Header Ads Widget

Pojok Kitab Suci : Tatapan Tuhan itu Mengubah

Tatapan Tuhan itu Mengubah

GEREJA PAROKI EKARISTI KUDUS KA REDONG, KEUSKUPAN RUTENG


 Menurut pepatah dari Timur Jauh, ‘‘orang bijak, pada sebutir telur melihat seekor elang; pada sebiji benih, ia melihat sekilas sebuah pohon besar; pada orang berdosa, ia  melihat orang kudus” (Paus Fransiskus, pesan pada Hari Doa Panggilan Sedunia, Minggu 8 Mei 2022)

Bible Corner, Pekan IV Paskah, Minggu 8 Mei 2022

(Bacaan Injil Yohanes 10:27-30)

 

Pater Kons Beo, SVD, Roma, Italia

Dipanggil dan Diutus ke Dunia yang Nyata

Ada satu pertanyaan kunci dalam ziarah hidup ini. Betul kah dunia ini sungguh dikuasai oleh kita manusia? Tepat kah untuk menyakini bahwa irama kehidupan dan isi dunia  ini diatur dan dikendali segala kekuatan kita? Kita bisa tertarik dan termotivasi oleh kata-kata bijak “nasibmu ada di tanganmu sendiri; bahkan nasib kehidupan dunia tergantung pada pilihan dan keputusanmu…” Tetapi, apa kah benar demikian adanya?

Dari sudut pandang lain ternyata ada keyakinan bahwa dunia dan sesamalah ‘yang menasibkan kita.’ Irama, gaya, alam kehidupan kita tak lebih dari sebuah usaha untuk disejajarkan dengan ‘harapan dan impian’ dunia dan sesama itu. Tak lebih dan tak kurang.

Betapa keadaan dunia dan sesama menuntut kita untuk berbicara, bersikap, bertindak, atau berbuat sesuatu. Tentu harapan dan keinginan itu berpautan dengan nilai-nilai kehidupan yang sepantasnya diperjuangkan. Dalam dunia yang terluka oleh sekian banyak ketidakpastian dan duka derita, kita dipaksa untuk ‘membuka hati dan menggerakkan tangan.’ Dan di situlah benih-benih panggilan itu dapat bersemi.

Bahasa solider sungguh menjadi bahasa kunci. Itulah bahasa nyata bahwa sebenarnya kita sungguh ‘dikendali, diatur, bahkan diganggu’ oleh situasi dan alam dunia yang tak menentu itu. Gelagat dan aksi bela rasa di titik ini adalah tanda bahwa kita (Gereja) memiliki sense of crisis serentak ditarik ke area  citra pastoral-misioner yang berdaya.

Tak mudah bagi Gereja, bagi setiap kita untuk berbela rasa untuk mengungkapkan secara nyata bahasa kepeduliaan itu. Apa yang dikatakan Yesus, sebagai Gembala Yang Baik, kiranya dapat menjadi inspirasi bagi setiap kita.

Mari kita merenungkannya:

Pertama, Yesus: Satu-satunya Gembala Yang Baik. Seluruh kehidupan Yesus adalah inspirasi dasar bagi segenap Gereja. Tanggungjawab kegembalaan dipercayakan kepada setiap kita. Tentu sesuai dengan tugas, tanggungjawab serta panggilan hidup yang teremban pada diri kita.

Tugas dan tanggungjawab kegembalaan itu tentu berjalan baik dan berbuah ketika ‘Yesus Gembala baik’ tetap jadi ‘inti kontemplasi dan ilham bagi kehidupan yang menyata.’ Di hadapan Yesus, Gembala Baik, kita sekalian adalah domba gembalaanNya. Yang tak dibiarkanNya terlantar.

Kedua, yang terbentuk dalam antara gembala dan kawanan (domba) adalah kualitas relasi. Kualitas relasi yang berbobot lahir dari pengenalan yang dalam. Gembala ‘mengenal domba-dombanya.’ Tentu ia sungguh ia tahu situasi dan keadaan yang dialami oleh kawanan. Pengenalan sang gembala akan domba berdampak pada reaksi ‘mengikuti sang gembala.

Kata Tuhan, “Domba-dombaKu mendengar suaraKu; Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku” (Yoh 10:27). Siapa yang didengar, tentu muncul daya dorong dalam diri gembalaan untuk mengikutinya. Di zaman yang semakin bising ini, dapat terjadi bahwa suara gembala semakin samar dan sayup terdengar. Adalah panggilan Injili bahwa suara kegembalaan (klerus, orangtua, pendidik, pengajar, tokoh-tokoh masyarakat dan umat) tetap lantang membahana demi berpihak pada nilai-nilai dan citra kemanusiaan.

Tak dapat ditampik kenyataan bahwa terdapat apa yang disebut ‘krisis dinamika pastoral’ yang serius. Disorientasi pastoral sudah dialarmkan oleh Rasul Petrus dalam suratnya yang pertama (1Ptr 5:1-3). Hal itu terjadi ketika imperasi pastoral dalam ungkapan hati sederhana: sukarela, sesuai kehendak Allah, pengabadian diri, keteladanan sungguh telah meredup tak bersinar.

