Header Ads Widget

Pojok KITAB SUCI; Dendam dan Benci Menjarakkan – Kasih dan Pengampunan itu Mempertemukan

Bacalah Injil Matius 5:38-48
(Sepak pojok Minggu, 19 Februari 2022)

“Kalau Anda sanggup mencintai sungguh, Anda dapat menjadi orang paling kuat di dunia”

(Emmet Fox, penulis, Irlandia, 1886 – 1951)


P. Kons Beo, SVD



Mari susuri kualitas relasi kita dengan sesama. Katakanlah dengan tetangga, teman sekerja, sahabat kenalan semuanya, bahkan relasi kita dalam kekerabatan kita sendiri (keluarga). Syukurlah, bila relasi itu ada dalam kualitas wajar dan mencerahkan.



Dalam kehidupan bersama yang baik, siapa pun pasti dapat berkembang dalam hidup dengan baik pula. Hal itu terjadi ketika hidup bersama dalam rana apa saja menjadi ajang untuk saling mendukung dan meneguhkan. Dari suasana seperti itulah dapat terlahir sukacita dan kedamaian.



Bagaimana pun tak ditampik kenyataan, bahwa acap kali relasi antara manusia masuk dalam tantangan dan ujian. Entah dalam hal yang kecil dan sederhana, hingga pada hal-hal yang terasa mendasar. Ini perkara tentang rasa hati dan ketahanan diri dalam bereaksi. Tentu hal ini bersifat pribadi pula.



Mudah rasanya memberi nasihat kepada sesama tentang kesabaran, pengekangan diri atau pengampunan. Namun, bayangkan bila alam ‘kesabaran, kekang diri atau jangan terpancing emosi, atau panggilan untukk mengampuni itu mesti menjadi kisah batin dan rohani pribadi yang mesti diungkapkan nyata.



Sesama sungguh melukaimu, merugikan dirimu, menghambat karier dan jalan hidupmu, misalnya: Apakah Anda harus diam? Sabar? Bertahan dalam Kasih? Atau kah Anda segera memilih ‘balas dendam?’ Sementara Anda tahu bahwa kejahatan sesama terhadap dirimu itu jelas-jelas sungguh Anda alami dampaknya.



Terasa ‘biasa atau normal’ bila Yesus mengajar para muridNya untuk mengasihi sesama. Dan tentu para murid bisa menghayatinya. Namun, untuk harus mengasihi musuh? Untuk “Jangan melawan orang yang berbuat jahat kepadamu?” (Mat 5:39). Tidak kah hal ini sungguh menantang?



Dan lagi, camkanlah! Untuk “mengasihi musuh, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat 5:43)”? Ini jelas bukanlah perkara batin yang mudah!



Mari kita renungkan jalan hidup harian kita pada umumnya. Serentak bagaimana sikap hati kita pada tatanan praktis umumnya. Kita sebut saja dua hal sederhana.



Pertama, kita miliki ‘kaum kecintaan.’ Itulah orang-orang yang punya tempat di hati kita. Sebab, mereka adalah orang-orang yang ‘pas dan kena di hati. Kelompok urat cocok. Yang tidak ‘bikin repot pikiran dan tidak bikin kita makan hati.’ Inilah kelompok orang yang menjadikan hidup kita ‘secerah mentari pagi.’


Sebaliknya? Tidak kah terdapat seseorang atau segelintir sesama yang ‘bikin hati kita sebal?’ Dan karenanya, kita miliki daftar orang-orang yang nyata-nyata tak kita sukai. Yang tak boleh singgah apalagi melekat di hati kita.



Dalam bahasa percakapan terdengar, “Orang macam dia? Persetan dia! Tidak urus!” Dan bisa saja dengan segala sumpah serapah yang ditembakkan. Kita enyahkan siapa saja yang sudah mengganggu atau merampas kenyamanan hati kita.


Lalu, apakah yang terjadi selanjutnya? Kita mulai bersemangat untuk mulai membangun menara sikap ‘pilih-pilih kasih.’ Kita mulai buat perhitungan ‘untung rugi’ dalam relasi kita dengan sesama. Yang kita sukai, kita sekian ‘royal kasih dan boros canda-tawaria.’ Namun, yang tak kita kehendaki ‘tak pernah sekali pun tersenyum bibirmu.’



