Header Ads Widget

Yayasan Ayo Indonesia Dan Koperasi Kredit KSP CU Florette Dorong Petani Untuk Meningkatkan Skala Agrobinis

Yayasan Ayo Indonesia dan Koperasi Kredit KSP CU Florette menyelenggarakan Pelatihan Kewirausahaan bagi Petani Sayur



umpungjayasiar.com, Ruteng.Yayasan Ayo Indonesia bekerja sama dengan Koperasi Kredit KSP CU Florette menyelenggarakan Pelatihan Kewirausahaan dan Penyebarluasan Informasi Tentang Koperasi Kredit KSP CU Florette sebagai Lembaga Penyedia Permodalan Agribisnis bagi 45 orang petani, Rabu (15/11/2023), bertempat di Aula KSP CU Florette. Kegiatan untuk peningkatan kapasitas petani tentang wirausaha dan pemahaman Koperasi sebagai lembaga penyedia permodalan ini, juga didukung oleh Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi kerjasama Yayasan Ayo Indonesia dengan Missionprokur SVD di Steinhausen Swiss. Para peserta Pelatihan merupakan petani sayur-sayuran yang tinggal di 10 Paroki. Yayasan Ayo Indonesia selama ini berkarya di paroki-paroki tersebut melalu upaya pemberdayaan dengan mendorong beberapa petani untuk beragrobisnis dan bergabung menjadi Anggota Koperasi Kredit, khususnya Koperasi Kredit KSP CU Florette.


Rikhardus Roden, penanangungjawab Pelaksanaan Pelatihan, pada kesempatan tersebut menjelaskan bahwa kegiatan sehari ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dari para peserta tentang kewirausahaan dan pemahaman terkait KSP CU Florette sebagai salah satu lembaga penyedia permodalan agribisnis.



Narasumber yang dihadirkan adalah Pater Kristianus Sambu SVD, membawakan materi terkait Spritualitas Santu Arnoldus Yanssen Dalam Bekerja, Arnoldianus Katung, Berbagi Pengalaman Tentang Membangun Usaha Tempe, Hortikultura Dan Peternakan Babi, dan Srianus Syukur, Manager Kopersi Simpan Pinjam KSP CU Florette mempresentasikan Koperasi Kredit KSP CU FLorette Sebagai Lembaga Penyedia Permodalan Usaha, khususnya Agribisnis. Selain itu, salah satu staf dari Yayasan Ayo Indonesia menginformasikan hasil survey pasar menyangkut suplai sayur-sayuran di Pasar Ruteng.


Pater Kritianus Sambu SVD, Pastor Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong mengatakan kepada para peserta bahwa Kongregasi SVD pada awal karya misinya di Manggarai Para Misionaris mengajarkan umat tentang pertukangan, pertanian dan peternakan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan umat atau dengan kata lain umat tidak boleh lapar, memilik rumah dan terpenuhinya kebutuhan sandang (pakaian). Umat diberi pelatihan supaya mereka terampil menjadi tukang, beternak dan bertani. Menariknya dalam pendekatan pastoral, jelas pater Kris, Para Misionaris hadir langsung di tengah-tengah umat untuk mendorong umat memiliki semangat kerja keras, kerjasama dalam persekutuan (koinonia), berdoa, berbagi dan mewartakan injil serta praktek hidup yang baik. Itulah spiritualitas dari Santu Arnoldus Yanssen.


