Header Ads Widget

Pojok KITAB SUCI; Selera ‘Bikin Diri Sendiri Penting’ Sungguh Merepotkan

Selera ‘Bikin Diri Sendiri Penting’ Sungguh Merepotkan

-Bacalah Injil Lukas 14:1.7-14-


“Semulia-mulianya manusia ialah dia yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika memiliki kedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya untuk membalas dan bersikap adil ketika kuat”

(Abdul Malik bin Marwan, khalifah Umayyah, Madinah-Arab Saudi 646 – Damaskus-Siria 705)

P. Kons Beo, SVD

Gairah demi Posisi Terdepan


Yesus diundang makan di rumah salah seorang pemimpin dari kalangan Farisi. Injil mencatat bahwa semula,“Semua yang hadir mengamati-amati Dia dengan saksama” (Luk 14:1). Yesus nampaknya telah jadi tokoh kunci. Bukan tuan rumah, bukan tampilan dari para undangan lainnya. Bukan pula menu santapan. Sebab, itu tadi, semua pada pasang mata terhadapNya.

Namun, selanjutnya, Yesus, yang semula jadi sorot utama, kini ambil alih posisi sebagai ‘pengamat’ terhadap semua tamu di rumah itu. Dan ada satu hal yang jadi perhatian kunci, yakni, “melihat tamu-tamu berusaha menduduki tempat kehormatan….” (Luk 14:7). Tuan rumah itu mungkin saja sibuk. Ia tak punya kesempatan ‘atur posisi duduk untuk para undangannya.’
Bila kembali pada pengamatan Yesus, maka jelas bahwa para tamu itu punya gejolak hati dan ambisi besar demi satu posisi kehormatan. Sepertinya, setiap tamu ‘ingin bikin diri sendiri penting sekali.’ Sebab itu ada usaha untuk tempati posisi yang selayaknya ‘tak sembarangan.’

Baca juga yang ini; Satu Permenungan dari Seorang Imam Katolik: Kebenaran Itu Tak Akan Pernah Tersekap

Kehormatan ada di tempat terendah dan terakhir


Dari apa yang diamati itu, kita coba menangkap pengajaran Yesus demi jalan hidup keseharian:

Pertama,“kita adalah orang terhormat.” Saat kita diundang, itu berarti ada sesuatu dalam diri kita atau bahwa seluruh diri kita itu ‘diperhitungkan.’ Tuan rumah atau tuan pesta (perjamuan) sudah punya satu keyakinan bahwa ‘kita adalah orang yang layak untuk perjamuannya.’

Yang patut disadari bahwa ‘kita sudah punya tempat dalam rumah undangan itu.’ Dan lebih dari itu, yang lebih utama, bahwa  “kita sudah punya posisi dasar di dalam hati tuan rumah.” Bukan kah posisi dasar itu amatlah bernilai bagi kita?

Baca juga yang ini; Renungan Harian KATOLIK:  Kerja dan berusaha adalah cara paling wajar untuk cita-cita hidup layak.

Bayangkan saja bahwa dunia ini adalah rumah 
perjamuan kita bersama! Tuhan adalah ‘Tuan rumah yang mengundang kita semua.’ Setiap kita tentu sudah punya tempat yang pasti. Tinggal bagaimana kita ‘turut merasa bergembira dalam kebersamaan dan terutama menjaga suasana perjamuan itu.
Kedua, “jangan cari (tempat) kehormatan.” Ini repot ketika tamu tidak pada sadar bahwa ia sebenarnya telah menjadi ‘orang kehormatan’ bagi yang mengundang. Maka si tamu itu harus menjadi sibuk untuk “berusaha mencari dan menempati (tempat) kehormatan demi dirinya sendiri.”

Baca juga yang ini; 
Pater Yosep Masan Toron, SVD : Yesus Sahabat Seperjalanan Kita, Tenanglah Aku ini, Jangan Takut !!

Gairah atau gejolak menderu-deru demi ‘punya nama dan punya posisi’ sering jadi gangguan yang sengit. Dunia jadi sibuk, ribut, kacau bahkan penuh dengan tarung kekerasan akibat gangguan ‘demi posisi, tempat, jabatan atau kuasa.’


Bukankah sekian kasat mata terlihat dan teralami bahwa berbagai strategi kelam dan hitam diamini dan dimainkan demi ‘posisi dan pencitraan’ yang sebenarnya suram? Yesus sungguh tertarik untuk mengajarkan para muridNya demi satu jalan hidup bercitra, yakni kerendahan hati. PesanNya, “Duduklah di tempat rendah!” (Luk 14:10).

