Header Ads Widget

Renungan HARIAN KATOLIK; TAK bisa kah hati kita teduh pada teguran yang dialamatkan kepada kita?

Senin, 12 September 2022 (Pekan Biasa XXIV, St Eanswida, St Guido)
Bacaan I 1Korintus 11:17-26
Mazmur Tanggapan Mzm 40:7-8a.8b-9.10.17
Injil Lukas 7:1-10

GEREJA PAROKI EKARISTI KUDUS KA REDONG
"Sebab apa yang kuteruskan kepadamu, telah kuterima dari Tuhan..." 1Kor 11:23

(Ego enim accepi a Domino quod et tradidi vobis...)



Baca juga yang ini; Pojok KITAB SUCI ; Adakah Yang Hilang dari Hatimu? Carilah dan Temukanlah Kembali!

KALI ini kita bicara tentang teguran. Siapapun kita, tak ada yang luput dari (dapat) teguran. Ada teguran yang 'halus-halus.' Ada teguran yang 'sedikit menyentak.' Tak lupa, bahwa ada pula teguran yang berdaya dahsyat.

KETIKA Anda mendapatkan satu teguran? Renungkan dalam-dalam bagaimana kata dan suasana hatimu. Bisa saja Anda bereaksi tak terima. Anda protes dan bahkan marah tak setuju. Anda punya rupa-rupa pembenaran bahwa "saya seharusnya tak layak mendapat teguran seperti itu."


BISA terjadi juga bahwa Anda segera melesatkan peluru-peluru demi 'serangan balik' terhadap siapapun yang menegur itu. Sebab bagi Anda, dia yang menegur itu 'tak punya kekuatan moril sedikitpun untuk menegurku.'

ADA hal yang patut dicermati. TAK bisa kah hati kita teduh pada teguran yang dialamatkan kepada kita? Tentu ini butuh kerendahan hati. Butuh pula sikap hati yang sungguh terbuka. Bahwa kita bukanlah manusia segalanya. Sebaliknya kita adalah 'insan penuh retak-retaknya.' Kita sesungguhnya adalah 'manusia debu tanah dalam kerapuhan dan ketakberdayaan.'

Baca juga yang ini: Benang Kusut Yang Belum Terurai?

BERSYUKULAH bahwa ada sesama yang tulus bersuara. Ia sanggup dan punya keberanian hati apa adanya untuk 'bersuara kepada kita.' Tentang apa yang 'tak kita sadari dan tentang apa yang salah dalam sikap dan cara hidup kita. "NAMUN, ingatlah! Ada yang diam tak bersuara tulus langsung padamu.

Tetapi, ia sebenarnya gemar kisahkan ke sana ke mari tentang kelemahan dan kekuranganmu. Anda sebenarnya berada dekat dengan 'para angkota aktif komisi penyiaran tentang keburukan sesamanya'

RASUL Paulus punya hati, sikap penuh ketulusan serta keberanian untuk menegur jemaat Korintus. Dia terbuka apa adanya kepada jemaat. Tidak demi kepentingannya. Namun demi kebaikan hidup bersama jemaat.

"PERTAMA-TAMA aku mendengar bahwa apabila kalian berkumpul sebagai jemaat, ada perpecahan di antara kamu...." (1Kor 11:18). Rasul Paulus berjuang hidupkan satu persekutuan jemaat. Ia berkorban segalanya demi pembangun jemaat. Sayangnya, bahaya 'retak-retak dan pecah' dalam jemaat tetap mengintai.


RASUL Paulus menegur anggota jemaat yang hanya sibuk dan berpikir hanya tentang dirinya sendiri. Tanpa rasa kepedulian sedikitpun. Dilukiskannya penuh tegas:

"APABILA kalian berkumpul bersama-sama, ternyata berkumpulmu itu bukan untuk perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu masing-masing makan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar, dan yang lain mabuk" (1Kor 11:20-21).


PERSEKUTUAN apapun pasti dekati keretakan serius saat orang memang hanya berpikir pada 'kenyangnya sendiri, pada selamatnya sendiri dan sungguh tak peduli pada 'laparnya yang lain.'

SELALU ada suara yang menegur dan mengingatkan kita. Untuk tetap menjujung tinggi persekutuan. Sebagaimana dalam perjamuan Tuhan bersama para muridNya, kita semua dihimpun dalam satu persekutuan. Dan masuk dalam sukacita TUBUH dan DARAH Tuhan yang menyelamatkan.

Verbo Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati. Amin

Posting Komentar

0 Komentar