Header Ads Widget

Pemanasan Global: Sebab Hingga Dampaknya



Pemanasan Global: Sebab Hingga Dampaknya

Pengacara Lingkungan dan Ketua Dewan Yayasan Inobu;

Bumi memiliki mekanisme alamiah berupa siklus yang mengatur keseimbangan antara berbagai komponen pembentuk bumi. Dalam narasi iman, Alkitab orang Kristen menyebut bahwa setelah menciptakan semesta, “Tuhan melihat semuanya itu baik”. Artinya, semesta bekerja berdasarkan hukum-hukum alam yang harmonis dan seimbang. Para ahli menyebut keseimbangan itu proses biogeokimia, yakni siklus yang melibatkan perpindahan alamiah dari unsur-unsur biologi, geologi, dan kimia dari satu bentuk atau wadah ke bentuk atau wadah lainnya. Siklus-siklus ini membentuk kehidupan di muka bumi, yang melahirkan suatu ekosistem, menumbuhkembangkan makhluk hidup, dan menyeimbangkan relasi antara berbagai komponen hidup dan mati yang ada di jagat bumi.
Baca juga yang ini;Untuk kita ketahui, Ternyata Perubahan Iklim dimulai dari Timur Indonesia Bagian Selatan

Prinsip dasar dalam setiap siklus tersebut adalah pertama-tama terdapat proses yang mengalirkan setiap unsur dari satu bentuk atau wadah penyimpanan ke suatu bentuk atau wadah yang lainnya. Prinsip berikutnya adalah setiap wadah memiliki ambang batas tertentu. Jika ambang batas itu terlampaui maka reaksinya akan mengganggu siklus-siklus lainnya. Gangguan itu merupakan respons alamiah yang terpicu laiknya pintu otomatis agar wadah yang terlalu penuh bisa mengalirkannya ke wadah lainnya. Selanjutnya, setiap siklus perpindahan atau perubahan memiliki periode. Ada periode yang berjalan cepat dalam hitungan hari bahkan jam. Tetapi ada periode siklus yang berjalan lambat hingga membutuhkan waktu jutaan tahun.

Baca juga yang ini; 
Perubahan Iklim sedang mengancam kita semua, khususnya kelompok-kelompok rentan

Siklus yang sering diperdengarkan ke banyak orang sejak usia belia adalah proses terjadinya hujan. Hujan adalah proses siklus pendek yang merupakan rangkaian dari suatu proses. Untuk memudahkan anak didik, guru-guru SD memvisualisasikan proses itu lebih sederhana dan bertahap. Pertama-tama sebagai reaksi terhadap panas sinar mata hari maka muka bumi termasuk air laut, vegetasi, tanah, mengalami proses penguapan berupa gas yang naik ke atmosfir. Akibat suhu atmosfir yang dingin, uap air itu mengalami perubahan wujud menjadi embun yang secara kasat mata dilihat sebagai tumpukan awan. Lambat laun, tumpukan itu terus membesar dan tak sanggup lagi tertahan di atmosfir, kemudian turun menjadi titik-titik hujan. Sebagian air hujan menyerap ke tanah yang tertampung di dalam tanah dan kemudian suatu saat mengalir lagi menjadi mata air. Sebagian lainnya dialirkan ke laut, danau, diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang kemudian mengulang proses yang sama, dari penguapan, pengendapan di atmosif, kemudian turun kembali ke muka bumi dalam bentuk hujan.

Baca juga yang ini;Kita diingatkan akan bahaya dari Perubahan Iklim..

Proses terjadinya hujan merupakan suatu ringkasan sederhana dari suatu siklus yang disebut sebagai siklus hidrologi. Pada setiap tahapan dari siklus itu terdapat proses yang mengalirkan wujud atau bentuk air dari satu tempat ke tempat lainnya. Masing-masing tempat itu memiliki ambang batas. Atmosfir mempunyai ambang batas yang hanya sanggup menampung uap air dalam jumlah tertentu. Ketika daya tampung alamiah itu terlampaui maka langit memprosesnya menjadi hujan yakni suatu cara untuk memindahkan air dari atmosfir ke tempat penyimpanan lain di muka bumi.

