Header Ads Widget

Bible Corner ; Taruhlah Jarimu di sini, dan Lihatlah Tangan-Ku…


Lokasi di sekitar Gua Maria di Gereja Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong, Tahun Pastoral Pariwisata Holistik, Keuskupan Ruteng


“Taruhlah Jarimu di sini, dan Lihatlah Tangan-Ku…”

(Yoh 20:27)

-satu permenungan-

Bible Corner, Pekan II Paskah, Minggu 24 April 2022

P. Kons Beo, SVD




Hidup itu indah. Hidup itu bentangkan sekian banyak daya pikat. Dan semuanya menarik hati kita untuk berkobar-kobar mencari dan mengalaminya. Kita lalu berjuang dan bertarung untuk mengalami setidak-tidaknya bagian dari sukacita hati itu.

Hampir tak ada manusia yang berkeinginan untuk merana dalam hidup. Tanpa harapan dan kepastian. Sebab itulah ‘hidup sebagai satu perjuangan selalu digelorakan.’ Ada sekian banyak kata berdaya dan kalimat bermakna yang dihembuskan. Sebab kebesaran hati dan semangat di jiwa mesti dikobarkan. Keadaan hidup tenang, damai, jauh dari derita, dan hidup penuh kepastian itu mesti ditata.

Bagaimana pun, tak ada yang murah dan sebegitu mudah untuk diraih dalam hidup ini! Sekian banyak tantangan dan halangan selalu saja siap menghadang. Dan di situlah, sungguh, kesiapan hati yang teduh amat dibutuhkan.

Paskah Tuhan adalah kemegahan misteri keselamatan! Kebangkitan Tuhan adalah dasar dan pokok iman Gereja, iman para murid Yesus. Kita renungkan kata-kata Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, “Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah iman kalian, dan kalian masih hidup di dalam dosamu..” (1 Kor 15:17).

Tetapi, apakah kisah Paskah Tuhan itu bisa dicapai dan ditangkap secara mudah dalam satu ‘kekuatan atau bahkan kesempurnaan iman?’ Kisah Paskah bagi ‘para perempuan yang menjenguk ke makam Yesus’ adalah ‘keterkejutan dan ketakutan.’ Kisah Kebangkitan Tuhan oleh Maria Magdalena ditapaki dengan ‘kesedihan mendalam dan air mata kehilangan.’

Dan kini, apa yang hendak ditangkap dari kisah penampakan Yesus bagi para murid? Dan juga delapan hari setelah penampakan pertama itu. Injil Yohanes menarik kita untuk satu dua permenungan seadanya:

Pertama, Paskah bermakna sukacita dan pengharapan. “Damai sejahtera bagi kamu” (Yoh 20:19.21). Kata-kata Yesus sungguh membawa kekuatan dan harapan baru bagi para murid. Derita dan kematian Yesus di salib adalah kisah redup yang mesti dialami oleh para murid.

Para murid itu dicekam oleh rasa takut yang sekian dalam oleh kisah derita dan kematian Yesus, sang Guru. Namun, penampakan Yesus pada waktunya membawa sukacita. Dan bahkan Yesus segera mengutus para murid untuk menjadi saksi sukacita dan harapan itu. Sebab katanya, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21).

Menjadi Gereja yang “diutus dan yang bersaksi” adalah rahmat Paskah bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus. Tetapi, kita menjadi saksi kebangkitanNya dalam kuasa Roh Kudus. Kata-kata Yesus kepada para murid sungguh meneguhkan, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22). Kisah Paskah bukan saja tentang kisah kemenangan Tuhan dan sukacita bagi Gereja. Tetapi, kisah kemenangan dan sukacita Paskah sepantasnya menjadi Kabar kemenangan dan sukacita bagi sesama dan dunia.

Kedua, tetapi apakah kisah kebangkitan Tuhan semuanya bermuara pada tanggapan ‘secepatnya dan langsung?’ Kisah Thomas yang disebut Didinus kiranya gambarkan satu proses (dinamika) untuk tiba pada keyakinan kisah Tuhan yang bangkit.

Foto Tuhan Yesus Bangkit Haleluyah
Tuhan Sungguh telah Bangkit

“Tuhan sungguh telah bangkit” telah jadi kisah bersama yang dialami para murid lainnya. Tetapi bagi Thomas, kisah mulia itu belum tiba pada ‘seluruh dirinya’ mengingat Thomas sendiri belum ‘melihat bekas paku pada tangan dan bersentuhan langsung pada bekas paku dan lambung’ (cf Yoh 20:25).

