Header Ads Widget

Perubahan Iklim dan Pinjaman Uang Harian



Yayasan Ayo Indonesia, Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, dan Kelompok Tani, Senin (25/4/2022) di Golo Ntoung, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur melakukan identifikasi secara partisipatif tentang dampak perubahan iklim


umpungjayasiar.com,RUTENG. Yayasan Ayo Indonesia, Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, dan Kelompok Tani, Senin (25/4/2022) di Golo Ntoung, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur melakukan identifikasi secara partisipatif tentang dampak perubahan iklim terhadap pertanian. Peserta yang mengambil bagian pada kegiatan tersebut berjumlah 25 orang, 10 orang diantaranya perempuan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Rikhardus Roden Urut dan Florianus Hasi.


Florianus Hasi, Officer District dari Program VICRA (menyuarakan aksi ketahanan iklim secara inklusi) kepada para peserta mengatakan berdasarkan hasil kajian dari Kementrian PPN/Bappenas potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di sektor pertanian tahun 2024 secara akumulatif mencapai 862 Miliar Rupiah. Potensi penurunan produksi padi di NTT termasuk ke dalam katergori tinggi, yaitu 10,1 % - 17, 5 %.

Jangan lupa baca ini;Koperasi Simpan Pinjam CU Florette dorong anggota untuk mengembangkan bisnis

Kabupaten Manggarai Timur adalah salah satu kabupaten di NTT yang terkena dampak dari perubahan iklim (climate change) dan menjadi lokasi super prioritas dalam aksi pembangunan berketahanan iklim. Sehingga seluruh pemangku kepentingan perlu bekerjasama untuk menyadarkan masyarakat tentang dampak dari perubahan iklim serta mencari solusi aksi adaptasi agar petani tidak kehilangan sumber penghidupan.


Yayasan Ayo Indonesia mitra lembaga Pattiro di NTT melalui program VICRA, di Kabupaten Manggarai Timur, kata Flori, mulai bulan Maret hingga Mei 2022 melakukan identifikasi dampak dari perubahan iklim di sektor pertanian pada 2 lokasi di dataran rendah, 2 di dataran tinggi, mengumpulkan data sekunder terkait produksi padi, dan kejadian kebencanaan alam selama 20 tahun terakhir.


Identifikasi jenis kebencanaan di sektor Pertanian

Menurut Florianus Hasi, Yayasan Ayo Indonesia sebagai salah satu Mitra dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bersama Pemerintah Kabupaten dalam hal ini Dinas Pertanian, Pemerintah Desa, Kelompok Tani, Kelompok Wanita Tani, dan Kelompok Masyarakat Rentan (disabilitas) melakukan beberapa kegiatan terkait isu perubahan iklim, antara lain berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah tentang penetapan Kabupaten Mangarai Timur sebagai lokasi super prioritas aksi ketahanan iklim, sosialisasi isu perubahan iklim kepada pemangku kepentingan di 3 Desa/Kelurahan, dan mengidentifikasi dampak perubahan iklim dengan pendekatan partisipatif.

Hasil dari identifikasi ini, kata Flori semua pihak yang terlibat akan mendorong Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Timur supaya penanganan dampak dari perubahan iklim menjadi salah satu program kegiatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Selain itu, pihak-pihak juga berperan untuk menyebarluaskan informasi dan pengetahuan tentang perubahan iklim kepada Masyarakat luas.

Identifikasi dampak dari Perubagan Iklim


Baca juga yang ini; 
Renungan Harian KATOLIK; JIKA Kerajaan Surga teribarat bagai 'perjamuan nikah' maka?

Benyamin Dansis, Kepala Bidang Pengendalian dan penanggulangan bencana pertanian dan Perizinan Pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, berdasarkan data produksi padi pada periode tahun 2019-2021, menyatakan produksi padi menunjukkan kecenderungan menurun, sebesar 18,24 % (23‘981 ton), dari 131‘492,40 ton turun ke angka 107‘510,45 ton. Hal ini disebabkan oleh rusaknya jaringan irigasi akibat banjir, musim kemarau yang semakin lama kurang lebih 8 bulan di sebagian besar wilayah Kabupaten Manggarai Timur, serangan hama yang cukup tinggi dan di pantai utara sawah terendam air pada saat curah hujan tinggi, kondisi ini memungkinkan berkembangnya hama keong mas. Hama keong mas merusak tanaman padi pada fase vegetatif dan akhirnya petani mengalami gagal panen. Akibat dari kekeringan, lanjut Beny lahan sawah produktif, sebanyak 2.095,58 hektar dari Total 23.857,1 hektar lahan sawah produktif tidak dapat berproduksi atau gagal panen.