Siklus Karbon

Di samping siklus hidrologi, terdapat beberapa siklus lain. Salah satunya adalah siklus karbon. Karbon merupakan tulang punggung bumi. Saat ini, karbon merupakan elemen yang digunakan para ahli untuk menilai emisi yang dikeluarkan manusia. Di samping karbon, terdapat elemen lain yang dilepaskan aktivitas manusia seperti metane (CH4), ethane (C2H6), propane (C3H8), butane (C4H10) yang jauh lebih panas dibandingkan karbon. Makin tinggi jumlah senyawa hidrogen (H) dalam suatu komposisi maka makin tinggi pula panas yang dikeluarkan.

Baca juga yang ini; 
Hati hati, Perubahan Iklim ancam Ketahanan Pangan dan Sumber Penghidupan Keluarga Petani di Perdesaan

Menurut para ahli, karbon dibentuk pada bintang yang mengawali alam semesta dan merupakan unsur keempat yang paling melimpah di alam semesta (Riebeek 2011). Seperti halnya air dalam siklus hidrologi, karbon juga memiliki siklus dari satu tempat penyimpanan ke tempat berikutnya. Sebagian besar karbon bumi, sekitar 65.500 miliar metrik ton disimpan di bebatuan. Sisanya ada di lautan, atmosfer, tumbuhan, tanah, dan bahan bakar fosil.

Riebeek (2011)


Komposisi karbon sudah ada pada masing-masing tempat penyimpanan (tulisan putih pada gambar). Demikian halnya dengan karbon yang mengalir dari satu tempat ke tempat lainnya (tulisan kuning pada gambar). Di luar itu adalah ulah manusia (warna merah pada gambar) yang mengekstrak karbon dari perut bumi dalam bentuk bahan bakar fosil dan memindahkannya ke atmosfir. Misalnya di atmosfir terdapat 800 miliar metrik ton kabon (lihat gambar) kemudian ditambahkan oleh ulah manusia dengan 9 miliar metrik ton karbon (huruf merah). Manusia juga memasukan dalam proses fotosintesis 3 miliar metrik ton karbon dan ke dalam samudera sebesar 2 miliar metrik ton karbon. Tindakan itu mengakibatkan gangguan pada siklus karbon. Siklus yang stabil dari waktu ke waktu antara darat, samudera dan atmosfir menjadi terganggu karena tempat-tempat penyimpanan itu kelebihan muatan. Ada dua siklus karbon yakni siklus karbon lambat dan cepat yang ditunjukkan Riebeek, H. (2011).

Siklus karbon lambat


Proses lambat antara lain pembentukan karbon pada batuan, tanah, laut, dan atmosfer. Karbon lambat membutuhkan waktu antara 100-200 juta tahun untuk berpindah dari darat ke laut kemudian atmosfir. 

Pertama-tama karbon yang ada di atmosfir sampai ke litosfer (batuan) diawali dengan hujan. Karbon di atmosfer bergabung dengan air untuk membentuk asam lemah (asam karbonat) yang jatuh ke permukaan dalam hujan. Asam melarutkan batuan (proses yang disebut pelapukan kimiawi) dan melepaskan ion kalsium, magnesium, kalium, atau natrium. Sungai membawa ion ke laut. Di laut terjadi penumpukan dan pembusukan yang membentuk lapisan batuan dimana 80 % karbon batuan dibentuk melalui proses ini. Sementara 20 % sisanya merupakan dekomposit dari makhluk hidup.

Sebagian di antara lapisan karbon yang menumpuk lebih cepat daripada pembusukan membentuk minyak, batu bara dan gas alam. Diperkirakan 10–100 juta metrik ton karbon berputar melalui siklus karbon lambat setiap tahun.
Siklus karbon lambat mengembalikan karbon ke atmosfir melalui letusan gunung berapi. Saat ini, gunung berapi mengeluarkan antara 130 dan 380 juta metrik ton karbon dioksida per tahun. Sebagai perbandingan, manusia mengeluarkan sekitar 30 miliar ton karbon dioksida per tahun atau 100-300 kali lebih banyak daripada gunung berapi. Tindakan tersebut merupakan akumulasi dari ulah membakar bahan bakar fosil.