Mungkin kah tempat terendah itu adalah tempat yang terakhir dan paling belakang? Ada suara lepas terdengar, “Yesus ajak orang duduk di bagian bawah dan terbelakang, agar lebih gampang untuk melihat ke depan tanpa harus menoleh..” Berbeda dengan ‘yang telah duduk di depan. Akan jadi sulit untuk menoleh ke belakang. Kita memang harus ‘merendah’ agar dari situ kita belajar untu berjalan menjadi ‘besar’ dalam perjuangan dan usaha yang wajar.

Bisa dirumuskan dalam ‘bahasa pasar’ yang sering terucap selentingan, “Senang sudah dapat posisi dan tempat depan. Sayangnya, sudah mulai lupa orang. Lupa kita-kita yang lain….” Ini tentu berlawanan dengan ‘pencitraan pastoral gaya Yesus sendiri.’


Yesus mengambil ‘citra menjadi sama dengan manusia.’ Ia hidup di tengah-di tengah manusia. Menjadi Hamba yang hina, yang berakhir pada derita di kayu salib (cf Flp 2:7-8). Namun Ia mulai jaya dalam kebangkitan!

Ketiga, “Perjamuan Bagi Semua.” Ini nasihat kecil buat orang yang mengundang Yesus. Intinya adalah luas dan lebarkan area perjamuan ini. Maksudnya, jangan (hanya) undang para sahabat dan saudara-saudara, tetangga-tetangga yang kaya. Alasannya jelas. Kata Yesus, “Karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula, dan dengan demikian engkau mendapat balasnya” (Luk 14:12).
Sebaliknya, perjamuan yang benar dalam pandangan Yesus adalah satu keterbukaan dan kelimpahan suasana yang mesti merangkum “orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta” (Luk 14:13). Ini bisa menjadi gambaran suasana perjamuan surgawi. Allah menarik dan mengundang siapapun dalam satu sukacita bersama. Tanpa syarat.

Hati Kita adalah Ruang Perjamuan


Tetapi, bukan kah juga hati kita sendiri mesti ‘tanda penuh keterbukaan yang luas’? Siapapun akan menjadi ceriah dan penuh sukacita dalam diri dan di dalam ziarah hidupnya jika ia tak terjebak dalam perangkap “pilih-pilih orang.”

Hati kristiani dalam ‘spirit perjamuan Tuhan’ sungguh memangkas kesan dan tendensi elitis. Bahkan hati kristiani yang extra-ordinary (istimewa) itu sanggup merangkul siapapun yang seringkali tak mungkin dalam tata kehidupan keseharian.

Jangankan hanya mengundang orang miskin, cacat, lumpuh atau buta, lebih dari itu berani kah kita mengundang ke perjamuan kita orang-orang yang telah jadi musuh dan pembenci kita? Artinya, tetap punya hati baik dan terbuka bagi siapapun yang ‘bersalah dan berlaku buruk terhadap kita?’

Mari kita buat saja satu pengandaian sekadarnya. Jika dunia ini memang adalah satu Perjamuan Besar, maka Tuhan pasti mengamati-amat kita setiap gerak hidup kita. Entahkah kita terhitung sebagai tamu undangan yang selalu gelisah akan jabatan, posisi dan kuasa? Apakah kita tergolong sebagai kaum yang gemar sekali akan lingkaran elitis dan segala yang beraroma ‘tak berkelas sembarang’? Entahkah kita sanggup tampil sebagai undangan yang merendah dan punya hati yang selalu ceriah?

Akhirnya….


Nasihat dari Kitab Putera Sirakh kiranya menjadi perhatian pula bagi kita. Sebab tertulis:

“Anakku, lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, maka engkau akan lebih disayangi dari pada orang ramah tamah. Makin besar engkau, patutlah makin kau rendahkan dirimu, supaya engkau mendapat karunia di hadapan Tuhan…” (Sirakh 3:17-18).

Dan hati-hatilah jika kita memang punya kecenderung untuk ‘bikin diri penting sekali dan sekian istimewa’ untuk sulit dijangkau oleh siapapun.

Bukan kah demikian?

Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro-Roma

Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong menyelenggarakan Pembekalan Kitab Suci terkait  Bulan Kitab Suci Nasional 2022, bertempat di Pendopo Pastoran Paroki, dihadiri 30 orang anggota Tim Pewarta, Sabtu (28/8/2022)

Posting Komentar

0 Komentar