Header Ads Widget

Pembekalan tentang Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) tahun 2022 Bagi Pemandu Katekese

Dewan Pastoral Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong menyelenggarakan pembekalan kepada 30 orang Fasilitator Katekese Paroki tentang Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) dan Metode Katekese,Sabtu (27/8/2022) bertempat di Pendopa Pastoran. Para peserta pembekalan, terdiri dari pengurus wilayah, pengurus KBG dan utusan biarawati yang berkarya di Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong.


umpungjayasiar.com, RUTENG. Dewan Pastoral Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong menyelenggarakan pembekalan kepada 28 orang Fasilitator Katekese Paroki tentang Tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) dan Metode Katekese,Sabtu (27/8/2022), bertempat di Pendopo Pastoran. Para peserta pembekalan, terdiri dari pengurus Wilayah, pengurus KBG dan utusan biarawati yang berkarya di Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong.

Baca juga yang ini; Renungan Harian KATOLIK; TETAPI, kisah kematian tragis itu mengapa mesti terjadi?

Pater Kristianus Sambu, SVD, Pastor Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong dalam kata sambutannya ketika membuka kegiatan, menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang berpartisipasi pada kegiatan pembekalan kali ini.

Pembekalan ini, Kata Pater Kris, bertujuan meningkatkan keterampilan pemandu dalam memfasilitasi katekese dan juga memperkuat kemandirian paroki kita terkait ketersediaan sumberdaya manusia untuk melaksanakan layanan pastoral Kerygma (pewartaan Sabda Allah) sehingga paroki kita mempunyai kekhasan sebagai paroki yang dikelola oleh SVD, dimana sang sabda harus hidup, tidak dalam kata – kata saja, namun kita menghayatinya dalam hidup sehari-hari di Keluarga, Komunitas Basis dan Biara-biara.

Baca juga yang ini;Pojok KITAB SUCI; Selera ‘Bikin Diri Sendiri Penting’ Sungguh Merepotkan

Paroki kita Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong yang dipercayakan oleh Keuskupan Ruteng untuk dikelola oleh SVD, kalau kita masih ingat pada Natal 2020, jelas Pater Kris, Bapa Uskup menantang kita tentang dimana letak kekhasan paroki ini yang dikelola oleh SVD. Kekhasan kita paling pertama, adalah kita harus unggul dalam pemahaman dan pewartaan Kitab Suci.

Pater Yosep Masan Toron, SVD sedang menjelaskan tentang Tema BKSN Tahun 2022

Oleh karena itu, lanjut Pater Kris, kita patut berterima kasih kepada Pater Yosep, Ketua Komisi Kitab Suci untuk provinsi SVD Ruteng, yang selalu antusias menerima undangan-undangan kita untuk memberikan sosialisasi atau pembekelan. Mungkin kita bertanya, kenapa setiap tahun kita mengikuti pembekalan, sebetulnya, setiap tahun akan terjadi peningkatan pendalaman, dimana kita semakin memperdalam tentang sabda allah karena memang pada dasarnya Sabda Tuhan tidak pernah terbatas pada penjelasan hari ini, perikop yang sama, kita baca hari ini, tafsir hari ini besok mungkin berbeda secara konteks sehingga proses dalam mengenal Sabda Tuhan, pertama, bagi kita yang akan menjadi tim pemandu, dan kedua, setelah kita memperdalam hal itu, kita membagi dan menghayati dalam kehidupan keluarga, kelompok dan biara, dengan demikian kita sudah menjadi seorang pewarta.

Baca juga yang ini : Satu Permenungan: Berani Memeluk Diri Yang Tak Indah

Oleh sebab itu, kata Pater Kris, saya mengajak kita untuk terus memperdalam secara pengetahuan dan dari segi ketrampilan, kemudian kita sendiri menghidupi Sabda Tuhan dalam hati kita sehingga perwartaan kita akan jauh lebih bermakna.

Tahun lalu kita punya pengalaman baik dan mengesankan dimana pengurus KBG yang telah dilatih menjadi pemandu katekese di KBG masing-masing dan umat antusias untuk menghadiri katekese, respon umat sangat positip bahkan mereka membagi pengalaman hidupnya sampai ada yang menangis sebab mereka berhadapan dengan situasi yang sulit saat itu, yaitu masa pandemic covid-19.
Pater Yosep Masan Toron, Ketua Komisi Kitab Suci di Provinsi SVD Ruteng pada kesempatan menjelaskan pengantar awal presentasinya, mengatakan, saya patut menyampaikan terima kasih dan profisiat kepada Dewan Pastoral Paroki Ekaristi Kudus yang telah memberi tanggapan baik untuk melaksanakan pembekalan bagi Fasilitator Katekesa dalam rangka Perayaan Hari Kitab Suci Nasional (BKSN) tahun 2022. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada kita semua, sebab tahun lalu dalam rangka BKSN yang mengangkat tema Yesus Sahabat Seperjalanan kita, kami melakukan pembekalan kepada anda sekalian selaku Fasilitator dan sudah menerapkannya di setiap KBG dengan baik.

