Header Ads Widget

Satu Permenungan Iman Katolik; Energi Isi Jiwa: Antara Daya Pikat dan Daya Tolak

Energi Isi Jiwa: Antara Daya Pikat dan Daya Tolak
(satu permenungan)


“Putri kebaikan tetaplah baik kendati ia dipaksa berpakaian buruk; putri keburukan tetaplah buruk walau ia berjuang merias diri dengan berpakaian indah”

(disadur dari Kahlil Gibran, seniman-penyair-penulis Libanon, 1883 – 1931)

Pater Kons Beo SVD



Manusia itu Ber-energi


Tidak kah Anda merasa ada sesuatu yang berkobar di dalam dada? Yang bergelora di sudut hati? Dalam setiap perjumpaan, pasti ada sesuatu yang menggetarkan. Itu pun yang terjadi dalam kebersamaan. Atau teralami dalam apapun cara berada setiap manusia.


Dari seseorang yang kita jumpai, selalu ada energi, yang darinya, berpengaruh pada diri kita. Lalu, seperti apakah energi yang terpancar itu?


Dikisahkan, ada seseorang yang baru pertama kali membaca kisah Injil. Pada akhirnya, “Ia terkesan oleh energi yang memancar dari pribadi Yesus.” Kisah-kisah hidup Yesus, sejatinya, tak boleh hanya tertangkap pada kata dan isi bicara yang terucap. Pun hanya sebatas tindakan dan perbuatanNya untuk menyembuhkan atau menyelamatkan. Bukan cuma hanya itu.


Pancaran Energi Cinta Yesus, Tuhan.


Kisah-kisah Yesus adalah ‘energi CINTA yang mengalir.’ Sebab itu, tatapan Yesus adalah “suatu cara padang dalam arus tergerak oleh belas kasih. Pun dapat ditangkap sebagai cara bersikap yang sekian peka pada kebebasan sesama.


Energi yang keluar dari Yesus, tak akan pernah membelenggu, walau untuk satu intensi positif sekalipun. Sebab, misalnya, kepada yang malang Ia masih bertanya, “Apa yang kau kehendaki Aku berbuat bagimu?” (Luk 18:41)


Energi positif Yesus terforma dalam kata, dalam sikap dan dalam perbuatanNya. Energi itu sekian kuat untuk menjadi satu bongkahan daya tarik masal. Apakah ini karena kiprahNya dalam melakukan banyak mujizat atau tanda heran? Karena kata-kataNya yang berdaya ‘magis’ kah?’ Tetapi, tidak kah terdapat hal lain yang melampaui kisah-kisah ‘datar dan biasa,’ yang patut direnungkan? Orang banyak itu “takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk 1:22). Lalu isi daan cara mengajar Yesus seperti apa kah?


Kuasa yang terforma dalam pengajaran Yesus keluar dari energi yang menggugah, menyentuh, menantang, bahkan membongkar! Tetapi, semuanya tetap berenergi dalam daya pikat. Sebab, Yesus mengajarkan semuanya dalam bingkai serentak dalam aura KASIH yang sungguh menyapa. Sebaliknya, dari para ahli Taurat?


Yang keluar dari pengajaran ahli-ahli Taurat adalah informasi tentang hukum, tentang kewajiban dan sekian banyak hal yang patut dihindari. Tentang segala larangan ini dan itu. Kaum elitis Israel mengajar atas ‘apa yang mereka dapati melalui kuasa dan jabatan.’ Segala yang berkaitan dengan Yesus sungguh berdaya pikat. Membangkitkan daya kagum. Menggetar hati. Dalam artian ‘sederhana,’ tidak kah Petrus ingin bertahan (terus) di ketinggian Tabor? Bukan kah ada keyakinan menggumpal dari perempuan sederhana, “Asal kujamah saja jumbai jubahNya, aku akan sembuh” (Mrk 5:28).

Energi Cinta Selalu Mengalahkan Yang Suram


Di taman Getsemani, energi dalam Kata yang keluar dari Yesus berdaya dahsyat dalam karakter Diri yang kokoh: “Akulah DIA.” Di situlah kiranya  
CINTA terlalu tangguh untuk menjerembabkan manusia dan senjata kekerasan! Energi Cinta pada Yesus terlalu tangguh untuk tak membiarkan DiriNya dibela oleh ‘pedang kekerasan Petrus.’
Dalam spiritualitas kristen, Tradisi Mistik menyerap energi Perjanjian Baru. Yesus dikontemplasikan sebagai Pribadi Ilahi yang ‘membawa api,’ yang membawa ‘terang dan semangat serentak menghanguskan segala yang usang.’


Seperti itu pulalah “Ekaristi, roti kehidupan, makanan jiwa, dahulu adalah sumber energi kristiani yang besar, tetapi hingga sekarang pun sampai tetap seperti itu adanya” (Johnston W, 1995). Sebab itu, dalam Ekaristi, Gereja selalu bersekutu dalam energi CINTA. Dan dari situ, Gereja, Umat Allah, kita semua, diutus untuk hidup dan membawa pesan-pesan Injil yang berenergi CINTA.


Bagaimana pun, mari kita masuk dalam narasi energi CINTA dalam keseharian. Berkaca pada apa yang disebut sebagai indikasi adanya kecerdasan spiritual. “Kesadaran dan penerimaan akan diri sendiri yang sehat” kiranya menjadi salah satu indikasinya.