Terkadang kita merasa yakin dan benar ‘yang seolah-olah’ sementara kita sendiri tahu bahwa kita salah dan masih tetap dalam satu ruang gelap di ziarah hidup ini. Atau bahwa pada akhirnya kita yakin akan satu kebenaran atau lebih menambah keyakinan itu setelah kita merasa diperdayai atau lewati pelbagai rintangan kesuraman.

Tetapi apakah jalan Thomas adalah sebuah jalan yang sesat? Sementara murid-murid yang lain telah lewati sebuah jalan yang lurus dan tepat? Setiap kita pasti memiliki kisah pengalaman iman yang unik dan istimewa. Siapa pun kita tak lebih rendah pun lebih mulia dalam sebuah pengalaman iman akan Tuhan yang bangkit. Masing-masing kita sesungguhnya adalah ‘pancaran variasi dan kekayaan iman itu.’

Ketiga, keberanian menyentuh derita, luka, yang tak indah serta perbagai hal yang tak menarik bukan lah perkara yang mudah. Kita bisa saja merasa ‘tinggi’ dengan segala ‘keluarbiasaan kita’ untuk sebenarnya tak sanggup menyentuh apalagi memeluk ‘yang tak indah dalam diri sendiri.’

Ini sama saja seperti kita seandainya kita sebatas sekian rajin dan bersemangat dalam membentangkan segala yang tak indah, kekurangan, ketidakhebatan, serta rupa-rupa kelemahan saudara-saudari sendiri, tetangga, rekan-rekan kerja, pimpinan - anggota, atau siapapun sesama. Tetapi sayangnya kita gagal untuk punya hati untuk ‘menyentuh dan masuk’ sebagai sebagai murid Tuhan di dalam segala ‘luka dan ketidakhebatan sesama-sesama itu.’

Yesus tetap terluka dalam diri sekian banyak sesama yang terlaluka. Dan perintahnya jelas: “Taruhlah tanganmu di situ.” Ulurkanlah tangan dan membantu adalah imperasi perutusan (misi) dalam semangat Paskah.

Menyentuh dan masuk dalam ‘Tubuh Yesus yang tetap terluka pada tangan, kaki dan lambungNya’ adalah sebuah panggilan dalam untuk menyentuh dan terlibat dalam kisah sesama yang terluka nasibnya. Itulah kaum miskin yang sakit dan lapar, kaum terlantar, di penjara, korban perang dan kekerasan, korban ketidakadilan dan tipu daya dalam kisah perdagangan manusia, misalnya.

Kemurahan Tuhan

Keempat, kita mesti tiba pada pengakuan iman Tuhan: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Itulah kata-kata yang keluar dari Thomas. Jalan imannya sungguh berliku dan tak mudah. Tuhan tak sedikit pun menghardik dan mencela Thomas. Kata-kata Tuhan sebaliknya adalah sebuah ajakan penuh teguh bagi Thomas, “…jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah” (Yoh 20:27).

Entah jalan ‘lurus dan langsung percaya’ atau pun jalan ‘berliku bagai jalan Thomas,’ jalan-jalan kehidupan itu menuntun kita pada satu pengakuan akan Tuhan, “Ya Tuhanku dan Allahku…”

Adalah tugas Gereja dan panggilan bagi semua kita untuk menjadi saksi iman akan kebangkitan Tuhan. Bersyukurlah bila Anda memiliki kesaksian hidup imani yang paten dan teguh. Namun, tetap teguhlah dan berani pulalah untuk mendoakan saudara-saudarimu masih merasa gagal untuk ‘terhembusi oleh kuasa Roh Kudus.’



Bukan kah demikian?



Verbo Dei Amorem Spiranti

Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong, Keuskupan Ruteng membutuhkan dukungan dari umat beriman terhadap upaya pembangunan Gereja. Kami sangat senang jika anda mengambil bagian, donasi anda sekalian bisa dikirim ke rekening resmi panitia pembangunan. TUHAN MEMBERKATI.

Gambar Gereja Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong
Gereja Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong, Keuskupan Ruteng

















Posting Komentar

0 Komentar