Namun, siklus karbon lambat juga mengandung komponen yang sedikit lebih cepat, yakni laut. Di permukaan laut, tempat udara bertemu dengan air, gas karbon dioksida larut dan keluar dari lautan dalam pertukaran yang stabil dengan atmosfer. Begitu sampai di lautan, gas karbon dioksida bereaksi dengan molekul air untuk melepaskan hidrogen, membuat lautan lebih asam. Hidrogen bereaksi dengan karbonat dari pelapukan batuan untuk menghasilkan ion bikarbonat.

Siklus karbon cepat


Siklus berikutnya adalah siklus karbon cepat yakni sebagian besar pergerakan karbon melalui bentuk kehidupan di Bumi atau biosfer. Antara 1.000 hingga 100.000 juta metrik ton karbon berputar melalui siklus karbon cepat setiap tahun. Waktu yang dibutuhkan karbon untuk bergerak melalui siklus karbon cepat diukur dalam satu umur kehidupan. Misalnya, karbon yang membentuk tubuh manusia akan terdekomposisi ketika manusia mati.


Karbon memainkan peran penting dalam biologi karena kemampuannya untuk membentuk banyak ikatan (bisa mencapai empat ikatan per atom) dalam variasi molekul organik kompleks. Banyak molekul organik mengandung atom karbon yang telah membentuk ikatan kuat dengan atom karbon lain, bergabung menjadi rantai dan cincin panjang. Rantai dan cincin karbon seperti itu adalah dasar dari sel-sel hidup. Misalnya, DNA yang dikenal sebagai senyawa yang membentuk karakter kehidupan terbuat dari dua molekul yang saling terkait yang dibangun di sekitar rantai karbon.
Menurut, Langford NJ (2005) dan Burdett (2018) karbondioksida adalah gas yang penting secara fisiologis. Gas itu diproduksi oleh tubuh sebagai hasil metabolisme sel. Karbon di atmosfer menghangatkan planet dan membantu tanaman di darat tumbuh lebih banyak (Riebeek, H. 2011). Penggunaan karbon banyak diaplikasikan dalam industri makanan dalam karbonasi minuman, dalam alat pemadam kebakaran sebagai agen 'inerting' dan dalam industri kimia. Namun, kadar konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan keracunan yang ditandai dengan peningkatan laju pernapasan, gangguan ritme jantung, dan gangguan kesadaran. Konsentrasi lebih besar 10% dapat menyebabkan kejang, koma dan kematian.

Pemanasan Global


Pemanasan global dimulai ketika manusia mengganggu secara masif proses alamiah karbon. Tindakan manusia menyedot bahan bakar fosil dari perut bumi, menggunduli hutan, dan mengubah jutaan hektar bentang alam ibarat membuka kotak-kotak penyimpanan karbon dan melepaskannya ke kotak lain yang disebut atmosfir. Beban penyimpanan karbon yang dibuang ke atmosfir tidak tertinggal disana, tetapi diambil oleh samudera dan tumbuh-tumbuhan. Saat ini 55 % karbon ekstra yang dilepaskan manusia diambil oleh dua penyimpanan alamiah ini. Sementara 45 % lainnya masih tersimpan di atmosfir. Pada akhirnya, daratan dan lautan akan mengambil sebagian besar karbon dioksida ekstra, tetapi sebanyak 20 persen mungkin tetap berada di atmosfer selama ribuan tahun.
Perubahan siklus karbon berdampak pada samudera, atmosfir, dan daratatan hingga keseluruhan kehidupan di bumi. Kelebihan karbon di laut membuat air lebih asam yang membahayakan kehidupan laut, antara lain matinya organisme karang, ikan dan kehidupan di laut. Karbon mempunyai watak panas. Karena itu dalam jumlah berlebih, karbon dapat memicu kebakaran dan luka bakar. Watak itulah yang meningkatkan panas dalam atmosfir bumi saat ini, yang disebut sebagai pemanasan global.

