Header Ads Widget

Satu Permenungan; Cak Nun vs Jokowi dalam Bayang-Bayang Firaun

Cak Nun vs Jokowi dalam Bayang-Bayang Firaun

Sebatas sepak pojok



“Tak ada ide, tak ada fakta, yang tidak diketengahkan secara vulgar dan jelas”

(Fyodor Dostoyevsky, 1821 – 1881, Novelis Rusia)




P. Kons Beo, SVD



Emha Ainun Nadjib, Cak Nun. Hari-hari ini, sudah bikin heboh Tanah Air karenanya. Itu karena Cak Nun lagi bertandang ke Istana. Ia didakwah telah jadi tamu tak terhormat buat Jokowi. Bahkan buat elitis tertentu di lingkaran kekuasaan. Dan adalah Firaun – Haman – Qorun yang dipakai Cak Nun menuju istana itu.


Sebutan Firaun itu saja sudah bikin gempar. Dianggap sebagai satu keterlaluan. Untuk degradasikan Jokowi sebagai Presiden. Sungguh sampai hati Cak Nun sejajarkan Jokowi dengan Firaun. Iya, “Cak Nun.. Entah apa yang merasukimu? Hingga kau tega menghina Presiden kecintaan mayoritas besar rakyat Indonesia?”



Jika Rokcy Gerung beri sebutan “sitting duck” buat Presiden Jokowi, maka itu serasa biasa. Sebab itulah si Gerung. Karena, bila ditafsir dari Rocky, sepertinya aura Jokowi sebagai Presiden sudah meredup. Sudah ‘didudukkan’ dalam Kandang Banteng, PDIP, Partainya sendiri. Seperti tak dapat berdiri bebas lagi. Iya, ini namanya saja sebuah opini.



Tetapi, lain ceritanya, jika ekspresi kontra Jokowi itu lahir dari seorang Cak Nun. Publik pun tersentak. Sepertinya tak nyambung antara kalem dan sejuknya tampilan Cak Nun dengan metafora kegarangan Firaun yang dipanahkan pada Jokowi.


Reaksi kontra Cak Nun pun muncul bagai angin ribut. Cokro TV, misalnya, serasa ‘terbakar.’ Kalimat-kalimat tangkisan perlu dibangun. Tesis-tesis apologetik harus dirangkai. Sebab, yang sudah menggeruduk Jokowi dan lingkaran elit kekuasaan ini bukanlah tokoh sembarangan.



Tapi benar kah Cak Nun lagi bersombong diri untuk mudah menghakimi, seperti kata Guntur Romli? Benar kah ini sepertinya reaksi Cak Nun akibat merasa tak diperlukan, atau tak jadi referensi nasional buat Pak Jokowi, seperti terka-terkaan si Rudi S Kami? Bahkan, sepertinya terlalu keras tanggapan si Deny Siregar, “Kalau bicara politik, ditertawakan saja. Orang juga harus cari makan...” Jangan begitu lah Bung Deny!


Betul kah Cak Nun punya ‘isi dan forma’ argumentum yang ‘murni dan komplit’ untuk sungguh hanya mau menghina Jokowi sebagai Presiden. Pun berlanjut pada Pak Menteri Luhut dan sederet kaum elit lainnya? Pada belakangan di saat-saat ini, katanya, sudah ada ungkap hati penuh sesal dan kata maaf dari Cak Nun.



Bagaimana pun Firaun – Qaman – Qorun sudah menjalar ke sana-ke mari. Dan itu sudah jadi sumbuh pendek kobaran api politik. Terlalu mudah untuk maen tuduh kiri-kanan. Disinyalir bahwa suara Cak Nun itu sudah diorder oleh keompok pembenci Jokowi. Dan memang sudah dianggap beraroma provokatif.



Tetapi, tidak bisa kah ditelisik, misalnya, dalam satu dua tanggapan variatif bernada teduh? Dari pada hanya terpaku pada rasa marah akan diktum Cak Nun itu? Maksudnya, tidak kah ‘orang mesti juga cross to other side untuk ‘bisa membaca secara terbalik’ pesan Cak Nun itu?



Rasanya tak apa lah bila kita sekedar berandai-andai. Walau keluar dari konteks bicara Cak Nun pada waktu itu di Pendopo Cak Durasim, Surabaya.