Pater Yosep Masan Toron, SVD, Ketua Komisi Kitab Suci di Provinsi SVD Ruteng

Paroki kita punya pelindung ekaristi kudus, our name is our mission, nama adalah misi, kalau paroki kita adalah paroki ekaristi kudus maka misi kita adalah mempromosikan dan mengamalkan ekaristi itu. Untuk kita orang katolik ada dua sumber atau dua meja perjamuan, yaitu meja pertama adalah meja sabda dan meja kedua, adalah meja ekaristi, dua hal ini harus berjalan bersama- sama untuk menghidupi spirit kekristenan kita, identitas kita di situ. Hal ini merupakan seruan dari konsili vatikan kedua tahun 1965, namun pertanyaannya sekarang, sejauh mana kita mewujudkan dan mengimplementasikan harapan dari bapak-bapak konsili dalam kehidupan kita sebagai orang katolik?, Hemat saya, secara umum masih ada jarak antara mimpi dan realitas, itu artinya ekaristi kita rayakan dan Kitab Suci kita baca tetapi implementasinya dalam keseharian kita belum optimal, namun tidak apa-apa sebab kita masih berproses tahap demi tahap kita berjuang untuk itu.

Untuk kita ketahui bersama, jelas Pater Yosep, SVD masuk Manggarai pada tahun 1913, atau sudah 119 tahun SVD berkarya di Manggarai, yang menjadi pertanyaan kemudian spirit SVD yang notabene adalah firman atau sabda yang telah menjelma menjadi daging itu seperti apa?, ini yang menjadi perjuangan kita bersama, maka saya sungguh berterima kasih bahwa kita memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk membantu SVD mempromosikan dan menunjukkan jati diri kita sebagai Paroki yang dikelola oleh SVD, kita punya semangat dalam hal Sabda.
Dan tahun ini, lanjut Pater Yosep, kita merenungkan tema BKSN paska covid, meski covid masih ada tetapi situasinya semakin menurun dan kita pada tahun ini merenungkan tema Allah Sumber Harapan Hidup Baru. Tema ini mengambil inspirasi dari karya Nabi Amos dan Hosea. Kita membangun iman dan harapan bahwa Allah itu sungguh sumber pengharapan. Pandemi yang sudah mulai mereda memberikan harapan akan hidup baru. Harapan ini bukan hanya sekadar menjalani kehidupan dengan protokol new normal, melainkan harapan yang berhubungan dengan peningkatan kualitas hidup, relasi sosial, dan relasi dengan Allah.

Nabi Amos ungkap Pater Yosep merupakan seorang peternak domba dari Tekoa, dekat Betlehem (Am. 1:1), di bagian selatan Israel. Profesi lain dari Amos adalah pemetik buah ara (Am. 7:14). Meskipun demikian, ia dipanggil Tuhan menjadi nabi dan bernubuat di wilayah utara Israel. Ia diperkirakan berkarya pada masa pemerintahan Raja Yerobeam II di Kerajaan Utara (760-750 SM) dan Raja Uzia di Kerajaan Selatan (783-743 SM). Pada periode ini, bangsa Israel mengalami kemajuan dan kemakmuran. Wilayah kerajaan makin diperluas dan perdagangan makin berkembang. Sayangnya, kemajuan dan kemakmuran ini mendatangkan mentalitas konsumerisme, ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, dan hidup keagamaan yang palsu. Mereka yang berkuasa dan kaya memakai keunggulan mereka demi kemapanan hidup mereka sendiri. Terjadi penindasan dan ketidakpedulian terhadap masyarakat kecil. Ibadah mereka yang kelihatannya dipenuhi dengan kurban bakaran tidak sesuai dengan praktik hidup harian yang amat jauh dari kebenaran dan keadilan. Amos tampil untuk membela hak orang-orang kecil. Ia mengecam terjadinya ketidakadilan sosial, kemerosotan moral, materialisme, dan hidup keagamaan yang palsu. Ia sendiri dianggap gila dan aneh karena mewartakan keruntuhan dan kehancuran Israel di tengah keadaan yang makmur dan kuat.


Sedangkan Nabi Hosea, yang namanya berarti “Tuhan adalah keselamatan”, terang Pater Yosep, berasal dari wilayah utara dan berkarya di Kerajaan Utara, sezaman dengan Amos. Pelayanannya tampaknya berakhir beberapa tahun sebelum kehancuran ibu kota Israel, Samaria, pada tahun 722 SM. Karena sezaman dengan Nabi Amos, situasi yang dihadapinya pun sama. Hosea berkonsentrasi pada kehidupan religius orang Israel yang mengalami penurunan drastis. Tema utama dari pewartaannya adalah cinta kasih Allah dan pengkhianatan manusia atas cinta Allah tersebut. Ia memakai term “zina” (misalnya Hos. 2:1) untuk mengungkapkan ketidaksetiaan Israel terhadap Tuhan. Perkawinannya sendiri dengan seorang pelacur yang bernama Gomer merupakan simbol dari upaya Tuhan untuk memanggil kembali Israel yang tidak setia. Nama anak-anaknya juga menegaskan hal yang sama. Secara berturut-turut nama anak-anaknya adalah Yizreel yang berarti “Tuhan menabur” (Hos. 1:4), Lo-Ruhama yang berarti “tidak disayangi” (Hos. 1:6), dan Lo-Ami yang berarti “bukan umat-Ku” (Hos. 1:9).

Bagias Publikasi Paroki :

Rikhardus Roden Urut

Segelas Kopi Arabika produksi KOPSEN KKM, Karya Mandiri Manggarai




Posting Komentar

0 Komentar