Header Ads Widget

Pojok KITAB SUCI; “Dan Janganlah Mengira…"


“Dan Janganlah Mengira…”

bacalah Injil Matius 3:1-12


Pater Kons Beo SVD



Ada sekian banyak hal yang terkadang telah dibakukan dalam pikiran. Diyakini sebagai kebenaran. Lalu dihayati sebagai kepastian. Kita hayati hidup ini, sejatinya, dari apa yang ‘kita pikirkan dan kita yakini.’ Perhatikan pula bahwa sikap kita terhadap sesama terbangun di atas gambaran yang kita serap. Dan lalu ditampung di dalam ‘kepala dan ruang hati kita.’


Dalam kenyataan hidup, tak ditampik kemungkinan, bahwa kita bisa salah berpikir dan keliru dalam meyakini sesuatu. Dan pada ujungnya kita bisa sesat pula dalam bersikap dan bertindak. Baik terhadap diri sendiri, maupun (terlebih) terhadap sesama.



Kita bisa terperangkap, misalnya, dalam rawa-rawa ‘superioritas kebenaran.’ Artinya, ‘apa yang aku yakini, aku simpulkan, dan aku sikapi adalah benar dan selalu benar. Di sinilah ‘kedirianku ditakhtakan sebagai satu regim kebenaran.’ Dan kita merasa yakin untuk harus jadi basis atau referensi mutlak bagi siapa pun atau dari apapun.

Pada kenyataannya, ada sekian banyak jalan pikiran dan keyakinan kita itu tersusun di atas ‘mitos-mitos yang rapuh dan bahkan sesat.’ Namun, kita bisa saja kelewat percaya diri bahwa “akulah segalanya.” Lihat sajalah. Kita yakini diri sendiri sebagai pribadi yang selalu baik, benar, lurus, tulus, serta suci lahir dan di dalam batin. Tetapi, ada teropong lain yang ‘memandang bahwa kita tidak selamanya seperti itu.’



Di sudut sebaliknya, kita bisa merasa diri sendiri dalam keberantakan hidup. Tak menentu arah. Tak jelas nasib. Terkapar dalam dalam serba ketidakpastian. Tetapi, tidak kah kita sepatutnya terbangun dari segala ‘tidur penuh mimpi seram, tanpa kepastian itu.?’ Selalu ada suara harapan yang terus memanggil dan menggetarkan hati kita.

Selalu ada sekian banyak sesama yang menghentak pikiran dan sanubari kita. Demi membongkar bangunan diri dan kehidupan kita yang tersusun dalam mitos yang ringkih itu. Itulah sesama kita yang menantang kita: “Janganlah mengira. Janganlah menyangka!”


Hidup tak selamanya diyakini berbobot dengan menebalkan kepastian demi kepastian yang kita bangun. Atau pun dengan memperbanyak segala teori dan pengetahuan ini dan itu. Kita bisa saja ‘salah dan keliru dengan ‘apa yang kita kira dan kita sangkakah.’



Hidup yang sejuk, segar dan cemerlang pasti bisa diraih dengan gugurkan dan tinggalkan ‘apa yang kita yakini sendiri.’ Dan demikian, kita menjadi enteng untuk beralih kepada ‘hal yang baru dan semestinya.’ Atau juga bahwa kita, dengan penuh kerendahan hati, berdamai dan akrabi kembali dengan apapun yang bernilai, namun telah kita abaikan!



Kita butuhkan suara Yohanes Pembaptis yang menyentak dan menantang. Dia yang lantang bersuara, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 3:2). Yohanes Pembaptis menantang dan menggugat kaum elitis Israel. Itulah kaum Farisi dan Saduki yang merasa diri sebagai ‘pemilik dan penghayat murni kebenaran dan kesalehan. Namun sesungguhnya ada di jalur ‘ular berbisa’ (cf Mat 3:7).



Masa Adventus adalah masa persiapan. Kita siapkan hati dan seluruh diri kita untuk merayakan kelahiran Kristus Yesus, Penyelamat Terjanji. Kita siapkan segala ‘kelayakan demi Dia yang datang untuk menyapa kita.’ Di atas semuanya, masa Adventus mesti ditangkap sebagai masa kita menjadi lebih teliti ‘menyimak diri sendiri.’ Saat Yohanes Pembaptis menantang dengan seruan “Janganlah mengira!” itulah sentakan penuh makna.



Agar kita sanggup dan berani ‘membebaskan diri, pikiran dan hati’ dari segala ‘yang kita kira, yang kita sangka.’ Iya, yang ternyata semuanya itu hanyalah menjadi hambatan Bayi Yesus tak punya tempat dalam diri kita. Demikian pun, sesama yang kita jauhkan dan enyahkan. Mereka semua yang tak miliki tempat di hati kita. Hanya karena kita hidup telah disumpeki dengan “apa yang kita kira, apa yang kita sangkakan.”

Maka, agar pohon hidup kita dapat menghasilkan buah (cf Mat 3:10), mari kita pangkas segala cabang dan ranting dari “semua apa yang kita kira.” Dari situlah akan bertumbuhlah tunas-tunas harapan hidup yang baru dan segar. Semuanya dalam semangat Adventus. Demi menyambut kedatangan Tuhan. Dan kita pun disanggupkan untuk berdamai dengan diri sendiri serta sesama.

Bukan kah demikian?
Verbo Dei Amorem Spiranti
Selamat Hari Minggu
Maranatha
Tuhan memberkati.
Amin



Posting Komentar

0 Komentar