Header Ads Widget

Memperkuat Ketahanan Ekonomi di Masa Pandemi Covid 19 ala Enu Rita, Petani Perempuan Agribisnis


Enu Rita : Panen Rupiah selama masa pandemic covid-19


Petani Perempuan Agribisnis, 34 tahun/Foto RR



Mentimun siap panen/Foto RR

Virus Corona berhasil membatasi ruang gerak manusia, tidak boleh berkumpul banyak orang atau berkerumun, tidak boleh jalan-jalan untuk berlibur, jaga jarak ketika berinteraksi, kegiatan pada pusat pembelanjaan dibatasi jumlah pengujung, cuci tangan pakai sabun dll. Kebiasaan-kebiasaan “ngumpul/Lejong” dalam relasi social mau tidak mau diganti dengan cara baru, jika hendak berkumpul banyak orang, misalnya untuk berdiskusi kita bisa melakukannya secara virtual meski perjumpaan lebih hangat kalau bertemu langsung, dari muka ke muka. Di rumah-rumah ibadah tempat kita menjalankan ritual keagamaan untuk menyembah Tuhan sang pemilik kehidupanpun jumlah jemaat dibatasi, hanya diberbolehkan bangku diduduki 25 persen dari kapasitas tempat duduk yang tersedia, khususnya di Gereja dari umat katolik.

umpungjayasiar.com,Ruteng. Komitmen Pemerintah Daerah mencegah penyebaran covid-19 luar biasa,pantas diacungkan jempol indikasinya jelas, yaitu dikeluarkannya instruksi Gubernur dan Bupati lebih dari 1 kali, dipandang sebagai payung pengaman dan pencegah dari serangan covid-19 agar tidak meluas, memutus rantai penyebarannya dan mungkin berdampak kepada berakhirnya masa “berkuasanya”covid-19.

Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 diperketat sebagai aksi konkrit Negara melindungi warganya, Negara hadir melindungi. Pemerintah Propinsi dan Kabupaten di NTT pun menunjukkan keseriusan dalam memerangi Covid-19 meski mereka sendiri juga terkesan kurang mematuhinya seperti yang sedang diberitakan oleh tidak sedikit media online tentang pertemuan para kepala daerah se-NTT di Pulau Semau minggu lalu.

Kengerian akibat dari serangan covid-19 betul-betul dirasakan, banyak orang yang terinfeksi dan jumlah yang meninggal dunia karenanya sangat banyak, tentu menakutkan. Akan tetapi tidak sedikit juga yang mengalami kesembuhan, rasa takut diimbangi oleh suasana penuh optimis untuk tidak kehilangan harapan (hopeless), sebab fakta adanya covid adalah benar dan kesembuhan bagi yang terinfeksi adalah nyata terjadi. Berita-berita tentang Covid hampir setiap detik muncul di media online dengan dua muatan fakta, yaitu jumlah kasus meninggal dan yang mengalami kesembuhan lebih tinggi.

Menarik bagi saya tentang kisah dari 2 orang lansia yang dimuat dalam media online katolik aleteia edisi Juli 2021, mereka dari Irlandia, pasangan suami-isteri, satu berusia 99 tahun dan yang satu lagi 101 tahun. Keduanya terinfeksi covid dan sembuh, yah buah dari cara mereka merespon. Dari kisah keduanya memberi pelajaran penting, disaat masa sulit akibat gangguan “badai” covid yang begitu kencang, jangan takut dan tetap berpikir positip, sebab Virus itu sendiri merupakan organisme hidup bagian dari ekosistem.

Cara mereka menyikapi terhadap pandemic covid 19 sangat inspiratif dan motivatif, menurut keduanya, kita harus menyadari sungguh bahwa covid memang ada dan sangat berbahaya, namun kita jangan takut, tetap berdoa (mereka beragama katolik), terus bekerja dan taat kepada protocol kesehatan.

Kita bisa menarik kesimpulan bahwa berdamai dengan situasi menjadi poin penting di sini, tentu dengan kekuatan akal sehat untuk tetap konsisten menjalankan protocol kesehatan. Covid tidak melarang kita untuk tidak boleh bekerja, tidak menyuruh kita berdiam diri saja di rumah sambil menunggu bantuan sosial atau jangan berproduksi. Pernyaatan ini mendesak untuk disampaikan sebab ada gejala di masyarakat, yang mengancam kemandirian dimana beberapa orang dari mereka cenderung pasif, tidak berbuat apa-apa, tidak menghasilkan, menunggu bantuan social, tidak bekerja untuk menghasilkan uang untuk biaya hidup keluarganya karena alasan Covid.

