hidup, kapan dan di mana saja, cobaan – godaan – tantangan tetap menjadi ‘kawan seiring dan seperjalanan hidup.’ Kita pasti tetap diuji untuk berjuang demi menyembah dan berbakti kepadaNya. Dalam segala gelora pertarungan hidup itu sendiri. Dalam arus dan badai gelombang hidup yang menghayutkan, tetapi juga tetap ada harapan pada dermaga yang meneduhkan!



“Dum spiro, spero!” Dalam setiap tarikan dan hembusan nafas, kita tetap dan masih punya harapan di dalam Kasih Tuhan sendiri yang membebaskan! Saat kita memandang Tuhan yang tersalib, di situlah harapan kita diteguhkan!



Tidak kah demikian?



Verbo Dei Amorem Spiranti



Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati

Amin



Rikhardus R Urut, Sekretaris Badan Pengurus menyerahkan uang duka kepada Bapak Tadeus, wujud solidaritas, Bela Rasa, Aku Susah Engkau Bantu, Engkau Susah Aku Bantu dari 7.511 orang, Anggota KSP CU Florette atas meninggalnya Mama Elisabet, isteri tercinta dari Bapak Tadeus. Untuk konteks Manggarai saat ini, Peristiwa Kematian merupakan salah satu tujuan keuangan keluarga sebenarnya (melek/literasi keuangan) sebab biaya untuk urusan adatnya relatif besar. Beruntung Bapak Tadeus telah menjadi warga (anggota) dari "Rumah Gendang" KSP CU Florette sehingga oleh rasa empati dari semua anggota dalam bentuk pemberian uang duka telah meringankan kedukaannya. Marilah bergabung ke Rumah Bersama KSP CU Florette, sebab Lembaga Koperasi ini memikirkan anggota disaat mereka masih hidup (menyediakan pinjaman kesejahteraan/bisnis), sakit, dan juga ketika mereka meninggal. 
Adalah Koperasi Simpan Pinjam Inklusi di Manggarai, 25 orang Penyandang Disabilitas telah menjadi Anggota. KSP CU Florette: Menyediakan Pinjaman Bunga Rendah, melakukan Upaya Pemberdayaan Sosial Ekonomi (bisnis) dan mengajarkan Literasi/Melek Keuangan.








Socio Economic Empowerment Diakonia Pastoral Service

 

Dampak Perubahan Iklim di Manggarai Timur

Posting Komentar

0 Komentar