Header Ads Widget

Satu Permenungan Iman Katolik; Kita Bukan Lagi Orang Asing dan Pendatang

Kita Bukan Lagi Orang Asing dan Pendatang
(demi memeluk citra kebangsaan)
-satu permenungan-



“Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ hari-hari ini?”

(Kleopas kepada Yesus, dalam bingkai percakapan menuju Emaus, Lukas 24:18)



Baca juga yang ini; Renungan Harian Katolik: Ziarah hidup kita adalah jalan panjang


Kita lagi benturan?


Tanda ketidaksiapan hati makin menderang. Yang terjadi hari-hari ini adalah kata hati penuh amarah. Kita berontak. Hanya karena satu dua kisah yang tak diantisipasi. Letupan emosi menggelegar. Semburan sumpah serapah berseliweran. Yang dilihat di luar diri adalah sasaran perlawanan. Sebab, di situ banyak tersimpan segala ‘yang mengancam.’
Rasa terancam adalah bibit nan unggul untuk alam permusuhan. Dan alam luar lah yang dituduh sebagai sumber kegalauan dan kerancuan itu. Namun, sekian lupa kah kita bahwa sindrom rasa ‘memiliki yang keterlaluan’ bisa pula jadi awal pertentangan yang berujung petaka?

Kibaran bendera permusuhan


“Ketika engkau tetapkan sesuatu sebagai milikmu, sejak itu pula bendera permusuhan dikibarkan,” begitu kira-kira apa yang dapat ditangkap dari Henri Nouwen. Sebab, kita sendiri bakal tak sanggup membendung hasrat dari yang lain, yang berjuang pula untuk ‘menggapainya.’

Sebenarnya, di hari-hari ini, kita tak sedang nyaman di satu kepastian. Kita hanya tengah bertarung untuk meraihnya. Dan lalu terus ingin mempertahankannya. Dan ketahuilah, kita tak pernah sendiri menjangkaui semuanya. Sejuta tangan ingin meraih tongkat kekuasaan. Ribut dan bising tak terelakan.


Baca juga yang ini; Pojok KITAB SUCI; Bro, Jangan Disangka Zakheus itu Tak Gesit….


Kita pun sebenarnya terjerembab dalam ‘dictum et practicum penuh paradoks.’ Kita muliakan segala keberagaman dalam varian orasi. Tetapi, kenyataannya, kita gegar dalam aksi. Pluralitas adalah keniscayaan kita, tetapi kita lebih berkiblat dalam ketunggalan yang sungguh narcistik dan bahkan ekstrim. Ribut dan bising pun, sekali lagi, tak terelakan.

Agenda perjuangan kita


Di balik semuanya, sebenarnya hanya ada satu pertanyaan: Apa yang sungguh diperjuangkan? Yang diperjuangkan itu telah dibakukan dalam forma. Telah mengental dan mengedap dalam rongga otak dan hati. Dan semuanya berimbas pada mental, cara, dan isi berpikir. Bermuara pula pada reaksi bertindak.


Kita memang lagi berbentur dan dikepung dalam situasi tak pasti. Namun, anehnya semuanya itu telah pastikan satu ketidakpastian suasana hati. Tak ada yang mesti digenggam demi keteduhan jiwa. Tak ada pijakan untuk berdiri di atas rasa damai.



Hidup, akhir-akhir ini, kata orang, hanya berbasis pada tafsiran demi tafsiran. Disusun dalam imaginasi demi imaginasi. Dikaroseri dalam curiga demi curiga. Kita, akhirnya, hanya menyusun strategi demi stragegi ‘bukan pertama-tama agar kita nyaman dalam hidup.’ Tidak! Tetapi terlebih untuk mengenyahkan dan mengalahkan apa pun yang telah dipaket dalam curiga!

Kebenaran yang ditikungi


Di titik ini, kita pasti teringat Jean Piaget. Psikolog Swiss itu sepertinya ‘sudah menegur’ kita untuk tak terlalu lancang dalam lalu lintas informasi tanpa data! Serasa hidup ini telah melebar dari apa yang disebutnya sebagai akomodasi dan asimilasi. Sepantasnya, skema diri kita dan seluruh gerak hidup yang terpaket dalam keyakinan, disepadankan dengan informasi baru dan benar.


Mari kita kembali lagi pada G. Mohamad. Katanya, sudah pada nyata-nyata, “Kebenaran telah turun takhta.” Orang lebih peduli pada konsumsi informasi yang ‘menguntungkan.’ Memaksa tafsiran sendiri sebagai kebenaran (mutlak). Kebenaran sebagai sungguh benar hendak dibuat jadi ‘bebek lumpuh.’


