Header Ads Widget

Renungan Katolik Khusus Di Hari Minggu; Tidak Baiklah Kalau Manusia Itu Sendirian

“Tidak Baiklah Kalau Manusia Itu Sendirian” (Kejadian 2:18). (refleksi pada Hari Orang Sakit Sedunia ke 32, 2024)


Imamat 13:1-2-44-46

1Korintus 10:31 – 11:1

Markus 1:40-45



Betapa rapuhnya diri kita. Letih, lesu, berkurangnya asa kehidupan, tak berdaya, daya ingatan yang semakin berkurang (pikun), daya refleks dan gerakan yang semakin melambat, daya dan logika berpikir yang semakin meredup, daya volutif (kehendak) yang semakin suram, kemampuan emosional dan afektif yang kian memudar. Iya, semua kemampuan rohani kita memanglah semakin aus dan menipis. Sejalan dengan usia fisik kita yang semakin bertambah. Kita menuju alam kehilangan kendali dan kesadaran.


Jangan lupa baca yang ini; Renungan Harian Katolik; Roti Di Tempat Sunyi


Di sisi ragawi (fisik), hari demi hari kita lewati untuk semakin menjauh dari ‘aura tampilan yang dulu-dulu itu.’ kemampuan fisik kita semakin hari semakin tak bersinar. Daya tahan tubuh kita semakin berkurang. Kita hidup, kata bahasa proken, sungguh sebatas ‘merias dan berdandan demi tampilan.’ Kita hidup dan mesti disegarkan (kembali) dengan sekian banyak ‘bantuan’ pada bagian fisik kita yang telah ‘onar-onar.’



Dalam pada itu, sakit dan penyakit senantiasa siap sedia untuk menerjang dan menghempas. Saat kita sungguh serius memperhatikan alam dan lingkungan nan sehat dan apapun yang terkonek dengan hidup yang sehat, sepertinya ‘sakit dan penyakit’ tetap menilisik titik-titik kerapuhan kita.


Kemanusiaan kita ini memang ditandai dengan ‘kelemahan, keletihan serta sakit (penyakit). Menjadi orang sakit, atau mengalami sakit dan derita adalah keniscayaan. Bagaimanapun sikap batin-hati dalam mengalami suasana sakit dan derita, itulah yang menentukan: apakah kita sanggup hadapi kenyataan sakit dan derita atau kah sebaliknya?


Baca yang ini juga; Renungan Harian Katolik; Kita Dipanggil Untuk Berbuat Baik


Demikian kita yang masih dalam keadaan ‘sehat, segar bugar dan kuat’ serta masih miliki potensi diri yang mumpungi’ sebenarnya ditantang dalam sikap dan perlakuan kita terhadap para penderita atau orang sakit: Apa sungguh terbaca dan terungkap tanda-tanda kepedulian atau kah sebaliknya.

Mari kita renungkan beberapa pokok pikiran:


Pertama: Duka, derita, dan sakit berkisah tentang satu ‘jarak.’ Kita ‘menjauh atau kah mendekat?’ Dalam keadaan sakit, tua dan tak berdaya, para penderita dengan situasinya menjadi satu undangan bahkan panggilan untuk ‘didekati.’ Kunjungan penuh kasih bagi yang sakit, tua dan lemah adalah tanda ‘kedekatan untuk masuk dalam situasi yang dialami si penderita. Namun?


Tak jarang, keadaan semakin tua dan letih, sakit dan derita , sebaliknya menjadi alasan untuk ‘menjauh dan menjarak.’ Orang-orang tua dan sakit ada dalam sebuah jarak fisik yang terukur dan aman. Ketidakpeduliaan terlihat jelas.



Dapat dibayangkan betapa rasa derita fisik dan batin yang mesti dialami oleh orang kusta sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Imamat 13:1-2.44-46 (Bacaan I). Imam harusnya menyatakannya sebagai ‘manusia najis.’ Dengan pakaian lusuh, rambut terurai dan sambil menutup wajahnya, ia harus berseru, “najis, najis!”




Dan bukan kah satu derita batin yang harus ditanggung si kusta selamanya deritanya, saat “ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya?” (Im 13:46).



Kedua: Dalam keadaan derita dan sakit, saudara-saudari kita yang lemah tak berdaya sesungguhnya memanggil setiap kita untuk satu keterlibatan. Setiap kita pasti sanggup menemukan cara yang terbaik untuk ‘masuk dalam suasana penderitaan dan sakit yang dialami oleh saudara-saudari kita.


Perkara orang sakit, penyakit dan penderitaan bukanlah ‘persoalan tanggungjawab dan perhatian yang dituntut hanya dari para medis.’ Kesehataan sosial adalah tanggung bersama. Sakit dan derita membuka mata setiap kita untuk bertindak dan melakukan sesuatu.



Orang kusta yang dijauhkan dari masyarakat umum atau sendiri merasa diri mesti menjauh dari publik, justru mendekatkan dirinya pada Yesus. Orang kusta itu, sebagaimana dikisahkan dalam Injil Markus, ...”datang kepada Yesus. Sambil berlutut di hadapan Yesus ia memohon bantuanNya, katanya, ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku,’ dan geraklah hati Yesus oleh belaskasih” (Mrk 1:41).


Keterlibatan Yesus menjadi nyata saat Ia ulurkan tangan dan menyentuh si kusta itu sambil ungkapkan kata-kata pembebasan, “Aku mau, jadilah engkau sembuh!” (Mrk 1:41).

