Header Ads Widget

Renungan Katolik Di Masa Adven (Pekan II); Masih Ada yang Mesti Diluruskan….

Masih Ada yang Mesti Diluruskan….
-satu perenungan pada hari Minggu, 10 Des 2023 Pekan II Adventus-



P. Kons Beo, SVD



Namanya Yohanes Pembaptis. Dialah sosok suara di padang gurun yang berabad-abad sebelumnya telah diramal Nabi Yesaya, “Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagiMu. Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: ‘Persiapkan jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya.’” (Yes 40:3; Mrk 1:1).


Demi kedatangan sang Mesias, Juruselamat, ada hal yang mesti dipersiapkan. Apa yang diserukan Tuhan melalui Nabi Yesaya bermuara pada sosok Yohanes Pembaptis. Dialah Suara dan tindakan di Padang Gurun demi menyongsong kedatangan Tuhan:

  1. Pemberitaan dan tindakan membatis demi pertobatan dan pengampunan dosa
  2. Pemberitaan tentang ‘keagungan dan kemuliaan Tuhan (Mesias) yang dinantikan itu. Bahkan tak layak Yohanes Pembaptis membuka tali kasutNya dan bahwa Mesias akan hadir dengan ‘baptisan Roh Kudus.’

Tetapi, tidak kah Yohanes Pembaptis juga mengajarkan sebuah ‘persiapan kedatangan Tuhan’ dengan kesaksian di dalam cara hidupnya sendiri? ‘Jubah bulu unta, ikat pinggang kulit dan makanannya belalang dan madu hutan’ (Mrk 1:6) mungkinkah mesti ditangkap juga sebagai sebagai ‘kesederhanaan-kemiskinan hati’ dalam menyongsong Tuhan?


Tentu, sosok – suara dan cara hidup Yohanes Pembaptis adalah Kekayaan Rohani yang mesti ditangkap di dalam menyongsong Tuhan, dalam menghadirkan Sang Mesias – Emanuel Terjanji di dalam diri kita. Sepantasnya setiap kita masuk ke dalam diri kita masing-masing sekedar bertanya pada diri sendiri untuk dapatkan jawabannya dalam kesadaran hati ‘penuh merenung dan bersikap.’

  • Jalan-jalan diri dan sikap apakah yang mesti dipersiapkan dan diluruskan?
  • Masih mungkinkah setiap kita masuk dalam dinamika dan kisah pertobatan diri?
  • Bisakah kita masih berjuang untuk sebuah ‘kesederhanaan hidup demi rasa cinta dan solider kita akan Tuhan yang merendah?’

Tuhan, yang kita imani adalah Tuhan yang sabar. Itulah yang diwartakan Rasul Petrus. Tetapi Tuhan yang sabar tetap ingatkan kita untuk ‘kembali pada kedaulatan kasihNya.’
Beginilah pewartaan Rasul Petrus:

“Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya demikian. Tetapi Tuhan sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri” 
(2Ptr 3:9-10).


Adventus adalah ‘semua kisi-kisi saat dan hari-hari kita untuk berbenah seluruh diri demi menyongsong Tuhan dan juga menyongsong Hari Tuhan yang akan tiba seperti pencuri itu. Lebih dari persiapan menyongsong hari Raya Natal, adventus dalam kerangka suara Rasul Petrus kita dingatkan agar “sambil menantikan semuanya ini haruslah kamu berusaha supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan Allah dan dalam perdamaian dengan Dia” (2Ptr 3:14).



Demi menyongsong kedatangan Tuhan, Adventus bagi kita tetap menjadi kisah-kisah kehidupan kita yang ‘merendah dan sederhana.’ Gambaran ‘jubah bulu unta, ikat pinggang kulit dan santapan madu hutan’ tidak kah dapat dihubungkan dengan ‘situasi apa adanya’? Sebatas apa yang dapat dipakai sesuai situasi, untuk tidak sekian ‘paksa diri’ mendapatkan ‘apa yang lebih?’


Tetap hidup menjadi tak nyaman, saat didera oleh desakan keinginan yang berkobar-kobar. Dan lalu dipakailah ‘cara-cara tak sedap dan penuh kotornya’ hanya untuk melampui standar normal ‘bulu unta, kulit binatang serta belalang – madu hutan.’


Tuhan yang kita nantikan adalah Tuhan Segala Kuasa. Tuhan ‘tidak hanya lebih berkuasa dari Yohanes Pembpatis’ tetapi Dialah Tuhan Mahakuasa. Di atas segala-galanya. Mesti kah kita harus membuat diri kita ‘amat berkuasa, amat glamour, sekian mewah’ dengan sekian cara dan modus yang tak cantik, kumuh dan kusam?


Sebab itulah, dalam tampilan Yohanes Pembaptis di padang gurun itu, Adventus bagi setiap kita adalah proses ‘pelucutan segala kemewahan dan elitisme’ yang tak beretika itu agar pada hari kedatanganNya, iya pada hari Perayaan Natal itu kita telah memiliki ‘kekuatan rohani di hati dan jiwa kita untuk sanggup berlutut dan menyembah serta mengecup Yesus, Anak Manis.’


Selalu ada Tuhan yang datang, yang lebih berkuasa dari apa dan siapapun!

Akhirnya mari kita renungkan kata-kata Nabi Yesaya:  “Lihat, itu Tuhan Allah! Ia datang dengan kekuatan, dengan tangan yang berkuasa...”  
(Yes 40:10)


Saat Tuhan datangan dengan tanganNya yang penuh kuat kuasa, kita menyongsongnya dengan penyerahan diri, dengan luruskan jalan hati dan batin, dan kita menyambutNya dalam kerendahan hati kita yang paling dalam.


Tetap masih ada yang mesti diluruskan……

Verbo Dei Amorem Spiranti

Tuhan memberkati.

Amin

Posting Komentar

0 Komentar