Header Ads Widget

Untuk Kita Ketahui, Ternyata Perubahan Iklim Dimulai Dari Timur Indonesia Bagian Selatan




Hamdan Nurdin : Perubahan Iklim dimulai dari Timur Indonesia Bagian Selatan


PERUBAHAN IKLIM DI MULAI DARI TIMUR INDONESIA BAGIAN SELATAN
OLEH:
HAMDAN NURDIN
CLIMATOLOGIST
STASIUN KLIMATOLOGI KELAS II NUSA TENGGARA TIMUR


Menurut IPCC (International Panel Climate Change) (2001), menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata-rata kondisi iklim di suatu tempat dengan variabilitas yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (minimal 10 tahunan atau lebih), sedangkan yang dimaksud dengan variabilitas disini menjelaskan tentang kondisi pada periode jangka pendek dan jangka panjang di wilayah tertentu. Sederhananya, jika ada anomali iklim yang terjadi sesaat dan kembali pulih seperti sediakala itu disebut sebagai variabilitas iklim, kemudian jika anomali iklim tersebut terus berlangsung disetiap tahun atau dengan kata lain yang dulunya jarang terjadi kemudian di tahun-tahun mendatang lebih sering terjadi kemudian disebut sebagai perubahan iklim.



Wilayah Nusa Tenggara Timur adalah satu-satunya provinsi kepulauan terbesar di Indonesia yang terletak di wilayah Selatan Indonesia yang juga berbatasan langsung dengan beberapa negara seperti Republik Demokrat Timor Leste disebelah Timur dan Australia di bagian Selatan. Sebagai provinsi kepulauan terbesar di Indonesia wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki keanekaragaman cuaca dan iklim antar masing-masing pulau. Provinsi ini kurang lebih memiliki pulau sebanyak 1.200 pulau, 3 pulau utama diantaranya pulau Timor bagian Barat, pulau Flores dan pulau Sumba, serta beberapa pulau kecil diantaranya pulau Alor, pulau Lembata, pulau Rote, pulau Sabu, pulau Adonara, pulau Solor, pulau Komodo, pulau Semau dan pulau Palue.


Menurut (Adrian dan Susanto, 2003) wilayah Indonesia dibagi menjadi 3 region diantaranya region A yang dipengaruhi oleh Australian Monsoon atau region monsun tenggara, region B dipengaruhi oleh North East Passat Monsoon atau region semi monsun dan region C dipengaruhi oleh Indonesian Throughflow atau region anti-monsun. Region A memiliki pola curah hujan berbentuk kurva “U”, kemudian Region B memiliki pola hujan berbentuk kurva “M” sedangkan Region C memiliki pola hujan berbentuk kurva “∩”.


Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang didasarkan pada distribusi curah hujan rata-rata bulanan yang kemudian untuk pola hujan di Indonesia dibagi menjadi 3 pola, diantaranya (1) Pola Hujan Monsun, yang kemudian didefinisikan sebagai wilayah atau zonanya terlihat perbedaan yang sangat jelas antara periode musim hujan dengan periode musim kemarau (satu puncak musim hujan periode Desember-Januari-Februari dan satu puncak musim kemarau periode Juni-Juli-Agustus yang bersifat unimodial). (2) Pola Hujan Ekuatorial, dimana pola ini distribusi curah hujan bulanan bersifat bimodial dengan dua puncak musim hujan maksimum dan hujan terjadi hampir sepanjang tahun. (3) Pola hujan Lokal, wilayah yang memiliki distribusi curah hujan bulanan yang terbalik dari pola monsun yang dicirikan oleh bentuk pola Unimodial atau dengan katalain memiliki satu puncak musim hujan. sederhananya, ketika wilayah dengan pola hujan Monsun berada pada kondisi puncak musim kemarau maka wilayah dengan pola hujan lokal sedang mengalami puncak musim hujan.



Dari ketiga pola yang telah ditentukan oleh BMKG sebagai lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan terhadap data dan informasi tentang cuaca dan iklim di negara ini, maka tipe iklim di wilayah Nusa Tenggara Timur berada pada Region A atau pola hujan monsun dengan pola hujan yang memiliki satu puncak musim hujan (periode DJF) dan satu puncak musim kemarau (periode JJA) serta ditandai dengan semua wilayah administrasi masuk dalam pembagian kategori wilayah zona musim (ZOM).