Selama lebih dari 170 tahun terakhir, aktivitas manusia telah meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer sebesar 48% di atas tingkat pra-industri yang ditemukan pada tahun 1850. Jumlah ini lebih dari akumulasi yang telah terjadi secara alami selama periode 20.000 tahun (dari periode glasial terakhir hingga 1850. Peningkatan jumlah karbon diikuti dengan menghangatnya suhu bumi. Pada tahun 2016, ketika NOAA melakukan pengukuran temperatur global, mereka mengidentifikasi tahun itu sebagai tahun terpanas dimana suhu bumi mengalami peningkatan sebesar 1,78 °F atau sekitar 0,99 ºC, sejak tahun 1880. Kondisi serupa nyaris terulang pada tahun 2019 yang menjadi tahun kedua terpanas yang mencapai kenaikan sebesar 1,71 °F atau sekitar 0,95 ºC, dan pada tahun 2020 dilaporkan masih mengalami peningkatan (NOAA 2017; NOAA 2019; NOAA 2020).

Baca juga yang ini; 
Perubahan iklim, kehilangan penghasilan dialami oleh petani dan pedagang

Dampak Pemanasan Global

Pada 2021, suhu bumi rata-rata telah mengalami peningkatan 1,10C dan diperkirakan akan terus bertambah jika tidak ada langkah ekstrim yang dilakukan untuk memulihkannya. Salah satu dampak utama pemanasan global adalah perubahan iklim. Peningkatan suhu bumi mengakibatkan keadaan iklim yang dipengaruhi oleh berbagai siklus yang terhubung antara unsur biologi, geologi dan kimia terguncang. Dampak paling kasat mata dari guncangan iklim adalah perubahan musim yang makin tidak menentu. Dampak ini menimbulkan efek langsung pada manusia. Selain menghidupkan banyak jenis virus dan bakteri yang mengancam kesehatan seperti kasus Covid-19 saat ini, perubahan iklim juga merusak pertanian. Dalam hal ini, laporan tahun 2022 dari lembaga panel ahli antarnegara untuk perubahan iklim membuat sejumlah skenario, bilamana suhu bumi meningkat antara 1,50C-20C. Beberapa skenario tersebut terkait dengan wilayah-wilayah yang secara alamiah rentan termasuk derah lahan kering seperti NTT dan NTB di Indonesia:


Skenario B.5.1

Menurut skenario ini, populasi yang sangat berisiko dari peningkatan suhu bumi hingga 1,5 °C adalah mereka yang hidup di ekosistem yang rentan seperti kutub utara, daerah lahan kering, negara-negara berkembang yang memiliki pulau-pulau kecil, dan negara-negara terbelakang yang paling tidak berkembang. Kemiskinan diperkirakan akan meningkat wilayah-wilayah ini.


Skenario B.5.2

Setiap peningkatan pemanasan global diproyeksikan akan mempengaruhi kesehatan manusia dengan konsekuensi negatif. Emisi perkotaan sering memperbesar dampak gelombang panas di kota. Risiko dari beberapa penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti malaria dan demam berdarah diproyeksikan meningkat dengan pemanasan dari 1,5 °C ke 2 °C, termasuk potensi pergeseran dalam jangkauan geografis dari penyakit-penyakit tersebut.


Skenario B.5.5

Pertumbuhan ekonomi global di akhir abad ini secara agregat diproyeksikan meningkat pada peningkatan suhu 1,5 °C meskipun masih lebih rendah daripada di 2 °C. Risiko ini tidak termasuk biaya mitigasi, investasi adaptasi, dan manfaat adaptasi. Negara-negara di daerah tropis dan subtropis di belahan bumi selatan diproyeksikan mengalami dampak negatif terbesar pada pertumbuhan ekonomi jika pemanasan global meningkat dari 1,5°C ke 2°C.

Skenario B.5.6

Risiko pemanasan global dari 1,5 °C ke 2 °C meningkat di sektor energi, makanan, dan air yang berlangsung bersamaan secara spasial dan temporal sehingga menciptakan bahaya baru dan memperburuk kerentanan dan tingkat pengaruh dari dampak saat ini.