Manakah keterlibatan kita sebagai ungkapan nyata bahwa sesama yang menderita dan sakit itu diperhatikan dan disembuhkan?



Ketiga: Sakit, derita, kemalangan itu sebenarnya menguji kualitas rasa persaudaraan-persahabatan kita. Di situlah nampaknya kualitas kesetiaan dapat ditakar. Jangalah saat seseorang masih dalam dalam kondisi ‘sehat-sehat dan kuat-kuatnya’ ia didekati. Namun ia segera dijarakkan atau bahkan hilang dari ingatan serta perhatian yang ia telah jadi ‘tak berdaya, tua dan melemah (sakit).


Jang lupa baca yang ini; Pojok Kitab Suci; Ke Dunia yang Terluka: Di Situlah Kita Diutus


Tentu mesti direnungkan apa dicanangkan sebagai tema pada Hari Orang Sakit Sedunia tahun 2024, sebagaimana yang diserukan oleh Paus Fransiskus, “Tidak baiklah kalau manusia itu sendirian” (Kej 2:18). Bagi kita Tuhan menghadirkan ‘seorang penolong.’ Dan hal sama juga berlaku ketika kita mesti merasa terpanggil untuk menjadi penolong bagi sesama, terutama bagi yang sakit dan menderita.


Keempat: akhirnya kedekatan kita, keterlibatan kita dengan orang-orang sakit, atau rasa persaudaraan kita dengan orang-orang sakit sungguh mengingatkan kita dan meneguhkan kita bahwa selalu terbuka saatnya bahwa ‘kita juga adalah kaum penderita dan mesti mengalami keletihan fisik dan rohani, dan terbilang sebagai orang-orang sakit.



Saudara-saudari kita yang sakit, melemah dan menderita telah bunyikan alarm kehidupan bahwa betapa pentingnya kesehatan jiwa raga yang mesti diperjuangkan. Pun mengingatkan kita pula bahwa kita selalu bisa ada di jalan yang sama.


Tetapi, tugas kita yang utama, adalah mendoakan saudara-saudari kita yang sakit, tua dan menjadi tak melemah dan tak berdaya dalam situasinya. Kita memeterai semua perhatian dan tindakan kita demi para orang sakit di dalam permohonan berkat Tuhan.


Verbo Dei Amorem Spiranti

Mari kita renungkan kata-kata St. Arnoldus Janssen (perayaan 15 Januari):
  1. Pendiri SVD        : 1875
  2. Pendiri SSpS       :  1889
  3. Pendiri SSpS-Ap :  1896
  1. "Tabahkanlah hatimu dengan gembira, jangan merasa cemas bila salib-salibmu sering-sering terlalu kasar, terlalu berat dan tajam pada sisi-sisinya. Semuanya akan berakhir, tapi ganjaran yang abadi tak kan ada kesudahannya." 
  2. "Teguhkanlah hatimu dan percayalah kepada Allah. Sesudah hari-hari gelap akan menyusul hari-hari cerah. Anggaplah semuanya ini sebagai hal yang pasti."
  3. Sebagaimana seorang pengemis tidak dapat menyombongkan diri, kalau ia menerima pemberian-pemberian yang besar, demikian pula kita tidak  boleh bersikap angkuh atas anugerah-anugerah Allah."
  4. "Berbahagialah orang yang tidak takut untuk hidup dalam ribuan pengorbanan dan kekurangan demi memperoleh banyak orang bagi Kristus."
  5. "Semakin banyak kita menghormati ROH KUDUS, kita semakin layak untuk menerima karunia-karuniaNYA."

St. ARNOLDUS JANSSEN,
DOAKANLAH KAMI
AMIN







Baca juga di sini, Kisah Tentang Kita ;


Yayasan Ayo Indonesia atas dukungan Missionprokur SVD Steinhauzen Swiss melakukan suatu survei pasar untuk mengetahui pasokan dan permintaan sayur-sayuran di Pasar Lembor, Ruteng, dan Borong. Hasil survei ini kemudian menjadi acuan dalam menyusun suatu panduan pola dan waktu tanam yang terfokus pada pasar  

   Mangga bantuan dari Program kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan Missionprokur SVD Steinhauzen - Swiss, ternyata tumbuh baik dan sudah menghasilkan uang untuk penerima bantuan bibit mangga tersebut tahun 2014 di Lengkong Cepang, Lembor Selatan.Didokumentasikan oleh Stef Jegaut, Selasa (15/8/2023) 




Pada program Pemberdayaan Sosial-Ekonomi, kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan Missionprokur SVD Steinhauzen - Swiss tahun 2014, salah satu kegiatannya, adalah mempromosikan pembuatan Toilet dan Septik Tank menggunakan bambu untuk menggantikan fungsi besi beton, ternyata masih bertahan kuat sampai saat ini di Lengkong Cepang. Didokumentasikan oleh Stef Jegaut,Selasa (15/8/2023).

Adalah Koperasi Simpan Pinjam Inklusi di Manggarai, 25 orang Penyandang Disabilitas telah menjadi Anggota KSP Credit Union Florette: Menyediakan Pinjaman Berbunga Rendah, melakukan Upaya Pemberdayaan Sosial Ekonomi (bisnis) dan mengajarkan Literasi/Melek Keuangan. Kerja sama dengan Yayasan Ayo Indonesia (Rumah Belajar)


Jasa Rental Kendaraan untuk Anda, Kami Siap Melayani dengan HATI:




Ayo Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama
Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong


Posting Komentar

0 Komentar