Berdasarkan data yang telah dilansir oleh Stasiun Klimatologi Kelas II Nusa Tenggara Timur yang bertempat di Kota Kupang dan juga sebagai Koordinator data cuaca dan iklim di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kondisi iklim selama tahun 2020 dengan perbandingan 2 periode normal, yaitu normal iklim tahun 1981-2010 dan normal baru periode tahun antara 1991-2020, beberapa unsur yang teramati mengalami perubahan yang cukup signifikan. Unsur-unsur iklim yang mengalami perubahan signifikan terhadap 2 normal iklim diantaranya suhu udara, pola curah hujan hingga periode musim yang terus mengalami perubahan atau pergeseran.

Ada 10 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG yang tersebar di seluruh wilayah NTT yang dikhususkan mengamati kondisi cuaca dari jam ke jam.

Tren Suhu Udara


Berdasarkan hasil olahan data suhu udara seperti suhu udara rata-rata, suhu udara maksimum dan suhu udara minimum. Tren suhu udara minimum disebagian besar wilayah NTT terus mengalami peningkatan jika dibandingkan suhu rata-rata dan suhu maksimum, yaitu sebesar +0.0330C/tahun. Sedangkan tren suhu rata-rata juga menujukkan kondisi yang sama seperti suhu minimum dengan nilai peningkatan sebesar 0.016 0C/tahun dan tren suhu maksimum pada umumnya mengalami peningkatan sebesar +0.0190C/tahun. Adapun tren suhu rata-rata tertinggi terjadi di wilayah Manggarai Barat sebesar +0.03270C/tahun sedangkan tren penurunan suhu rata-rata terjadi di Kab. Sikka sebesar (-0.0004) 0C/tahun. Tren suhu maksimum di sebagian besar wilayah NTT mengalami peningkatan yang cukup signifikan dimana tren suhu maksimum tertinggi terjadi Kab. Rote Ndao dengan tren sebesar +0.04410C/tahun, sedangkan wilayah Kab. Alor merupakan wilayah yang mengalami tren peningkatan suhu maksimum terkecil sebesar +0.00110C/tahun. Kemudian suhu minimum disebagian besar wilayah NTT juga menunjukkan tren peningkatan dimana suhu minimum tertinggi terjadi di Kab. Manggarai Barat sebesar +0.05660C/tahun dan tren peningkatan suhu minimum terkecil dengan nilai +0.01180C/tahun terjadi di Kab. Rote Ndao.


Tren Curah Hujan

Curah hujan dan hari hujan disebagian besar wilayah NTT umumnya mengalami tren peningkatan yang cukup signifikan. Dimana hari hujan dengan curah hujan lebih dari 1 mm mengalami peningkatan sebesar +0.35678/tahun, kemudian tren peningkatan hari hujan dengan curah hujan diatas 20 mm sebesar +0.07036/tahun, kemudian tren hari hujan dengan curah hujan diatas 50 mm menunjukkan tren naik dengan nilai sebesar +0.03039/tahun, sedangkan untuk jumlah hari dengan curah hujan diatas 100 mm mengalami penurunan sebesar +0.00507/tahun. Hal ini kemudian dinyatakan bahwa frekuensi terbesar kejadian hari hujan di wilayah NTT pada umumnya dengan curah hujan kurang dari 100 mm. Tren peningkatan terbesar hari hujan dengan curah hujan diatas 50 mm dengan nilai tren +0.2745/tahun, kemudian hari hujan dengan curah hujan diatas 20 mm dengan nilai tren sebesar +0.3377/tahun terjadi di Kab. Manggarai. Sedangkan tren peningkatan terbesar hari hujan dengan curah hujan diatas 100 mm terjadi di Kab. Flores Timur dengan nilai tren sebesar +0.0167/tahun.


Perubahan suhu muka laut dalam 40 tahun terakhir di wilayah Indonesia Timur bagian Selatan juga menunjukkan adanya kenaikan suhu muka laut mencapai 2,0 0C, yang berarti tanpa kita sadari perubahan iklim sedang terjadi di wilayah kita saat ini, dan berpeluang akan terus berlangsung yang kemudian dapat berdampak pada adanya peningkatan potensi-potensi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, tanah longsor hingga siklon tropis.

Yang dapat kita lakukan dalam adaptasi dini dalam menghadapi perubahan iklim ini adalah bagaimana meningkatkan kapasitas masyarakat kita dalam memahami informasi-informasi terkait cuaca dan iklim sehingga dapat melakukan mitigasi mandiri dalam menghadapi potensi-potensi bencana hidrometeorologi. Untuk informasi lebih lanjut tentang cuaca dan iklim bisa dapat mengakses website resmi BMKG melalui http://www.bmkg.go.id atau melalui Google play store dengan kata kunci @info bmkg.

Posting Komentar

0 Komentar