Header Ads Widget

Pojok KITAB SUCI; Jangan Biarkan Damai Ini Pergi....


P. Kons Beo, SVD
Jangan Biarkan Damai Ini Pergi....
(Sepak pojok Pekan Biasa XIV, Minggu, 09 Juli 2023)
inspirasi: Injil Matius 11:25-30



Cemas, tak nyaman batin, hati penuh galau. Itulah aura jiwa kita. Tak terelakan. Hidup ini bentangkan sekian banyak soal yang buat suasana batin kita tak nyaman dan damai.

Namun suasana nyaman, damai dan tentram tetap kita cari dan usahakan. Tak ada manusia yang bercita-cita hidup dalam ketidaktenangan serta dalam alam kekacauan. Tapi, betapa kita gagal menggapai alam batin atau suasana hati penuh sejuk segar dan damai.

Kita tetap saja alami atmosfer hidup "letih lesu dan selalu berbeban berat." Kita sungguh tertatih-tatih dalam hidup dan menjadi manusia lupa damai dan lupa bahagia. Kita coba mereka-reka batu-batu sandungan yang jadi sebab kita tak nyaman, tak segar dan tak damai di dalam diri sendiri dan di ziarah hidup ini:


Baca juga yang ini, menarik:Renungan Harian Katolik; TAK Ada Jalan Buntu Dalam Diri Siapapun Yang Miliki Harapan Dalam Tuhan

Mengeluh dan terus saja mengeluh dan memang selalu mengeluh-:

Selera kita bisa saja terlalu tinggi. Kita galau saat badai 'lebih besar pasak daripada tiang' menerpa hati. Banyak keinginan. Ada banyak maunya juga. Sayangnya, yang kita miliki tetap terbatas dan memang hanya itu saja.

Jadinya, tak nyaman batin segera bergejolak. Kita bisa saja jalani hidup ini dengan penuh keluhan dan tak pernah puas. Selalu mengeluh sungguh membunuh rasa damai di hati.

  • Kekerasan: Kita tak damai sebab 'cenderung angkat diri sendiri' sebagai patokan, standar atau norma bagi orang lain. Padahal kita hidup dalam kemajemukan, bersama orang lain yang beragam dan berbeda dalam banyak hal. Kita tak nyaman dan damai hati atas kemajemukan dan variasi latar belakang hidup dan pribadi sesama. Ungkapan tidak damai itu dinyatakan dalam tindak kekerasan. Entah secara fisik pun lewat kata-kata. Maka, latihlah untuk tersenyum penuh tulus ikhlas terhadap orang lain. Hematlah bahkan hilangkanlah kecenderungan untuk berlaku kasar dan selalu antipati terhadap sesama.

Dan mari kita renungkan dan hayati kata-kata Yesus dalam SabdaNya:

Pertama : "AKU bersyukur kepadaMu, ya BAPA, Tuhan langit dan bumi..."  (Mt 11:25).

Ganti mengeluh dan terus mengeluh, marilah usahakan hati penuh syukur. Di hidup ini, kita sedikitpun tidak punya alasan untuk tidak bersyukur.

Bersyukurlah atas alam raya, bersyukurlah atas kehadiran sesama, bersyukurlah atas setiap peristiwa hidup darinya kita belajar apa sebenarnya rahasia kehidupan itu. Di atas semuanya bersyukurlah kepada Tuhan atas semua berkatNya. Hanya dengan cara ini kita alami damai dan sukacita.

Kedua:  "Marilah kepadaKU kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat.." (Mat 11:28)

TUHAN undang kita untuk datang kepadaNya. Dalam Tuhan kita alami kedamaian dan ketenangan. Dan di atas semuanya, seperti Yesus, kita lalu menjadi pelaku-pelaku dan orang-orang yang mengusahakan damai dan keteduhan hati. Kita datang pada Yesus dalam doa, dalam keheningan, dalam mendengar dan merenungkan FirmanNya, kita datang pada Tuhan dalam Perayaan Ekaristi, darinya kita dikuatkan dan diteguhkan dalam iman - harapan - kasih.

Ketiga: "Pikullah gandar yang Aku pasang dan belajarlah kepadaKu..." (Mat 11:29).

Hidup kita banyak tantangannya, diri kita pun penuh keterbatasannya. Benar bahwa kita datang kepada TUHAN, namun ada hal yang tak boleh dilupakan, yakni: Belajarlah kepadaKu. Iya, kita mesti belajar dari Yesus, Tuhan. "Yang lemah lembut dan murah hati."

"Belajar dari Yesus" berujung pada rasa damai, pada keteduhan hati dan sikap terhadap sesama, pada pupuslah rasa dendam dan benci terhadap sesama.

Belajar pada Yesus mengajak kita untuk memasang "bola mata Kasih" dalam memandang sesama.

Namun, pasanglah alarm batin, sebab acapkali kita bisa datang mendekat bukan kepada Tuhan, bukan pula kepada sesama yang sejuk dan damai di hati. Sebaliknya, kita datang kepada drama atau serial kisah tayangan TV yang tebalkan hati penuh amarah, benci dan dendam. Bukannya damai dan pengampunan!

Kita lebih punya waktu untuk datang ke orang-orang yang tidak beri rasa lega di hati dan bersama mencari jalan damai. Sebaliknya, kita datang dan mendekat pada penghayut, yang lebih kompor-kompor soal, yang hanya mau "sosok sana-sosok sini". Di muaranya, tak ada suasana damai dan sukacita yang terbangun dan tercipta.

Kita memang mesti banyak berjuang dan terlebih berkorban untuk mengusahakan damai. Untuk membangun suasana akrab penuh kekeluargaan...

"Jangan biarkan damai ini pergi; jangan biarkan semuanya berlalu....

Hanya padaMu, Tuhan, tempatku berteduh dari semua kepalsuan dunia..."


Akhirnya, kita yakin dalam Spirit Damai di atas Kayu Salib, bahwa damai menjadi sempurna saat kita melihat sesama ada dalam damai dan ceriah. Ketika kita berkorban demi kedamaian dan keceriahan hidup orang lain.


Verbo Dei Amorem Spiranti
Selamat Hari Minggu.
Tuhan memberkati.
Amin



Posting Komentar

0 Komentar