Para Peserta merupakan petani penggarap dimana mereka menyewa lahan sawah milik petani lain setiap musim tanam, dengan nilai sewa 3 - 6 karung beras, takaran 50 kg per karung untuk lahan sawah seluas ¼ hektar. Selain mengerjakan sawah mereka juga menanam sayur-sayuran setiap bulan sebagai sumber pendapatan utama keluarga. Mereka semua mengakui bahwa pada kondisi 5 tahun terakhir, hasil panen sawah menurun meski pupuk yang diaplikasikan sesuai dengan saran dari Penyuluh Pertanian.


"Kami menggunakan pupuk kimia padat dan pupuk kimia cair (pupuk daun) namun hasil sawah tidak sesuai yang diharapkan,dimana lebih rendah daripada hasil sawah kira-kira 5 tahun lalu,“cerita Kanisius Pas, Ketua Kelompok Tani. Menurut mereka sejak musim hujan tidak teratur lagi turunnya dan suhu udara sangat panas pada saat musim hujan berlangsung, biasanya ketika itu padi memasuki fase pembungaan, kondisi cuaca yang demikian menyebabkan pertumbuhan padi tidak normal, diperparah lagi oleh tingginya serangan hama putih (ulat) pada saat bersamaan. Persoalan ini dialami oleh semua petani di Golo Ntoung, Kelurahan Rana Loba.

Baca juga yang ini; Satu Permenungan dari Seorang Imam Katolik: Kebenaran Itu Tak Akan Pernah Tersekap

“Hasil padi dari dua musim tanam menurun dari tahun ke tahun sementara nilai kontrak sawah tersebut terus meningkat. Kami hanya bisa bertahan dalam situasi ini dan berharap pada musim tanam berikutnya keadaan berubah sebab tidak ada pilihan lain. Sebab kami masih ditolong dari usaha sayur-sayuran untuk mendapatkan uang. Namun kami semua di sini, sering mengalami gagal tanam dan panen sayur-sayuran pada bulan Nopember hingga Februari, karena hujan sangat deras, ” ungkap Kani. Pengalaman buruk yang kami sering hadapi, tutur Kani, terjadi pada bulan Nopember sampai dengan Februari, hujan sangat deras merusak bedeng dan pada saat itu juga suhu udara panas sekali sehingga permukaan tanah yang telah ditanami sayur-sayuran mengeras dan sayur-sayuran tersebut kemudian menjadi layu bahkan mati kepanasan.


Editia Laut, 60 tahun
Dia melanjutkan ceritanya, umumnya, para petani di Golo Ntoung mengalami penurunan hasil padi, sehingga satu kali panen hanya bisa memenuhi kebutuhan beras 1 sampai 2 bulan sebab sebagian dari hasil padi tersebut digunakan untuk biaya sewa lahan untuk musim tanam berikutnya, dan membayar utang. Dalam setahun, sekitar 5 bulan kami harus membeli beras, rata-rata 2 karung per KK/ bulan.


Edita Laut, 60 tahun juga menceritakan bahwa hasil padinya juga terus menurun dari tahun ke tahun. Beruntung dia bersama suaminya menanam sayur-sayuran sehingga masih bisa memperoleh uang untuk beli beras dan biaya kebutuhan rumah tangga yang lain. Namun selama musim hujan kami tidak bisa menanam karena hujan turun dengan derasnya menghancurkan bedeng tanam dan merusak sayur-sayuran yang sedang tumbuh.


Baca juga yang ini; Satu Permenungan : Dipanggil untuk Menjadi ‘Orang Biasa’

Mereka semua mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga khususnya biaya pendidikan dan urusan adat, mereka meminjam uang di koperasi harian bukan koperasi kredit, yang memberi layanan pinjaman dengan durasi pengembalian pinjaman selama 24 hari, selain itu, mereka juga bekerja sebagai buruh tani, dengan upah harian sebesar Rp 40.000.


Terkait pinjaman di koperasi harian tadi, Edita menjelaskan, jika kita meminjam Rp 500.000, koperasi langsung memotong senilai Rp 50.000 sebagai biaya administrasi dan simpanan sehingga kami hanya menerima tunai Rp 450.000.Kewajiban kami kemudian, setiap hari selama 24 hari ke depan membayar cicilan pinjaman, sebesar Rp 25.000, sehingga total pengembalian pinjaman pokok dan bunga, adalah Rp 600.000. Jadi nilai bunga pinjaman, sebesar 20 persen.




Pada akhir pertemuan mereka berharap pemerintah bisa mengatasi persoalan yang mereka hadapi terkait iklim yang sudah berubah sehingga tidak mengalami penurunan hasil atau gagal panen padi dan sayur-sayuran.


Kemudian PPL, tambah Kani, sebaiknya menginformasikan tentang waktu tanam yang tepat mengacu kepada situasi iklim yang telah berubah, sehingga petani tidak menanam secara spekulasi atau mereka-reka, sebab selama ini musim tanam padi untuk periode kedua tidak bisa ditentukan dengan pasti karena hujan tidak teratur sehingga musim tanam dijadwalkan di antara bulan Nopember dan Februari


Penulis; Rikhardus Roden Urut










Posting Komentar

0 Komentar