Header Ads Widget

Satu Permenungan di Bulan Nopember; Kepada Yang Telah Berpulang

Kepada Yang Telah Berpulang
(satu perenungan)

“Kematian tidak lain adalah kembali pulang kepada Tuhan; ikatan cinta tidak akan terputus selama-lamanya”
(St Bunda Teresa dari Kalkuta, 1910 - 1997)



P. Kons Beo, SVD



Nafas Hidup: anugerah terindah



Kepastian itu memang milik kita semua. Iya, kepastian di dalam kisah kematian. Tinggal pada kapan dan bagaimana bagaimana kisah kita bakal mengembuskan napas terakhir itu. 'Takdir alam' tampaknya telah memastikan bahwa 'kesementaraanlah jalan semua kita.' Jangan terelakan. Benarlah si Pengkhotbah, “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal” (Pengkhotbah 3:2)


Mencari waktu telah diperuntukkan buat setiap kita. Itulah pecahan-pecahan dari keabadian waktu. Iya, mengalir dari 'Sepanjang Segala Masa Ilahi.' Milik Tuhan sendiri. Tuhan sesungguhnya telah tiupkan nafas penuh daya agar setiap kita menjadi 'hidup.' Bukankah nafas kehidupan adalah anugerah terindah bagi setiap kita?



Tak boleh disia-siakan


Kiranya hidup ini tidaklah disia-siakan. Tuhan tak hadirkan kita tabula rasa. Seolah-olah bagai selembar kertas kosong, tak ada bekal sedikit pun untuk membuat perjalanan di kesementaraan ini. Tidak! Maka, mulailah kita dengan apa yang kita miliki. Sepantasnya dimeteraikanlah semuanya dalam usaha, semangat, perjuangan pengorbanan serta kesetiaan. Di situlah nilai-nilai kehidupan terpatri.

Talenta ini harus digandakan! Hidup harus dipertaruhkan agar bernilai dan berarti. 'Tetap jalani saja hidup ini. Demi melakukan yang terbaik.' Tak gunakan salah bermuram durja penuh putus asa jika memang tantangan dan cobaan datang menghadang. Itulah keniscayaan riak-riak dalam kehidupan.


Tuhan hanya ingin melihat: Apakah setiap kita memang setia dan penuh perjuangan dari anugerah yang diberikanNya? Tataplah siapa pun sesama kita! Andai sesama punya sukses? Punya pencapaian? disebut kegemilangan? Tiba-tiba berkata? Nampaknya semua tersedia? Pandanglah semuanya dengan mata harapan. Sekiranya semuanya ditangkap sebagai pijar-pijar inspiratif demi semangat hidup buat diri kita sendiri.

Berjuanglah selalu


Tak usahlah mendengki. Jauhkanlah iri hati. Hentikanlah secepatnya riak-riak 'kecemburuan sosial' tak pada tempatnya. Kata Tuhan, 'Kita jauh lebih berharga dari bunga bakung seindah apapun dia; kita jauh melampaui burung-burung di udara yang tak menanam dan menuai namun diberi makan oleh Allah' (lih. Matius 6:25-34).


Kita memang harus berjuang dan berjuang di ziarah kehidupan ini. Hidup ini memang tak boleh disia-siakan dan mesti jadi berkat nyata. Nelson Mandela, Pemimpin besar Afrika Selatan itu, pernah membakar semangat bangsanya dengan seruan penuh kobar yang ditangkapnya dari William Shakespeare, “Orang yang tidak berjuang akan mati berulang-ulang sebelum ia mati sesungguhnya.” Sungguh, vita est milisi, 'hidup adalah perjuangan.'

Siapapun tak menginginkan dirinya mati berulang-ulang dalam hidup sebelum ajal datang menjemputnya pasti. Siapapun tak sudi bahwa jalan hidupnya 'hanya sebatas yang itu-itu saja.' Siapapun tak mau hidup tertutup mati tanpa kreasi, tanpa alternatif, tanpa inovatif, serta tanpa berbagai kemungkinan demi perkembangan hidup itu sendiri.


Kesempatan tetap terbuka


Di dunia yang fana, namun penuh dengan 'litania kesempatan,' setiap jalan hidup kita masih tetap terbuka luas. Terbentang lebar. Kisah-kisah kita belumlah berakhir sebelum Kuasa Langit memastikan dan memanggil kita untuk kembali pulang.



Saat kita jatuh dalam 'kematian minor berukuran kecil' ditampar rasa kecewa, putus asa, kebosanan, sakit hati, rasa terluka dan direndahkan, tak diperhitungkan, rekaman tetap menonton bisikan suara ilahi dan masih tetap terdengar suara orang-orang benar dan beriman yang menjerit ' bangun dan berjalanlah dalam semangat dan harapan'? Itulah yang dialami oleh si timpang yang tersembuhkan. Sebab dalam Yesus, hidupnya tak boleh lagi 'hanya sebatas area tilam itu' (lih. Yohanes 5:8).