Tentu tembakan ‘Firaun’ terhadap Jokowi terasa tak sedap bagi telinga para pendukung dan pencinta setianya. Namun, janganlah sekian fanatik untuk tak terjerumus dalam rawa-rawa pengaguman yang melayang-layang. Dan lalu tanpa sadar lagi akan peristiwa politik yang bakal segera terjadi.



Bersyukurlah bahwa “Firaun terhadap Jokowi” itu telah bangkitkan kesadaran pada kekuatan besar pro Jokowi. Itu tanda bahwa aura Jokowi tak pudar. Membelanya adalah tanda masih tetap ada ungkapan kecintaan dari sekian banyak elemen masyarakat.



Tentu, segala counter attack pada Cak Nun, tak hanya sebatas pada Cak Nun secara pribadi. Semuanya bisa jadi tanda peringatan serius pada lawan-lawan politik. Jokowi sekiranya ‘tidak tidur.’ Ia tidak sedang dijadikan sitting duck oleh Bu Mega dan segenap Keluarga Besar PDIP.



Mungkin kah Cak Nun lagi (sengaja) umpan emosi segala titik-titik Pro Jokowi untuk beranilah bergerak secepatnya demi perhelatan Pilpres 2024 itu? Kalah cepat, artinya konvoi sebelah sudah keburu melaju gesit.



Atau di tafsir lainnya? Katakan begini, ‘akui sajalah bahwa Jokowi itu Firaun.’ Itu gelaran bagi raja-raja Mesir yang tak boleh hanya ditangkap sebatas nuansa ‘kejam, bengis, dengan sekian sisi otoriternya.’ Di sisi ini, tentu Jokowi sulit untuk dikatakan sedemikian.



Namun, tangkaplah ‘sepotong Firaun’ itu dalam satu ‘klausul penuh wibawa dan punya pengaruh yang menentukan.’ Di titik ini, mari kita bayangkan saja bahwa ‘Firaun Jokowi’ lagi dalam ketidakstabilan batin. Sekiranya siapa kah sesungguhnya yang harus lanjutkan tongkat estafet RI 01 di tahun 2024 nanti?



Harus ‘buka-bukaan’ untuk bilang si A atau si B jadi bakal calon saja, kata-kata Jokowi masih terdengar samar. Terkesan gugup begitulah untuk bilang to the point.’ Yang sepertinya masih terbungkus dalam retorika Cak Lontong, “yang mesti samar tapi jelas tegas.”



Mesti kah Jokowi harus benar-benar jadi ‘Firaun?’ Yang, misalnya, harus menantang kalimat, “…padahal Pak Jokowi kalau nggak ada PDIP juga aduh kasihan dah,” miliknya Bu Mega di Pidato HUT ke 50 Partai berlambang Banteng itu.


Saat Jokowi sungguh dingatkan pada ‘ikatan Kandang Banteng,’ betapa pada saat kini, ia diingatkan pula oleh si Cak Nun sebagai ‘Firaun’ yang memang berkuasa. Yang mesti sanggup memutuskan! Cak Nun, di titik ini, anggaplah tak serius menghina Pak Jokowi sebagai Presiden.



Yang dilukiskan Cak Nun, jika dibaca dari other side, adalah bahwa “Pak Jokowi sungguh bagai ‘Firaun yang maju kena, mundur pun kena. Bertahan di tempat saja pun lebih kena lagi.’ Sayangnya, sepertinya Jokowi sungguh beda nasib dengan Firaun di Kitab Kejadian dalam Alkitab Dunia Kristen.



Di Kitab Kejadian itu, Firaun memang sungguh berkuasa penuh. Ia tidak bisa dan tidak mungkin diatur-atur oleh pegawai istana dan kepala pengawal Kerajaan Mesir semisal Potifar itu.



Hal seperti ini yang bikin si Ade Armando, dari Cokro TV, misalnya, tak habis pikir. Mengapa masih saja tertahan gerak politik untuk lanjutkan aura Jokowi demi Indonesia Raya?

Apa kah kebanyakan masyarakat Indonesia pun demikian?



Bagaimana pun ini hanyalah sebatas sepak pojok. Yang tentu tak harus pastikan gol dari apa yang sungguh dimaksudkan Cak Nun terhadap Jokowi.



Entahlah…



Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro - Roma



Posting Komentar

0 Komentar