Ardoldianus Katung kepada peserta menceritakan awal dia berusaha tempe pada tahun 2016 dengan modal keberanian dan sedikit uang. Usaha tempe dipilih sebagai sumber penghidupan keluarganya. Berpikir untuk berbisnis atau punya usaha sendiri, terbesit ketika mengalami situasi sulit saat merantau setahun di Kalimantan (2009-2010), di sana kerja di hutan untuk mengurus perkebunan kelapa sawit dengan penghasilan relative kecil dan saat bekerja sebagai tukang las di pulau Timor. Pertemuan dengan Stefanus Jegaut, salah satu staf pada proyek pemberdayaan di Yayasan Ayo Indonesia, tahun 2016 di halaman Kapela Stasi Null setelah perayaan misa menguatkan hatinya untuk memilih usaha tempe. Staf dari Ayo Indonesia ini meyakinkan saya, kata Noldi, bahwa usaha tempe sangat prospek dari segi pasar dan yang paling penting harus dikelola dengan baik, dimulai dengan analisa usaha, menerapkan cara penjualan “jemput bola” kemudian menguasai pembukuan untuk mencatat setiap penjualan.


Yayasan Ayo Indonesia kala itu membantu 5 kg kedelai untuk mendukung usaha saya, lanjut Noldi dan kedelai 5 kg tersebut diproses menjadi tempe berbekal pengetahuan dari Youtube dan pengalaman yang diajarkan stef. Kedelai sebanyak itu, ternyata menghasilkan 60 lempeng tempe dan ketika ditawarkan kepada calon pembeli yang didatangi dari rumah ke rumah “penjualan dengan metode jemput bola”, puji tuhan mereka membeli semua. Berbekal pengalaman yang berharga ini kemudian, cerita Noldi, volume produksi per hari dinaikan menjadi 10 kg, 40 kg, dan sejak tahun 2022 hingga saat ini (2023) setiap hari memproduksi 50 kg-60 kg kedelai, dikerjakan oleh 4 orang perempuan. Sedangkan penjualan dipercayakan kepada 5 orang muda untuk menjual tempe, tahu, tomat ke beberapa kecamatan di Manggarai Raya menggunakan motor. Kelima motor ini merupakan asset.

Peningkatan volume produksi, jelas Noldi lebih lanjut, didasari oleh beberapa factor dimana jumlah konsumen terus meningkat, kebutuhan uang keluarga cukup besar per tahun yang memicunya untuk meningkatkan target omset penjualan dan kepedulian social, menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang di kampong Null, Desa Poco Lia, Manggarai Timur sehingga mereka tidak perlu meninggalkan kampung dan keluarga untuk mencari uang. Permintaan yang terus meningkat tadi dipengaruhi oleh mutu tempe yang diproduksi dimana tidak kalah dengan kualitas tempe yang diproduksi oleh beberapa pengusaha tempe di Kota Ruteng dan juga sikap ramah dari para penjual keliling. Mutu menjadi hal kunci dalam menjaga kepercayaan konsumen sehingga proses produksi harus dikontrol dengan baik demikian juga untuk petani sayur-sayuran harus menjaga mutu agar tidak kehilangan konsumen atau pembeli.



Menjadi seorang wirausaha harus berani mengambil resiko, menghadapi tantangan atau persoalan, tidak boleh cepat putus asa atau stress. Persoalan bagi noldi adalah kenyataan yang harus dihadapi dan dipandang sebagai ujian terkait kesungguhan kita dalam berbisnis. Persoalan bagi saya, ungkap Noldi adalah motivasi untuk memperbaiki sebab setiap masalah adalah ujian untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan tehnis dalam memproduksi barang, misalnya Tempe.


Tahun 2019, kisah Noldi, adalah tahun yang berat, sulit, dan menantang serta menguji mental sebab 1 ton kedelai yang rencananya untuk memproduksi tempe dengan omset yang besar sesuai rencana bisnis yang dibuatnya mengalami kegagalan, tempe yang sedang difermentasi semuanya rusak. Namun beruntung saat itu, saya juga punya satu usaha lain, yaitu memelihara 5 ekor babi untuk penyediaan bibit babi sehingga tempe yang gagal fermentasi tadi dijadikan pakan untuk babi. Meski tempe rusak dan tidak menghasilkan uang, pada tahun itu, saya mendapat rejeki dari usaha babi, dari 5 ekor induk babi menghasilan 50 ekor anak babi dan terjual semua dengan harga 1juta per ekor. Uang hasil penjualan anak babi tersebut digunakan untuk membangun rumah yang dimanfaatkan sebagian ruangannya sebagai tempat usaha kios.