Perempuan hebat dari Kakor Lembor, Manggarai Barat tetap menghasilkan uang selama masa pandemic Covid.

Sahabat bisnis di Pasar Lembor


Rita Diut, yang lebih akrab dipanggil Mama Julio, dikenal warga di desa Kakor Lembor sebagai sosok petani sayur-sayuran yang ulet dan gigih. Sejak tahu 2009, dia dan suaminya memutuskan untuk menanam sayur-sayuran sebagai salah satu sumber pendapatan di atas lahan seluas 5 are, terletak di sekitar tempat tinggal mereka. Keputusan keduanya untuk berusaha sayur-sayuran sangat masuk akal sebab kebutuhan sayur-sayuran di Desa Kakor cukup tinggi namun tidak ada petani yang memanfaatkan peluang ini, sehingga saat itu sayur-sayuran masih didatangkan dari luar.

Menanam sayur daun jenis Fanboks, kata Rita merupakan langkah awal menjadi petani sayur meski masih tahap coba-coba, tujuannya untuk mengisi peluang pasar tadi sambil berharap keberuntungan berpihak padanya.

“Sebab saya dan suami punya rencana untuk membangun rumah dan terus berupaya meningkatkan pendapatan agar berkecukupan secara keuangan untuk kebutuhan biaya pendidikan anak-anak. Kami berharap anak-anak kami bisa mengenyam pendidikan tinggi dan bermimpi, mereka sekolah di Luar Negeri, misalnya di Australia. Pendidikan anak-anak harus lebih baik dari saya yang hanya menamatkan SMP, karena orang tua saya tidak mampu untuk membiayai pendidikan ke tingkat SMA dan Universitas,”ungkap Ibu rumah, berusia 34 tahun ini.

Lebih lanjut dia menceritakan bahwa jumlah sayur yang ditanam sebanyak 5’000 pohon, akan tetapi karena belum memiliki pengalaman budidaya sayur jenis tersebut, hanya 3’000 pohon yang tumbuh baik dan menghasilkan uang. Sayur Fanboks 3’000 pohon tersebut laku terjual, dibeli oleh warga di sekitar desa Kakor. Uang dari usaha pertama ini langsung digunakan untuk membeli kayu balok sebab kami mau membangun rumah di tanah warisan, pemberian orang tua suami saya dan sebagian uang itu, disimpan untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak.

“ Anak-anak saya harus sekolah hingga ke jenjang universitas supaya mereka tidak mengalami nasib kurang beruntung seperti yang saya alami, berbekal ijazah SMP pergi merantau ke Surabaya dan di sana saya hanya bisa menjadi pembantu rumah tangga selama 4 tahun dengan penghasilan kecil, berjuang untuk membantu orang tua membiayai pendidikan dari dua adik saya, “cerita Rita, anak sulung dari 3 bersaudara ini.

Mendapat uang dari usaha sendiri bagi ibu rumah tangga seperti saya ini, kata Rita tentu membanggakan hati dan juga menuntut saya untuk terus berusaha lebih keras lagi, tidak hanya mengurus dapur tetapi ikut mengambil peran ekonomi di dalam rumah tangga. Saya bersyukur memiliki suami yang selalu memberi dukungan terhadap keputusan saya untuk fokus berbisnis sayur-sayuran. Sedangkan suami saya punya keterampilan berkaitan elektronik, dia melayani perbaikan televisi dan juga bisa memasang instalasi listrik.

Sedang memanen mentimun/Foto RR


Usaha sayur-sayuran sempat berhenti awal tahun 2011, lalu memilih usaha lain yaitu membuka kios dengan meminjam modal di Bank, memanfatkan fasilitas pinjaman KUR, pada awalnya usaha kios berjalan baik namun persaingan usaha kios di Desa Kakor sangat tinggi, jumlah kios terus bertambah saat itu dan berdampak kepada penghasilan dari kios saya terus menurun hingga mengalami kebangkrutan.



“Saya dan suami mengalami kesulitan mengembalikan pinjaman dari Bank, pusing juga memikirkan uang cicilan akan tetapi saya tidak putus asa dan bersabar menghadapi kesulitan berat ini. Sekali lagi saya beruntung memiliki suami yang sabar dan dia yang menguatkan mental saya agar tidak boleh putus harapan. Berbekal uang simpanan ditambah dari uang arisan, tepatnya pada tahun 2016 kami membeli beberapa perlengkapan pertanian, seperti selang, plastik mulsa, sprinkler untuk penyiraman dan mesin isap air untuk kembali berusaha sayur-sayuran di lahan yang sempat ditinggalkan,”tutur Rita, salah satu anggota aktif dari KSP CU Florette di Tempat Pelayanan Nampe Lembor.



