Header Ads Widget

Bible Corner; Saat Yesus Memasuki Yerusalem dan Ketika Putin Memasuki Ukraina

Saat Yesus Memasuki Yerusalem dan Ketika Putin Memasuki Ukraina

-sebuah permenungan  Minggu Palma 2022-

“Kedamaian dimulai dengan senyuman..” (St Madre Teresa dari Kalkuta, 1910 – 1997)

Bible Corner, Pekan VI Pra-Paskah (Pekan Suci), Minggu 10 April 2022

(Mengenang Sengsara Tuhan)

Pater Kons Beo, SVD, saat ini tinggal di Roma Italia


Mari Memasuki Pekan Suci

Gereja memasuki Pekan Suci. Misteri Paskah segera dirayakan, yakni kisah penderitaan, kematian dan kebangkitan Tuhan. Perayaan Minggu Palma adalah gerbang liturgi bagi kita untuk merenungkan jalan masuk Yesus menuju puncak kemuliaanNya.

Injil Lukas yang diperdengarkan kepada kita tampakan citra kemuridan dalam Yesus. Seorang murid Tuhan nampak saat ia tetap belajar untuk mendengarkan dan mengikuti Yesus. Dan lebih dari itu, seorang murid bercitra saat menjalankan apa yang dikehendaki Yesus, Tuhan dan Guru.

Pesan Damai yang tak boleh Terputus

Mari kita menangkap dan merenungkan pesan Sabda Tuhan, dalam Kisah Perjalanan Yesus menuju kota Yerusalem:

Pertama, “Masuk kampung, temukan seekor keledai muda, lepaskan dan bawa ke mari” (cf Luk 19:30). Itulah yang dikatakan Yesus kepada dua murid. Bukan seekor kuda jantan. Kuda adalah simbol kegagahan kemenangan yang diraih dalam senjata kekerasan.

Kuda isyaratkan pula kesombongan dan rasa tinggi hati. Simbolisme kuda adalah narasi ‘rasa haus dan gemar’ akan peperangan, kekacauan, serta aneka khaos yang merusakkan tatanan kehidupan manusia. 

Namun sebaliknya keledai tetap berkisah tentang citra keteduhan batin, kesetiaan, cinta dan kerendahan hati. Dalam “keledai” ada aura perdamaian yang nyata. Yesus tidak masuk ke kota Yerusalem dengan senjata kekerasan. Tak ada musuh yang mesti ditakuti atau pun untuk dibinasakan. Tak ada.

Ia adalah Raja yang Damai. Bukan kah DAMAI dan Rendah hati adalah pilar-pilar tangguh dalam kehidupan dunia yang harmoni? Tataplah dunia yang tercabik-cabik dan luka oleh kekacauan yang lahir dari keangkuhan. Dan itulah yang terjadi kini dalam sisi dunia Ukraina yang menyedihkan. Pun di tempat-tempat di mana kekerasan mudah terpicu.

Murid-murid Yesus tetap diingatkan oleh kewibawaan pengajaran Yesus di Bukit, “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). 

Kedua, ada ungkapan hati Yesus pada kedua murid itu bahwa “Tuhan memerlukannya” (Luk 19:319. Yang diperlukan Tuhan adalah ‘seekor keledai tunggangan.’ Yesus ingin menegaskan DiriNya sebagai ‘pangeran perdamaian.’ 

Dapat ditafsir seadanya, saat membawa keledai tunggangan itu, kedua murid pun mesti membawa diri dan hati yang “damai dan sejuk” kepada  Yesus. Dan di situ tersiratlah pengakuan akan Yesus sebagai Pangeran Perdamaian, dan kedua murid itu sendiri adalah prajurit-prajurit perdamaian.

Saat memasuki kota Yerusalem, Yesus, Pangeran Perdamaian, naik ke atas seekor keledai. Dan, bukan kah para murid Yesus, Gereja, kita semua, dalam spirit kisah Minggu Palma, diajak untuk memasuki ‘hati sesama, tempat dan lingkungan, alam dan budaya-budaya lain dengan berbekal ‘senjata perdamaian dan juga harus mengusahakan perdamaian itu sendiri?’

Mari kita kita renungkan pula kata-kata Yesus bagi para murid dan bagi kita semua, “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai Sejahtera bagi rumah ini” (Luk 10:5).  Seorang murid Tuhan terpanggil untuk memasuki apapun situasi hidup sambil memberitakan Damai sejahtera itu. 