Mari Kita Masuk dalam Energi Diri dalam Tatanan Praktis.


Setiap individu sanggup susuri diri sendiri untuk tiba pada kesadaran akan ‘titik positif dan titik negatif’ dari aura atau energi diri. Tak ada manusia yang sempurna! Itulah tesis yang tak terbantakan. Setiap individu bisa mendekati kebaikan – kebenaran –keindahan, tetapi juga bisa menjauhinya.


Dalam diri setiap kita terdapat apa yang kita sebut saja sebagai ‘manekaisme kepribadian.’ Artinya, bahwa sesungguhnya dalam diri setiap individu selalu ada pertarungan antara kekuatan berenergi positif dan yang berenergi negatif.



Manusia itu pada kenyataannya tidaklah semua dalam dirinya itu positif mutlak atau pun sebaliknya negatif absolut. Tetapi bahwa selalu saja ada energi “atau positif atau negatif” yang mendominasi. Formasi dan edukasi pasti punya intensi agar aspek-aspek diri sungguh didominasi oleh aura-energi positif.


Jika masuk dalam keseharian yang paling nyata, dalam perelasian atau perjumpaan dengan sesama atau dalam kebersamaan, maka di situ energi positif dan negatif itu tampakan dominasinya. Kita pasti merasa istimewa atau sadar akan keunikan kita, ketika kita tahu bahwa ketiadaan kita sungguh jadi ‘tanda kerinduan bersama.’

Energi Positif: Selalu Membangun


Energi positif itu adalah potensi sehat untuk satu atmosfer yang sehat pula. Berbahagialah siapapun yang sadar akan energi positif dalam dirinya. Ia santun dalam sikap dan terutama dalam kata-katanya. Terdapat dalam dirinya kesanggupan untuk melihat ‘yang baik dan jalan keluar dalam situasi yang paling kelam sekalipun.’



Energi positif itu berdaya pikat dalam mengumpulkan, mendamaikan atau merukunkan, meneguhkan harapan, membangun, membarakan semangat, serta membawa sukacita penuh kepolosan.’ Tetapi, energi positif itu pun nampak bagai ‘api yang bernyala-nyala yang membakar yang lama, demi menghasilkan yang baru.’ Artinya? Ada kekuatan (energi) penuh tulus untuk ‘katakan Ya bila Ya, dan katakan Tidak bila Tidak’ (cf Mat 5:37).

Energi Negatif: Selalu Bikin Gerah – Tak Nyaman


Tetapi, sebaliknya, siapapun juga sepantasnya sadar akan dominasi energi negatif dalam dirinya. Segala gerak laku, gelagat dan terutama kata-katanya sungguh memiliki daya tolak beraroma negatif. Satu alam atau suasana kebersamaan, dalam level atau konteks apa saja, amat ditentukan oleh lalu lintas energi yang saling berkontak atau bertarung.



Energi negatif itu terungkap dalam sikap dan kata-kata yang angkuh (aroganisme sikap dan kata): menghina, menyudutkan, mempermainkan, mempermalukan, menghasut, dan merendahkan orang lain.


Energi negatif yang diasapi dengan rasa penuh kebencian bahkan bisa berujung pada tindak kekerasan. Dominasi energi negatif pasti bermuara pada pertanyaan harian: “Hari ini siapa atau orang mana lagi yang harus saya kuliti nama baik dan bunuh karakternya?” Ini yang gawat!


Alam insecure dalam lingkungan dan kebersamaan itu lahir dari energi negatif ‘yang mengusik rasa hati.’ Renungkan, sekali lagi, akan cara berbahasa yang tak santun, akan kata-kata yang tak tertib dan kasar, yang sungguh melukai orang lain. Dan hal ini bakal timbulkan reaksi berujung kekerasan yang sering tak terhindarkan.


Akhirnya…



Getaran gerak laku, sikap, gesture, kata-kata, selalu berujung ada resonansi perasaan, sikap dan reaksi dari sesama.


Sebab itulah setiap individu sepantasnya dituntun untuk belajar membatasi ruang gerak energi negatif. Ini tentu butuhkan kesabaran dan perjuangan untuk hilangkan kecenderungan kuat untuk melukai (rasa hati) sesama.


Ziarah batin dan ekspresi energi positif tentu menuntut pula perjuangan. Energi positif, yang berdaya pikat mesti terungkap dalam sikap-sikap yang mempersekutukan, dan dalam kerja sama. Kapan dan di mana saja kita berada, energi positif berdaya pikat itu mesti menjadi kekuatan yang tak pernah pudar.


St Thomas Aquino berkeyaninan bahwa ‘orang yang sungguh-sungguh baik itu akan tetap berperangai baik, betapa pun ia diberondong oleh alam lingkungan dan sesama berhati kelam.’ Hal senada itulah yang dikontemplasi oleh Kahlil Gibran dalam kisah Putri Kebaikan versus Keburukan.


“Berbahagialah hati Anda yang sungguh dipenuhi energi positif dan berdaya pikat. Anda memiliki potensi dan banyak peluang untuk membangun keutuhan dan kebersamaan.” Citra dan energi semesta adalah CINTA. Kita percaya akan Cinta Kasih Allah yang mempersekutukan. Dan “Allah adalah Kasih” (1Yoh 4:7.8)



Verbo Dei Amorem Spiranti

Posting Komentar

0 Komentar