Mengadakan fasilitas-fasilitas produksi yang dibeli tadi merupakan hasil dari belajar di Youtube, melihat pengalaman-pengalaman dari petani hortikultura sukses di Youtube.

Dia menambahkan di atas lahan 5 are ditanam beberapa jenis sayur-sayuran, antara lain kestela, mentimun, tomat, cabe keriting, fanboks dan terung. Kerja keras selama 4 bulan, durasi musim tanam, ternyata membuahkan hasil, omzet penjualan mencapai puluhan juta rupiah. Pengalaman yang baik ini mendorong saya dan suami untuk terus bekerja di atas lahan 5 are tadi, penghasilan dari penjualan sayur-sayuran terus meningkat, utang KUR di bank akhirnya terlunasi namun kami menghadapi ujian baru dimana selama tahun 2019 hingga pertengahan tahun 2020 omzet penjualan sayur-sayuran menurun, permintaan jenis sayur-sayuran yang kami tanam saat itu , dari para pedagang sayur di Pasar Lembor sangat kecil padahal volume sayur-sayuran kami banyak, akhirnya sayur-sayuran itu dijual dengan harga rendah di Desa Kakor.

Pengalaman pasang surut dalam berbisnis sebenarnya mau mengajarkan kita bahwa meraih keberhasilan tidak mudah, banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Selain itu, situasi ini menguji ketangguhan mental kita apakah masih taat asas dengan pilihan hidup kita, menjadi petani pengusaha atau tidak. Kita sering mendengar juga pengalaman yang sama dihadapi oleh pengusaha-pengusaha hebat di dunia, mereka jatuh bangun dalam mengejar tujuan, kekuatan pada mereka untuk segera bangkit adalah memiliki kemauan yang sangat kuat untuk terus belajar dari pengalaman dan mencari cara atau strategi agar tidak jatuh pada persoalan yang sama.

Persoalan ini kemudian, lanjut Rita disampaikan kepada Srianus Syukur, Manager KSP CU Florette, ketika dia berkunjung ke rumahnya di Kakor Lembor untuk mendiskusikan usulan pinjaman yang saya ajukan bulan sebelumnya.

Pada bulan Oktober 2020, cerita Rita ada dua orang yang mengaku sebagai staf pendamping agribisnis dari Yayasan Ayo Indonesia, nama mereka adalah Richard Roden Urut dan Stef Jegaut, sekitar jam 1 siang berkunjung ke rumah saya namun beberapa menit saja di dalam rumah mereka meminta untuk pergi melihat kebun sayur-sayuran. Saya ingat waktu itu Pa Stef mengatakan kepada saya, Enu Rita kami sebaiknya langsung melihat kebun dan kita lejong (diskusi) di sana saja.

“Di atas lahan yang telah diolah, di bawah terik matahari, suhu udara yang panas sekali, mereka memberitahukan kepada saya bahwa kehadiran mereka mengunjungi saya, atas permintaan dari Manager KSP CU Florette untuk memotivasi dan membangkitkan semangat bisnis saya dengan berbagi pengalaman dari petani lain yang telah berhasil dalam menjalankan usaha sayur-sayuran (agribisnis). Kepada mereka secara jujur saya menceritakan suka duka dalam berbinis sayur-sayuran,”kata Rita, Ibu dari 3 orang anak ini.

Dari lejong (diskusi) di atas kebun sayur-sayuran itu mereka menawarkan gagasan untuk meningkatkan tata kelola dari usaha saya dengan pelatihan melek keuangan, penggunaan arang untuk memperbaiki mutu tanah dan pemasaran.

Pada bulan Nopember 2020, bertempat di Rumah Rita, Stef Jegaut bersama staf managemen KSP CU Florette melatih 15 Kepala Keluarga tentang Melek keuangan sederhana, mulai dengan identifikasi jenis sumber pendapatan, jumlah pendapat dan pengeluaran tahunan. Dari analisa pendapatan dan pengeluaran, ternyata mereka mengalami kekurangan uang setiap tahun, lebih besar pengeluaran daripada pendapatan, yang lebih mengkhwatirkan lagi adalah di pos pengeluaran tidak ada pos untuk tabungan (saving) masa depan.

Mengacu kepada kondisi yang mengemuka pada lejong (diskusi) ini, mereka disarankan untuk meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan pekarangan dan kebun yang masih “tidur” ditanami sayur-sayuran untuk tujuan Ekonomi dan pemenuhan kebutuhan Gizi keluarga. Ketika ada uang pastikan 30 persennya disimpan di Koperasi Kredit sebab di lembaga keuangan ada perlindungan simpanan, pinjaman dan jiwa serta anggota diberi kemudahan untuk mendapatkan modal usaha.