Namun, sebaliknya, dalam lanjutan gema kata-kata Rasul Petrus, aura pastoral itu menjadi cemar oleh: keterpaksaan, mencari dan menimbun keuntungan, berbuat seolah-olah mau memerintah. Dan, kunci dari gairah pastoral yang sehat adalah sikap mendengarkan, rendah hati serta jauh dari segala kekuatiran (1Ptr 5:5-7).

Ketiga, “Aku memberikan hidup kekal kepada mereka, dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan tak seorang pun merebut mereka dari tanganKu” (Yoh 10:28.

Di zaman yang semakin berubah, sekian banyak daya pikat hadir untuk tawarkan "isi dan cara menghayati arti hidup ini.” Tugas pastoral, dalam area apa saja, tentu tetap berorientasi pada keyakinan dan harapan teguh bahwa Yesus adalah Gembala Baik. Dialah ‘Jalan dan Kebenaran dan Kehidupan’ (Yoh Yoh 14:6).

Tetapi, tugas itu tentu tak mudah. Benturan antara kehendak Allah dan keinginan diri sendiri sering menjadi tantangan yang tak kecil. Medan pengembalaan bisa menjadi godaan pertarungan berat antara “Ini aku Tuhan. Utuslah aku” dengan “kecenderungan untuk muliakan ego-diri dalam pencitraan diri sendiri yang menderang atau pun samar-samar.”

Selalu terjadi pula bahwa lemah dalam kesaksian hidup tidak lagi menjadi daya pikat yang menarik. Kita teringat akan cara hidup jemaat pertama yang penuh sukacita, saling berbagi, tulus hati, serta teguh dalam doa. Dan “mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis 2:47).

Adakah sesuatu yang hilang? Adakah hal yang memudar dalam citra panggilan yang Tuhan tanamkan dalam diri setiap kita? Kiranya alarm keras Tuhan melalui Nabi Yeremia menyentak hati kita, “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaanKu hilang dan terserak!” – demikianlah firman Tuhan (Yer 23:1).

Keempat, pada hari Minggu Paska Pekan ke IV, dirayakan pula sebagai “Hari Minggu Panggilan.” Paus Fransiskus, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke 59, tahun 2022 ini, mengajak Gereja kepada satu refleksi yang sungguh mendalam akan hakekat panggilan dan perutusan setiap kita sebagai Gereja.

Kita menyimaknya dalam butir-butir permenungan Paus Fransiskus:  Dipanggil untuk menjadi pelaku misi Gereja secara bersama-sama, Dipanggil untuk menjadi penjaga satu sama lain dan ciptaan, Dipanggil untuk menyambut tatapan Tuhan,  Dipanggil untuk menanggapi tatapan Tuhan, dan Dipanggil untuk membangun dunia persaudaraan…”

Kata panggilan”, kata Paus Fransiskus, “tidak boleh dipahami secara terbatas, hanya merujuk pada mereka yang mengikuti Tuhan melalui Hidup Bakti khusus. Kita semua dipanggil untuk ambil bagian dalam misi Kristus untuk menyatukan kembali umat manusia yang terpecah-pecah dan mendamaikannya dengan Allah.”

Gereja, kita semua, dipanggil dan diutus Tuhan dalam visi dan orientasi Injil Kerajaan Allah. Panggilan dan perutusan ini tentu berdaya dan bermakna ketika Tuhan tetap dan selalu direnungkan dan diyakini sebagai Dasar – Pokok serta Sumber bagi setiap panggilan dan perutusan yang dimandatkan kepada kita masing-masing.

Akhirnya…

Dalam alur refleksi Paus Fransiskus, mari kita biarkan diri kita tetap ditatap Tuhan dan kita menanggapi tatapan Tuhan itu untuk kemudian selalu menatap dunia dan sesama. Kita menatap dunia dan sesama yang “lapar, haus, bagai orang asing, telanjang, sakit, terkurung dalam penjara…” (Mat 25:35-40). Dan kita teringat akan kata-kata Tuhan, “Kamu harus memberi mereka makan….” (Mrk 6:37). Kita terpanggil untuk berbela rasa dalam koridor keberpihakan.

Kita menatap dunia dan sesama, meneguhkan keterlibatan kita dalam perbuatan-perbuatan nyata. Dalam semangat Rasul Paulus, “Lakukan semuanya itu dalam Kasih…” (1Kor 16:14), setiap jemaat beriman adalah orang yang dipanggil, dipilih dan diutus Tuhan menyatakan Karya Besar Kasih Allah bagi dunia dan demi sesama.

Sungguh, tatapan Tuhan dalam kasih selalu mengubah. Dan kita pun dapat mengubah dunia saat kita menatap dan bertindak dalam kasih Tuhan. Di situlah panggilan hidup kristiani kita sungguh menyata.

 

Verbo Dei Amorem Spiranti.

Tuhan memberkati.

Amin. Alleluia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

Posting Komentar

0 Komentar