Kita tenggelam dalam “persepsi kita tentang realitas agar konsisten dengan apa yang kini yakini.” Di sini, perangkap bias asimilasi sungguh menjerat akal sehat dan nurani. Kita paksakan segala tesis dan diktum pribadi sebagai keyakinan.

Sebegitu mudah dan murah kah sebuah sumpah?


Dan, lihainya lagi, kita pagari keyakinan itu dengan keberanian ‘sumpah walau berkonsekwensi maut dan neraka jahanam sekali pun.’ Tak cukup di situ. Dan karena ‘sikap heroisme sepihak itu’ maka tesis itu harus dipastikan sebagai kebenaran!



Tetapi, aura suram kehidupan dalam kebhinekaan tak hanya berhenti di situ. Ada hal yang lebih pelik yang menggoroti sendi-sendi kehidupan bersama. Kita lagi ditorpedo gerakan pengasingan. Nampaknya alineasi kebangsaan telah jadi mega proyek. Dirakit sekian sistemik demi sebuah orientasi kebangsaan yang ‘murni sepihak dan hanya kita.’ Sebab, ‘yang bukan kita selalu disorot dalam konteks relasi adversarius opositoris yang mesti dikebiri, dienyahkan dan harus dipastikan tak berkutik! Kalah telak dan musnah.


Sebenarnya, kita lagi gelisah oleh alam asing di dalam diri sendiri. Kita pun lagi tak karuan hati dengan segala gerak-gerik sesama. Kita lagi ekstra waspada dalam alam lingkungan, dengan situasi dan kondisi yang kita tatap bulat-bulat dengan sorot mata tajam mengandung curiga: ‘semuanya pasti punya manuver dengan segala intrik yang membahayakan.’

Perang narasi dalam desingan peluru kata


Kata Bang Ebiet G Ade, “Di bumi yang berputar, pasti ada gejolak. Ikuti saja iramanya. Isi dengan rasa…” Proyek gigantik untuk sebuah rasa saling mengasingkan mesti dirubuhkan. Mesti dibiarkan mangkrak selamanya. Dan pada gilirannya citra kebangsaan yang berwibawa mesti dibangun pantang mundur dan penuh perjuangan.

Baca juga yang ini; Renungan Harian Katolik; MEMANDANG sesama dengan kerendahan hati dan penuh keramahan

Kita memang lagi ramai dengan desingan peluru-peluru kata bersuara. Tak peduli apakah kata-kata itu sungguh dikandung oleh rahim kebenaran, dan lalu lahirkan kepastian dan kesejukan, atau sebaliknya hanya ‘sekedar bersuara untuk merakit kebisingan?’

Kepatuhan pada tanda-tanda zaman?

Maka di sini, tentu tak sekedar ditangkap dan ‘diisi dengan rasa.’ Kemampuan membaca tanda-tanda zaman adalah kemutlakan. Sebab itu, ratifikasi dan optimalisasi isi dan cara berpikir integral dan menyeluruh (holistik), mesti tercerahkan dalam ‘keterbukaan ratio (akal budi) dan hati nurani yang sehat.’


Jika memang tak sanggup membedah tanda-tanda zaman dengan indah, ini tentu jadi alarm maut penuh risiko. Kita bakal tetap terperangkap dalam situasi asing. Dan lebih ngeri dari itu, kita bakal jadi ‘orang asing di tanah dan dalam rumah kebangsaan kita sendiri.’ Sesungguhnya, kita pasti tak ingin seperti itu.

Akhirnya…


Sebab itulah, biarlah kita berpatok sederhana pada keyakinan, “Ergo iam non sumus hospites, et advenae.” Iya, ‘kita kini, bukan lagi orang asing dan pendatang.’ Dan karenanya, kita terpanggil untuk mendengar, membaca dan mengetahui serta bersikap secara benar tentang segala apa yang terjadi dan tengah bergolak hari-hari ini. Semuanya demi sebuah masa depan bersama nan cerah. Tanpa penyesalan.


Benarlah si Jackie Joyner-Kersee, atlet Amerika itu. Tulisnya, “Lebih baik melihat ke depan dan mempersiapkan diri daripada (nantinya) melihat ke belakang dan menyesal.”

Bukankah demikian?
Verbo Dei Amorem Spiranti

P. Kons Beo, SVD


Posting Komentar

0 Komentar