Header Ads Widget

Bible Corner ; Saat Sungut-Sungut Tetap Tersulut

 

“Ya Bapa, Kami Pulang Kepada-Mu…”

Di mana pun kita berada, bagaimana pun bingung dan berantakannya diri kita, di situlah titik tolak kita melakukan perjalanan pulang” (Thimothy Radcliffe, OP – mantan Jenderal Ordo Dominikan 1992-2001)

 

Refleksi, Pekan IV Pra-Paskah, Minggu, 27 Maret 2022

(Bacalah Injil Lukas 15:1.3.11-32)


P. Kons Beo, SVD

Saat Sungut-Sungut Tetap Tersulut

Gema Injil Lukas tentang Perumpaan Anak Yang Hilang ditujukan terutama pada orang-orang Farisi dan ahili-ahli Taurat. Kedua kelompok elitis Yahudi ini bersungut-sungut akan sikap Yesus. Sebab, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Luk 15:2). Dan orang-orang berdosa yang dimaksud adalah para pemungut cukai dan kaum pendosa pada umumnya.

Kelompok pemungut cukai itu dinilai telah serong dari pengabdian kepada bangsa Yahudi. Tak lebih dari seorang pengkhianat rakyat. Kaki tangan penjajah Romawi. Mereka aktif dalam memeras. Kelompok pendosa lainnya bisa terkategori dalam zona amoral. Itulah kaum yang bertingkah laku tak senonoh. Yang melumpuri jalan hidup mereka dengan rupa-rupa perbuatan celah dan nista.

Perumpamaan Yesus tentang Anak Yang Hilang sungguh kaya makna. Dan ia bisa dibilang sebagai Injil dari segala Injil (Evangelium Evangelorum). Semuanya tentang manusia yang asing dan terkubur dalam noda. Namun tak pernah pudarkan Kasih Tuhan. Perumpamaan itu menilisik cara dan sikap yang mesti diubah, keadaan lemah dan berdosa, proses perubahan, serta begitu dalamnya Kasih Bapa yang mengampuni.

Cara berpikir dan sikap kaum elitis itu bisa menjadi gambaran sikap ‘yang tak berubah.’ Cara pandang, menilai serta sikap itu sungguh menyasar siapapun yang telah ‘dipatok tercemar, bersalah, berdosa serta tervirus oleh rupa-rupa kenistaan.’ Kelompok minus seperti ini tentu tak miliki tempat dalam ruang hati  sesamanya. Dan juga bahwa mereka dipaksa mesti kehilangan ruang dan tempat dalam tata pergaulan masyarakat luas.

Gema Perubahan Dalam Yesus

Yesus, melalui perumpamaan itu, tentu bermaksud untuk menyentil cara pandang dan sikap yang sekian ‘kaku dan terpaku mati’ akan sesama yang suram itu. Tanpa belaskasih. Tanpa pemahaman dan tiada hati untuk kembali dalam penerimaan. Kelompok elitis yang hanya terpaku pada prinsip ‘biarlah yang hitam tetaplah menjadi hitam, dan tiada harapan jadi putih’ ditantang untuk berubah sikap akan sesamanya!

Kisah si anak hilang berawal dari pemaksaan kehendaknya akan apa yang menjadi haknya. Ia merasa berkuasa atas apa yang menjadi hak warisannya. Apakah suatu kedurhakaan di zaman Yesus bahwa seorang anak menuntut warisannya dan membawa pergi  semuanya jauh selagi sang ayah masih hidup? Atau kah dia sekian cemas, andaikan sang ayah wafat, sang kakak akan mengambil dan mewarisi semuanya? Entahlah.

Kebebasan mutlak menguasainya! Ia, yang semula merasa berkuasa atas segala yang menjadi miliknya, justru perlahan namun pasti dikuasai oleh harta kekayaannya itu. Yesus melukiskannya dengan kalimat, Ia pergi ke negeri yang jauh (asing). Di sana ia memboroskan harta miliknya dengan hidup berfoyah-foyah” (Luk 15:13).

Harta sepertinya miliki ‘aura, kekuatan’ untuk menjerat manusia ke dalam sikap tak terkendali. Punya segala-galanya adalah modal kuat berbuat segala-galanya pula. Kekuatan harta sudah melampaui cara berpikir waras dan suara hati yang bening. Sebab semuanya terlumpuhkan.

Jalan Pulang Yang Menantang

Dinamika pertobatan kini mulai bergelora. Diawali oleh ‘penghakiman alami’ dalam ‘bencana kelaparan di negeri itu, dan ia mulai melarat’ (Luk 15:14). Perumpamaan Anak Yang Hilang dalam arus pergolakan batin terasa menderang saat kita renungkan situasi batin nan kontras si anak bungsu itu:

-Ia yang menuntut apa yang menjadi warisannya versus kini memohon untuk menjadi seorang pekerja pada seorang majikan.

-Ia berkelimpahan dan berfoyah-foyah versus kini melarat serta harus puas dengan ampas yang menjadi makanan babi.