Seruan perdamaian itulah yang diserukan oleh para murid, saat Yesus memasuki kota Yerusalem, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan! Damai sejahtera dan kemuliaan di tempat yang Mahatinggi!” (Luk 19:38).

Ketiga, kita memang pantas merenungkan bahwa untuk ‘ada bersama Yesus dan mengikutiNya sebagai Pangeran Perdamaian, para murid yang bersorak-sorak itu mesti ‘melepaskan pakaiannya’ yang ditempatkan pada keledai tunggangan dan juga dihamparkan ke jalan. 

Pakaian-pakaian yang dihamparkan itu bisa kita maknai sebagai ‘pelepasan dari apa yang berharga, yang kita miliki demi Yesus, Pangeran Perdamaian itu.’ Di titik ini, kita bisa memahaminya sebagai tindakan penyerahan diri para murid demi sebuah nilai yang luhur.

Tetapi pula, bahwa menghamparkan pakaian bisa direnungkan sebagai simbol pembebasan. Saat seorang murid tak ingin dikurung oleh ‘pakaian dan segala atribut kebesaran.’ Di hadapan Tuhan dan bersama dengan sesama yang lain kita sepantasnya merendah hati tanpa mengagungkan segala kebesaran dan keistimewaan diri kita. 

Bukan kah ‘kuda, senjata kekerasan dan pakaian gagah’ adalah ekspresi hati yang angkuh, sulit mengalah, dan selalu berhasrat untuk meremukkan dan menindas sesama? Tuhan memasuki kota Yerusalem. Tidak untuk menghancurkan. Tidak untuk membinasakan. Tidak pula untuk timbulkan kengerian. Tidak untuk menimbulkan ratap tangis, air mata dan darah serta kematian..

Damai itu Tak Akan Pernah Bersanding Dengan Kekerasan

Dunia kini sungguh meratap. Namun mesti tetap punya harapan untuk sebuah alam perdamaian. Sudah sebulan lebih, agresi Rusia telah memasuki kota-kota di Ukraina. Dan yang hanya ada kini adalah puing-puing kehancuran yang mengerikan! Sebuah alam hidup tanpa kepastian. Dalam tatapan kosong. Penuh tangis pilu menyayat. Sebuah tragedi kehidupan dan kemanusiaan telah terjadi.

“Keledai-keledai perdamaian telah diasingkan. Sebab Putin, Presiden Rusia itu, lebih memilih untuk menyembah ‘kuda-kuda maut dan monster-monster besi’ pro kematian dalam kendaraan lapis baja dan mesin-mesin penghancur dan pencabut nyawa….”

Tuhan, di hari Minggu Palma ini,  mengajak kita semua tidak hanya untuk memasuki Yerusalem bersama Dia. Tak hanya itu. Tuhan, di hari-hari ini, sudah dan tetap mengajak kita untuk berani memasuki wilayah-wilayah Ukraina. Kita memasuki hati saudara-saudari kita nun jauh di sana walau dalam sepotong doa, dalam ungkapan rasa hati bersama, pun dalam tanda solidaritas yang nyata. 

Satu pelajaran kehidupan yang sarat makna bagi kita. Tuhan tetap memerintahkan kita untuk memasuki alam hidup bersama dan sesama dengan hati penuh teduh dan damai. Wajah kita adalah wajah yang berbobot promotif demi perdamaian. Bukan wajah seram yang menakutkan, yang mendengki, yang lahir dari alam batin tak nyaman!

Kita tak boleh bersenjatakan kekerasan baik dalam kata dan apalagi dalam tindak. Kita mesti merenungkan kata-kata Yesus di Getsemani pada Petrus, “Masukan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang…” (Mat 26:52) 

Akhirnya….

Setiap kita, murid-murid Tuhan, adalah anak-anak perdamaian. Kita  tetap disebut anak-anak Allah sebab yang kita usahakan adalah perdamaian. Yang tetap kita lantunkan adalah “Jangan biarkan damai ini pergi. Jangan biarkan semuanya berlalu. Hanya padaMu, Tuhan, tempatku berteduh dari semua kepalsuan dunia….”

Karena itulah, ingatlah akan kata-kata sederhana dari Muder St Teresa dari Kalkuta-India, “Kedamaian dimulai dengan senyuman…..” Apa jadinya dunia ini jika hanya dihuni oleh manusia-manusia hemat senyum dan apalagi teramat pelit untuk tersenyum?


Verbo Dei Amorem Spiranti

Selamat memasuki Pekan Suci. Tuhan memberkati.







 


Posting Komentar

0 Komentar