Amarah dan benci sungguh menggumpal dan membeku. Dan bila bersua tidak kah kita cenderung untuk ‘buang muka dan tidak node memang!’ Untuk orang-orang seperti ini, kita pasti terbelit dengan syair lagu, “Jangan datang atau titip salam. Hanya menambah duka di hatiku.” Wah, ini yang bahaya sudah….


Yesus, Guru Agung, tak hendaki para muridNya, -kita termasuk di dalamnya-, untuk hayati yang sekedar bergerak di level balas dendam, atau pun berbuat baik hanya karena sesama itu berbuat baik. Tuhan menuntut kita untuk keluar dari yang biasa, yang standar, menuju yang istimewa dan sungguh luar biasa. Yang kita sebut saja sebagai ‘satu kejutan injili.’ Iya, kejutan Kabar Gembira.



Ketika dunia yakin bahwa ‘pengampunan, belaskasih, kemurahan hati, berbaikan kembali, atau kepasrahan di dalam Tuhan sudah TIDAK DIHARAPKAN DAN TAK MUNGKIN, para murid atau semua orang yang mendengarkan Yesus dan orang yang berkehendak baik, justru sebaliknya tetap sanggup membuktikan bahwa ‘tak balas dendam, berbuat baik dan mendoakan musuh’ sungguh bisa menjadi satu KEPASTIAN!


Sungguh patut direnungkan dan dimaknai kata-kata Tuhan:


Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukan kah pemungut cukai berbuat demikian? Apabila hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (Mat 5: 46-47).



Kedua, Kita bisa saja untuk gampang menghakimi dan menghukum sesama atau orang lain yang tak pantas di hati kita. Kita masukan sesama dalam kategori bejat, amoral, tak senonoh, kaum pendosa, kafir, atau kaum yang diungkapkan Yesus sebagai orang jahat dan tidak benar.


Tetapi, kita tak sanggup sedikit pun membendung Kasih Allah yang menyapa semua anak-anakNya. Itulah Allah yang ditandaskan Yesus sebagai BAPA-mu di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik; yang menurunkan hujan bagi orang yang benar dan bagi orang yang tidak benar” (Mat 5:45).



Apa yang diajarkan Yesus sungguh menantang isi iman kita: Allah seperti apakah yang kita imani? Teramat sering kita sebenarnya sudah ‘membentuk allah pikiran dan hasrat hati kita sendiri, lalu kita mengkharibi dan menyembahnya’ Dan bukannya Allah, Bapa Maha Pengasih dan Penyayang, sebagaimana Yesus ajarkan kepada kita.


Mari kita renungkan amanat Yesus, Sang Guru Agung dan Tuhan kita:


“Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang si surga adalah sempurna” (Mat 5: 48).



Di dalam hidup ini, kita tetap belajar untuk menjadi sempurna. Menuju KESEMPURNAAN ALLAH yang sungguh kita imani.



Mengapa tidak?



Verbo Dei Amorem Spiranti
Selamat Hari Minggu
Tuhan memberkati. Amin.

Rikhardus R Urut, Sekretaris Badan Pengurus menyerahkan uang duka kepada Bapak Tadeus, wujud solidaritas, Bela Rasa, Aku Susah Engkau Bantu, Engkau Susah Aku Bantu dari 7.511 orang, Anggota KSP CU Florette atas meninggalnya Mama Elisabet, isteri tercinta dari Bapak Tadeus. Untuk konteks Manggarai saat ini, Peristiwa Kematian merupakan salah satu tujuan keuangan keluarga sebenarnya (melek/literasi keuangan) sebab biaya untuk urusan adatnya relatif besar. Beruntung Bapak Tadeus telah menjadi warga (anggota) dari "Rumah Gendang" KSP CU Florette sehingga oleh rasa empati dari semua anggota dalam bentuk pemberian uang duka telah meringankan kedukaannya. Marilah bergabung ke Rumah Bersama KSP CU Florette, sebab Lembaga Koperasi ini memikirkan anggota disaat mereka masih hidup (menyediakan pinjaman kesejahteraan/bisnis), sakit, dan juga ketika mereka meninggal. 
Adalah Koperasi Simpan Pinjam Inklusi di Manggarai, 25 orang Penyandang Disabilitas telah menjadi Anggota. KSP CU Florette: Menyediakan Pinjaman Bunga Rendah, melakukan Upaya Pemberdayaan Sosial Ekonomi (bisnis) dan mengajarkan Literasi/Melek Keuangan.












Posting Komentar

0 Komentar