Header Ads Widget

Renungan Harian Katolik; NAMUN, tak mudah menatap penuh rindu masa depan abadi itu.


Umat di Kelompok Basis Gerejani (KBG) Santu Yosep Woang, Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong, Keuskupan Ruteng, Kamis (12/5/2022) malam mengikuti katekese tentang Tahun Pastoral Pariwisata HOLISTIK. Katekese difasilitasi oleh Herman Jenidu, Seksi Pewartaan.

Jumat, 13 Mei 2022

PATER KONS BEO,SVD

(Pekan Paskah IV, St Andreas Fournet)
Bacaan I Kisah Para Rasul 13:26-33
Mazmur Tanggapan Mzm 2:6-7.8-9.10-11
Injil Yohanes 14:1-6
"Di ruman Bapa-Ku banyak tempat tinggal""Yoh 14:2

(In domo Patris mei mansiĆ²nes multae sunt)


ADA saatnya nanti langkah kaki kita mesti terhenti. Ziarah hidup ini pasti berakhir. Segala alamat di bumi yang kita tujui memang tak abadi.

TETAPI, adakah tempat tujuan kekal hidup kita setelah berakhirnya segala kefanaan ini? Sepantasnya inilah yang jadi pertanyaan kunci bagi setiap kita. Kita menaruh harapan sepenuhnya pada Yesus. Sebab Dia-lah jaminan hidup kita. Selamanya.

NAMUN, tak mudah menatap penuh rindu masa depan abadi itu. Badai kegelisahan bisa datang mendera isi kehidupan ini. Sebab kita sekian kuatir akan hidup. Kita kuatir mengenai apa yang kita pakai, apa yang kita makan' (cf Luk 12:22). Kita menjadi gelisah akan apa yang dilabelkan wajib kita kerjakan dan penuhi. 

BUKANKAH segala yang kita usahakan di kesementaraan ini terbanyak sebatas memberi 'rasa nyaman sesaat?' Kita ingin tenang dan nikmati dari segala yang kita kumpulkan. Sebab siapa pun tak ingin terlantar, tak menentu di jalan hidup ini.

TETAPI, dapat saja terjadi bahwa apa yang kita usahakan dan raih itu justru menjadi sumber kerisauan. Sebab rasa hati yang tak pernah cukup dan tak pernah puas senantiasa datang mengusik. Kita bisa menjadi panik karena 'segala yang belum' dan tak mau jedah sejenak untuk bersukacita atas 'semua yang sudah.' 

DI TITIK inilah, iman menantang kita untuk memandang Tuhan. Untuk mendengarkan suaraNya. Untuk menyerahkan tapak-tapak ziarah hidup kita dalam tuntunan dan penyelenggaraanNya. 

GELISAH dan berbagai ungkapan hati tak karuan adalah aura nyata di jalan hidup ini. Tetapi, apakah kita mesti terbantai serta digilastindas, dan pada akhirnya kalah telak oleh  kegelisahan? 

TAK ada yang abadi. Pada akhirnya semua di dunia tetap berjalan dalam irama dan hukum dunia. 'Kemah-kemah yang kita bangun akan dibongkar,' kata Rasul Paulus. Tetapi bukan kah bagi kita Allah telah menyiapkan rumah abadi (cf 2Kor 5:1)?

"DI RUMAH BapaKu banyak tempat tinggal." Itulah harapan dan kepastian bagi kita semua. Tuhan mengajak dan menuntun kita semua ke rumah istimewa itu. Tetapi, tetap ada satu syarat menuju rumah kekal itu. Iya, menuju Rumah Bapa itu. 

TIDAK KAH Tuhan menuntut kita untuk bebas dari segala kelekatan? Sesuatu yang  tak mudah bagi kita. Tak gampang melepaskan dan berserah atas segala yang kita usahakan, yang kita perjuangkan, serta apa yang telah kita raih. 

NAMUN, hanya dengan jalan itulah kita penuh ceriah bisa dituntun Yesus, Tuhan, menuju Rumah Bapa. Dan pasti ada tempat buat kita.


*Verbo Dei Amorem Spiranti*


Tuhan memberkati.

Amin. Alleluia.

Posting Komentar

0 Komentar