Dampak jangka panjang perubahan iklim diperkirakan mengganggu daya tahan berbagai sub-kehidupan di muka bumi. Studi Dorothea Frank dkk (2015) menemukan bahwa respons ekosistem dapat melebihi durasi dampak iklim akibat dari apa yang disebut sebagai efek tertinggal (lagged effects) yang terjadi pada siklus karbon. Perubahan yang terjadi pada satu periode tertentu akibat akumulasi karbon ekstra yang dilepaskan aktivitas manusia tetap tertinggal pada siklus tersebut. Efek inilah yang menimbulkan dampak yang berdurasi lebih lama dan lebih menghancurkan bagi suatu eksosistem. Salah satu ekosistem yang diperkirakan menderita dampak ini adalah hutan. Besarnya sumber dan aliran karbon yang dimiliki hutan akan mengakibatkan potensi dampak tidak langsung dan tertinggal yang besar pada ekosistem itu sehingga membutuhkan waktu pemulihan yang lama untuk mendapatkan kembali stok karbon sebelumnya.


Langkah Kita


Perubahan iklim pada dasarnya adalah suatu petunjuk bagi manusia bahwa apa yang disebut peradaban modern telah menimbulkan ongkos bagi masa depan planet ini. Konsumsi yang berlebihan dan melayani kerakusan adalah pembangkangan langsung pada hukum ciptaan yang telah menetapkan relasi dan aturan main yang harmonis antara komponen pembentuk jagat raya. Kini simpul-simpul yang harmonis itu berantakan.


Barangkali tidak banyak yang bisa dilakukan oleh tiap-tiap pribadi saat ini karena beberapa tindakan untuk mengatasi perubahan iklim membutuhkan usaha ekstra yang mahal. Karena itu, mulailah dari apa yang bisa dilakukan dan mudah untuk dilakukan. Salah satunya adalah makan sesuai proporsi dan bersumber dari pangan lokal. Makanan adalah salah satu sentral dalam persoalan iklim. Semua sumber akumulasi konsumsi dalam peradaban dewasa ini besumber dari pola makan. Banyaknya makanan impor seperti makanan berbasis gandum, junk food, dan sejenisnya tidak hanya mengagregasi emisi pada skala global tetapi juga memicu pembukaan hutan secara besar-besaran di Amazon dan juga hutan tropis kita di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Pembukaan lahan skala besar itu tidak lain selain diperuntukkan untuk melayani hasrat perut. Karena itu, mengendalikan konsumsi adalah jalan pribadi yang bisa dilakukan dan ada dalam jangkauan tiap-tiap orang, sehingga mudah untuk dilakukan.



Adapun pilihan lain seperti menanam pohon, mengatur sampah, mengubah teknologi adalah tindakan yang membutuhkan usaha ekstra. Semuanya itu dilakukan jika kita memiliki modal. Tidak setiap orang bisa melakukan tindakan-tindakan ekstra semacam itu. Namun, setiap manusia pasti bisa mengontrol apa yang akan masuk ke perutnya. Mulailah dari situ.




Sumber:

Burdett, M. (2018). Environmental impacts of climate change: Carbon, (https://www.geographycasestudy.com/environmental-impacts-of-climate-change-carbon/)

Frank, D., Reichstein, M., Bahn, M., Thonicke, K., Frank, D., Mahecha, M. D., ... & Zscheischler, J. (2015). Effects of climate extremes on the terrestrial carbon cycle: concepts, processes and potential future impacts. Global change biology, 21(8), 2861-2880.

Holli Riebeek. (2011). “The Carbon Cycle”. https://earthobservatory.nasa.gov/features/CarbonCycle/page1.php
Langford NJ (2005), Carbon dioxide poisoning. Toxicol Rev. 2005;24(4):229-35. doi: 10.2165/00139709-200524040-00003. PMID: 16499405.

NOAA. Climate Data Online (https://www.ncei.noaa.gov/cdo-web/)
UN News. (9 May 2022). Climate: World getting ‘measurably closer’ to 1.5-degree threshold. (https://news.un.org/en/story/2022/05
/1117842)

Posting Komentar

0 Komentar