Dalam Yesus yang penuh kuasa, hidup itu harus 'bergerak, berubah, sungguh menjadi hidup.' Iya, dalam Yesus 'hidup itu harus berbuah dan menghasilkan dan tak boleh tetap saja menganggur tanpa orientasi dan sungguh kehilangan arah' (lih. Matius 20:6). Daya hidup sungguh tak boleh mati tanpa usaha dan perjuangan yang hanya berakhir pada kesiaan-siaan (lih. Matius 25:26-30).


Dunia: Sekolah Kehidupan


Bagaimana pun di sepanjang ziarah bumi, kesementaraan ini adalah sekolah kehidupan penuh harapan. Banyak pelajaran tanpa kata yang membawa rasa. Tataplah penuh teduh tubuh lemah, letih lesu tak berdaya, kurus dan terbungkuk itu! Namun dari situ tetap terpancar semangat penuh makna yang tak pernah surut bagi setiap kita. Sepertinya kita diserukan untuk tetap berjuang dan teruslah berjuang sebelum semuanya ditamatkan oleh Tuhan keabadian. Si empunya segala kehidupan ini.



Walau raga telah tiada, jiwa penuh hidup tak pernah pudar Tetapi
akhirnya, kengangkanlah pula semua mereka yang telah kembali berpulang ke hadirat ilahi. Ada banyak jalan dan tapak-tapak berkat yang telah mereka lewati. Segalanya kini telah menjadi wasiat dan warisan penuh makna. Semuanya kini hanya dapat kembali dalam rindu dan nostalgia hening nan sepih.

Bagaimana pun, di atas segalanya, bersyukurlah akan warisan iman kristiani. Orangtua yang telah berpulang itu telah menjadikan kita tertenun dalam iman - harapan - kasih di dalam Yesus, Tuhan. Itulah harta teramat mulia yang mereka wariskan.


Hanya kepadaNya kita kembali


Dan pada suatu saat, dalam iman, harapan dan kasih itu, kita semua akan kembali kepadaNya. Berkumpul bersama dalam kebahagiaan dan kebahagiaan abadi surga. Kesementaraan ini akan berlalu. Yakinlah “...jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat perumahan di sorga” (2Korintus 5:1).

Hidup tetaplah anugerah. Kita jalani penuh kegembiraan, sambil tetap berjaga-jaga demi menuju Kasih Abadi. Saat kita mengunjungi semua mereka, orang tua, sanak keluarga, sahabat, kenalan di peristirahatan terakhir, tetap dilanda harapan agar cita-cita dan harapan mulia mereka tak boleh pudar. Kita berikhtiar melanjutkan sebisanya di dalam pecahan-pecahan waktu yang tersisa.....


Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro - Roma



Baca juga di sini, Kisah Tentang Kita ;https://www.indonesiana.id/profil/27530/Richard-Roden 

Pater Kons Beo, SVD

Yayasan Ayo Indonesia atas dukungan Missionprokur SVD Steinhauzen Swiss melakukan suatu survei pasar untuk mengetahui pasokan dan permintaan sayur-sayuran di Pasar Lembor, Ruteng, dan Borong. Hasil survei ini kemudian menjadi acuan dalam menyusun suatu panduan pola dan waktu tanam yang terfokus pada pasar  

   
   Mangga bantuan dari Program kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan Missionprokur SVD Steinhauzen Swiss ternyata tumbuh baik dan sudah menghasilkan uang untuk penerima bantuan bibit mangga tahun 2014 di Lengkong Cepang. Didokumentasikan oleh Stef Jegaut, Selasa (15/8/2023)




Pada program Pemberdayaan Sosial-Ekonomi, kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan Missionprokur SVD Steinhauzen Swiss tahun 2014, salah satu kegiatannya, adalah mempromosikan pembuatan Toilet dan Septik Tank menggunakan bambu untuk menggantikan fungsi besi beton, ternyata masih bertahan kuat sampai saat ini di Lengkong Cepang. Didokumentasikan oleh Stef Jegaut,Selasa (15/8/2023).


Adalah Koperasi Simpan Pinjam Inklusi di Manggarai, 25 orang Penyayang Disabilitas telah menjadi Anggota.   KSP CU Florette: Menyediakan Pinjaman Berbunga Rendah, melakukan Upaya Pemberdayaan Sosial Ekonomi (bisnis) dan mengajarkan Literasi/Melek Keuangan. Kerja sama dengan Yayasan Ayo Indonesia (Rumah Belajar)



Jasa Rental Kendaraan untuk Anda, Kami Siap Melayani dengan HATI: https://rentalmobilgatraruteng-labuanbajo.com/




Posting Komentar

0 Komentar