Saya beryukur, tutur Noldi, punya Isteri dan Mama yang menguatkan hati saya agar tidak lekas putus asa, sebab jutaan rupiah hilang dan berpengaruh hilangnya pendapatan dari para pekerja dibagian produksi dan penjualan. “Mereka berdua berhasil menjadi sahabat saya dalam menjalankan bisnis tempe. Saya sendiri memang orangnya tidak cepat putus asa sebab dari awal saya tahu bahwa bisnis itu tidak selalu mulus,” ungkap Noldi dengan wajah penuh percaya diri. Terhadap persoalan ini,lanjutnya, saya coba komunikasikan dengan salah satu anggota jaringan bisnis tempe yang tinggal di Karot, Ruteng, dia orang jawa lalu memberikan masukan agar saya memperhatikan suhu ruangan di tempat fermentasi dan ternyata di situ letak persoalannya. Jadi pembelajarannya bagi kita yang telah memutuskan jadi wirausaha adalah bahwa persoalan harus disikap dengan akal sehat agar kita terdorong untuk mencari jalan keluar dengan cara belajar lagi guna menurangi resiko.

Tahun ini, tambah Noldi, saya memperluas jaringan bisnis bekerja sama dengan YTelMart untuk penjualan Tempe guna meningkatkan omset, sedangkan upaya mempertahankan mutu dan meningkatkan laba saya telah memesan mesin packing sehingga dapat menekan biaya produksi.


Srianus Syukur kepada para peserta memperkenalkan KSP CU Florette sebagai lembaga non bank penyedia modal usaha, khususnya dibidang pertanian. Selama ini, KSP CU Florette bekerjasama dengan Yayasan Ayo Indonesia untuk mendorong anggota berbisnis dalam bidang pertanian dan peternakan. KSP CU Florette menyediakan modal sedangkan Yayasan Ayo Indonesia melakukan pendampingan meskipun tantangannya cukup berat, mengubah petani untuk berpikir dan punya mental berwirausaha, namun sampai saat ini, tidak sedikit dari 7.800 anggota KSP CU Florette yang mendapatkan pinjaman umum dan musiman untuk modal usaha sayur-sayuran, peternakan babi/ayam petelur, usaha batako, dan padi sawah. Tidak hanya itu, jelas Rian, KSP CU Florette sudah menjadi Koperasi Kredit yang inklusi dengan memberi kesempatan para penyandang disabilitas menjadi Anggota. Jumlah mereka 25 orang dan semuanya mendapatkan pinjaman umum untuk membangun usaha. Ke depan, kata Rian, Koperasi Simpan Pinjam KSP CU Florette memberi kemudahan dalam proses pemberian pinjaman kepada anggota yang mulai menjalankan atau memperluas usahanya.


Pada bagian akhir Pelatihan, Rikhardus Roden menyampaikan hasil survey pasar berkaitan dengan suplai sayur-sayuran di pasar Ruteng setiap hari dimana sebanyak 54 persen didatangkan dari luar Manggarai (Ngada, Bima, Makasar). Responden dari survey ini adalah Padagang Pengumpul sebanyak 5 orang dan 25 orang penjual sayur-sayuran di stan penjualan. Informasi yang diperoleh dari responden menyatakan bahwa sebanyak 25 mobil pick up dari luar Maggarai mengangkut sayur-sayuran ke Pasar Ruteng. Dengan demikian hasil survey ini bisa menjadi acuan bagi petani untuk memproduksi sayur-sayuran lebih banyak lagi. Sayur-sayuran yang direkomendasikan adalah Kubis, Brokoli, Kol Bunga, Wortel, Kangkung Darat, Cabe Keriting, Cabe Besar, Tomat dll.

Rikhardus Roden Urut


Posting Komentar

0 Komentar