-Karena harta, ia miliki daya tarik bagi sekian banyak orang versus kini tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

-Ia yang semula adalah anak ‘rumah adalah istana ku’ versus kini anak ladang penjaga kawanan babi (hewan najis).

Keadaan melarat membuatnya untuk tersadar. Teringat akan orang-orang upahan bapa yang serba kelimpahan, toh “Mengapa aku yang adalah anak kandungnya sendiri mesti kelaparan di tanah asing ini?” Segala kekelaman di alam lama mesti ditantang oleh satu sikap baru, “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku….” (Luk 15:18). Bukan kah kita mesti bangkit pula?

Kasih Ayah-Ibu yang Tak Pernah Pudar: Gambaran Kasih BAPA

Narasi kesadran akan kedurhakaan telah dibentuk. Namun, semuanya jadi gugur di mata sang ayah. Bahkan dari kejauhan sang ayah telah melihat dia. Yesus melukiskannya dengan penuh afektif: Sang ayah tergerak hati, berlari mendapatkannya, merangkul dan mencium dia (cf Luk 15:20).

Bagi hati seorang ayah, “Anak tetaplah anak yang sungguh dikasihi.” Tak bersyarat. Segala situasi asing yang telah dialami dan dilewati sang anak tak membuatnya untuk ‘tak ingat lagi akan anaknya.’ Ia segera menyambut anaknya secepatnya. Mungkin kah sang ayah tak ingin kalau-kalau ada musuh-musuh yang kedahuluan untuk mencederai anaknya saat ia kembali? Sang ayah ‘harus menjadi orang pertama yang berlari dan menjemput anaknya.’

Dan, suasana pesta mesti segera disiapkan! Suasana tanah asing dengan serba kesuraman dan kemelaratannya mesti segera berubah kembali menjadi meriah. “Alam jubah terbaik, cincin, sepatu, musik serta makanan berlimpah” sepantasnya segera disiapkan.

Sang ayah tentu tak membenarkan sikap suram dan kelam anaknya itu. Tetapi, bahwa ‘anaknya itu didapatinya kembali. Pulang kepada pangkuan Kasihnya, dan dijumpainya tetap hidup. Itulah yang menjadi kemegahan sebuah sukacita.

Mengapa Tak Mampu Bersukacita Bersama?

Tetapi, apakah kepulangan si bungsung sungguh menjadi tanda sukacita seisi rumah? Para Farisi dan ahli-ahli Taurat toh tetap bersungut-sungut. Itulah yang digambarkan dalam reaksi anak sulung. Ia tak peduli akan ‘adiknya yang telah kembali.’

Musik meriah dan suasana pesta tak membuat hatinya bergeming. Sekali durhaka tetaplah durhaka; sekali najis tetaplah najis. Si sulung marah dan tak mau masuk. Ia tetap ingin berjarak dengan adiknya yang nista itu. Seorang ayah tetaplah menjadi ayah yang telah menyambut si bungsu, pun tetap punya hati untuk ‘keluar dan berbicara dengan si sulung’ (cf Luk 15:28).

Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapati kembali(Luk 15:32).

Bukan kah si sulung mesti bersukacita karena adiknya telah kembali? Itulah pula yang menjadi gambaran sukacita yang lebih besar di surga ketika satu orang bertobat daripada sekian banyak yang lain, yang tidak memerlukan pertobatan (cf Luk 15:7).

Akhirnya…

Perumpamaan Anak Yang Hilang sepantasnya membuat kita berteduh hati:

-Betapa gelapnya jalan yang kita lalui jauh dari Kasih Tuhan…

-Betapa sekian banyak sesama yang kita hakimi dalam sungut-sungut kita untuk tetap menetapkannya dan menghakiminya dalam kenistaan jalan hidupnya.

-Betapa hati Bapa yang berbelaskasih menyentuh seluruh diri kita untuk kembali. Pulang ke hadirat kasihNya yang berlimpah.

-Betapa kita bisa menjadi tak puas untuk tak sanggup memahami keadilan Kasih Tuhan. Sebab itulah kita tetap bersungut-sungut akan Kasih Bapa yang ‘menerima kembali dan mengampuni sesama yang ternilai kelam dan suram.’

-Betapa sebenarnya kita sebatas berpakaian kesalehan palsu yang menghakimi orang lain, kini saatnya Bapa mesti pula mengenakan pula jubah hati baru yang terbaik (cf Luk 15:22) pada kita. Itulah jubah hati seorang yang telah diampuni, dan lalu  sanggup mengampuni serta kembali menerima sesama.

Ada sekian banyak yang hilang dari hadapanmu. Itulah tetanggamu, rekanmu, anakmu sendiri, saudaramu sendiri, anggota keluargamu, serta sekian banyak siapapun yang Anda kenal. Bertarunglah untuk mengenakan Kasih Bapa dalam mengampuni dan menerima (kembali).  

 

Verbo Dei Amorem Spiranti

  

Posting Komentar

0 Komentar