Header Ads Widget

Renungan Harian ; Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya...


Berbagi adalah tindakan  Kasih

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya..."

Pater Kons Beo,SVD

1Ptr 5:7

(Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya)


KEKUATIRAN adalah bagian dari diri kita. Rasa kuatir itu sangatlah manusiawi. Adakah manusia yang tak dihinggapi atau ungkapkan rasa cemasnya? Tentu tidak.

PERSOALANNYA bukan pada rasa kuatir yang pasti itu. Tetapi lebih pada bagaimana kita mesti hadapi apa yang membuat kita merasa kuatir. Dan tentu pula pada bagaimana mencari jalan keluarnya.

SEGALA aksi tanpa persiapan memang bisa mengkuatirkan. Sekedar asal nekat dan asal berani memang mencemaskan pula. Tetapi, terlalu percaya diri juga sering membawa kekuatiran.

BILA kita teduh melihat, ternyata rasa kekuatiran itu tetap nyata. Ia 'tak peduli akan apa yang kita miliki sebagai jaminan.' Rasa cemas tetap hadir walau sekuat apapun satu persiapan yang telah kita rancang.

KEKAYAAN, segala yang kita miliki, kesanggupan akal budi yang tertanam dalam diri,  juga sehebat apapun tampilan diri kita, semuanya tak menjadi jaminan bagi untuk luput dari riak-riak kekuatiran. 

RASUL Petrus mengajak para pendengar dan kita sekalian untuk menapaki jalan kerendahan hati. "Karena itu rendahkan dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat..." (1Ptr 5:6). Bahkan bagi Petrus kekuatiran itu dapat dihadapi dengan "kesalingan merendahkan diri. Seorang  terhadap yang lain" (cf 1Ptr 5:5b).

KEKUATIRAN yang semakin menebal itu ternyata ketika kita berada di posisi tinggi

Iya, dalam kuasa dan kedudukan yang kita miliki. Kecemasan hadir saat kita merasa sungguh berkelimpahan.

"SERAHKANLAH  segala kekuatiranmu pada Tuhan." Itulah yang diberitakan oleh St Petrus. Manusia jadi kuatir, cemas, dan gelisah di hati sungguh disebabkan oleh hatinya yang terlekat pada sesuatu. 

ST MARKUS kisahkan tentang para murid yang pergi untuk memberitakan Injil di segala penjuru. Para murid telah teruji untuk pergi sambil juga untuk 'membebaskan diri sendiri dari rupa-rupa kekuatiran.' 

KITA adalah murid-murid Tuhan yang selalu tetap belajar untuk merendahkan diri di hadapan sesama dan terutama di hadapan Tuhan. Maka kekuatiran itu tidak lagi menjadi 'sahabat dan tamu istimewa kita.'


Injil Yohanes 3:7-15

Di antara mereka tidak ada seorangpun yang berkekurangan..."*

Kis 4:34

(Neque enim quisquam egens erat inter illos).


TIDAK berkekurangan! Itulah keadaan hidup kumpulan orang yang telah percaya akan Yesus. Banyak tindakan praktis yang diambil demi 'semua merasa berkecukupan.' Itulah yang direnungkan dari Kisah Para Rasul.

MEREKA lepaskan apa yang menjadi milik sendiri. "Meletakkan hasilnya di bawah kaki rasul-rasul"adalah ungkapan kebebasan hati. Semuanya demi 'dibagi-bagi kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.'

APA yang dilakukan jemaat sejatinya, adalah ungkapan kemerdekaan hati yang dalam. Tak ada keinginan untuk terlekat kuat pada harta dan perolehan. Sebab masih ada sesama yang  lebih membutuhkan.

SUASANA berbagi seperti ini, tentu berbeda telak dari semangat demi diri sendiri dalam  memiliki dan menimbun. Itulah keadaan di mana hati sekian cemas untuk menjamin dan memperkaya sendiri. Jauh dari semangat solider. Berjarak lebar dari tindakan berbagi dan jiwa karitatif.

TAK gampang untuk berteduh hati dalam "semangat cukup." Untuk mengatakan pada diri sendiri: 'yang lain itu adalah hak sesama.' Dan  bahwa 'memberi dan bersedekah adalah adalah ungkapan sikap iman.'

BERSEBERANGAN dari semangat untuk 'meletakkan perolehan di bawah kaki rasul-rasul', kita bisa terjebak dalam tumpukan perolehan dengan seruan -''hai jiwaku, ada padamu barang-barang tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya...'' (Luk 12:19).

GEREJA yang hidup tentu ditandai dengan citra solider yang nyata. Di mana ada ratapan dunia yang sungguh membutuhkan, di sanalah hati dan panggilan Gereja dipertaruhkan. Kita memang tak menginginkan kemiskinan untuk kita bersaksi. Tidak! 

BAGAIMANAPUN kesediaan dan ketulusan hati untuk berbagi mesti tetap menjadi gema suara hati yang bersaksi. "Kamu harus memberi mereka makan" (Mrk 6:37) tetaplah menjadi daya dorong untuk bertindak tulus hati. Demi sesama yang sungguh berkekurangan!


*Verbo Dei Amorem Spiranti*


Tuhan memberkati.

Amin. Alleluia.

Posting Komentar

0 Komentar