Pola tanam disesuaikan dengan permintaan sayur-sayuran di Pasar Wae Nakeng Lembor sehingga mereka diajak untuk membangun pertemanan dengan para pedagang sayur-sayuran di Pasar Lembor, sebab pelaku pasar yang mengetahui secara mendalam tentang perilaku permintaan setiap bulan selama satu tahun. Pola tanam harus mengacu kepada permintaan pasar.

Rita, salah satu peserta pelatihan itu kemudian mengubah managemen usahanya, target pendapatan dipatok memang berdasarkan kebutuhan keuangan selama setahun, lahan usaha diperluas menggunakan arang sekam dan pupuk bokasih sebagai sarana produksi, dan dia membangun komunikasi secara intens dengan pedagang-pedagang sayur di pasar lembor.

Kehendak baik yang dimiliki untuk membangun keluarganya ditunjukkan dengan secara sungguh-sungguh kepada anak-anaknya, buktinya jelas, selama masa pandemic dia menanam dalam jumlah besar Tomat, cabe, paria dan terung. Ketika orang lain takut dengan Covid, menunggu informasi kapan BLT dicairkan, dia dan suaminya malah mendekatkan diri setiap hari dengan sumber penghidupan mereka, yaitu lahan seluas 5 are.

Benar pernyataan dari beberapa orang sukses, yakni setiap tetesan keringat yang keluar dari semangat kerja keras pantang menyerah tidak akan pernah sia-sia. Pada tahun 2021 ini, setiap 4 bulan, musim tanam mereka meraup omset mencapai 20-an juta rupiah dari Tomat dan Terung. Strategi pemasaran berubah dan terkesan lebih cerdas, mereka telah membangun jaringan dengan pedagang sayur dan mempromosikan sayur-sayuran mereka secara online melalui : Facebook dan WhatsApp.

Pada periode tanam bulan Agustus 2021, mereka menggunakan plastik mulsa dan arang sekam untuk mencegah kerusakan tanaman akibat percikan air pada saat musim hujan. Permintaan sayur-sayuran pada musim hujan sangat tinggi sehingga mereka menggunakan kedua tehnologi sederhana tersebut agar kebun mereka tetap berproduksi. Mereka luar biasa sudah memiliki ketangguhan untuk merespon perubahan cuaca yang ekstrim, curah hujan tinggi.

Pengolah lahan, membersihkan rumput, penanaman sayur-sayuran dan memanen hasil dilakukan bersama dengan 2 orang perempuan, mereka diberi upah harian Rp 40'000 per orang. Usaha agribisnisnya telah berhasil menciptakan lapangan kerja bagi perempuan, berharap keduanya akan mereplikasi pengalaman selama bekerja dengan Rita di kebun mereka sendiri.

Kebutuhan uang sekarang ini terus meningkat, lanjut Rita maka saya sebagai ibu rumah tangga tidak boleh lagi hanya mengurusi dapur tetapi harus bisa menghasilkan uang dari lahan yang ada.

Perubahan lain yang dialami Rita saat ini, adalah secara rutin setiap bulan, dari hasil penjualan sayur-sayuran dia simpan di Koperasi Simpan Pinjam CU Florette untuk menambah saham dan tabungan pendidikan (SINDANDIK) dari ketiga anaknya.

Penambahan simpanan saham setiap bulan menjadi prioritas agar suatu waktu bisa meminjam modal usaha lebih banyak di KSP CU Florette. Rencana Rita dan Suaminya tahun 2021 kebun sayurnya akan dipasang irigasi tetes, tehnologi yang dapat menghemat penggunaan air dan meningkatkan efisensi dalam aplikasi pupuk.

Sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rejeki yang diterima, sesekali mereka mengirim sayur-sayuran ke Rumah Pastoran Paroki Reweng melalui keluarga mereka yang kerja di sana.

Penulis : Rikhardus Roden Urut



Menciptakan Ketahanan Ekonomi ala Perempuan

Peran ekonomi dari Perempuan Hebat

Rita menyampaikan terima kasih kepada KSP CU FLorette yang telah melayani pinjaman musiman untuk bisnis dan Yayasan Ayo Indonesia atas dukungan Pelatihan-Pelatihan Motivatif, Cara membuat Arang Sekam, Cara membangun relasi dengan pedagang sayur-sayuran dan Penyediaan Plastik Mulsa



Pemasangan Plastik Mulsa untuk tanam musim Hujan





Cabe Keriting/Foto RR



Lahan siap tanam



Tomat Siap diantar ke Pasar Wae Nakeng











Kopi Widang Ciar khas Manggarai

Posting Komentar

0 Komentar